
Hujan yang mengguyur kawasan Lembah Anai, Sumatra Barat pada hari Minggu sore (7/12) tidak menghalangi langkah para relawan dan petugas. Di bawah kabut yang semakin tebal di punggung bukit barisan, tangan-tangan cepat terus bekerja sejak pagi hingga sore hari.
Sejak banjir bandang dan longsor yang dikenal masyarakat setempat sebagai galodo melanda jalan nasional pada Kamis (27/11), akses warga dari arah Kota Padang menjadi terputus total. Sudah sepuluh hari ini jalan penghubung antara Kota Padang dengan Padang Panjang, Bukittinggi, serta kota-kota luar provinsi seperti Pekanbaru di Riau dan Medan di Sumatera Utara tidak bisa dilalui.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Saat tim tiba di lokasi, puluhan pekerja terlihat sibuk. Sementara alat berat berjuang mengangkat material batu, pasir, dan tanah yang menutupi badan jalan. Salah satu pekerja bernama Roni mengatakan bahwa tim saat ini fokus memperbaiki kerusakan jalan yang terputus, khususnya di kilometer 63 hingga 62.
“Kami berusaha yang terbaik agar akses jalan bisa segera pulih,” ujar Roni kepada tim saat itu.
Tantangan dalam Pemulihan Jalan
Pekerjaan Roni bersama para relawan dan tim gabungan dalam pemulihan akses jalan di Lembah Anai tidak mudah. Material batu, pasir, kayu, dan tanah masih menutupi sebagian jalan. Di beberapa titik, jalan ambles ikut terbawa oleh longsoran.
Kondisi lapangan juga menjadi penghalang. Hujan yang sering turun dengan intensitas sedang hingga tinggi membuat pekerjaan lebih berat. Ditambah lagi, para pekerja harus waspada dengan potensi longsor dari tebing di sepanjang pinggir jalan.
Bagi Roni, prioritas utama adalah membuka kembali akses bagi kendaraan roda empat, baik dari arah Padang menuju Padang Panjang maupun sebaliknya. Ia berharap masyarakat bersabar dan tidak memaksakan diri melintas di jalur tersebut selama proses rehabilitasi.
“Kami dari kontraktor meminta masyarakat yang menggunakan roda dua untuk bersabar melintasi jalur ini. Agar target cepat tercapai dan akses bisa segera dipulihkan,” ujar Roni lagi.
Perjalanan yang Berat
Di tengah pekerjaan yang berpacu dengan waktu, banyak warga yang tak bisa menunggu. Di sisi kiri kawasan terdampak, terlihat antrean panjang pengendara motor yang mencoba melewati jalan sempit yang tersisa.
Para pengendara mencoba menembus jalan yang masih dalam tahap perbaikan. Tak hanya dengan motor, banyak juga yang berjalan kaki. Tak sedikit yang mencoba menembus jalur dengan memikul barang bawaan.
Mereka yang memiliki urusan ke Kota Padang dari arah Padang Panjang atau sebaliknya memilih berjalan kaki sekitar 5 kilometer di sepanjang jalur yang terputus dari arah Lembah Anai menuju jembatan kembar yang menjadi titik terparah dampak galodo untuk bisa melanjutkan perjalanan.
Cara berjalan kaki dipilih untuk memastikan mobilitas antar kota tetap bisa dilakukan. Mereka berhenti di ujung jalan dan melanjutkan dengan menyambung jalan kaki untuk melanjutkan perjalanan dengan kendaraan lain yang sudah menanti di sisi lain jalan.
Pilihan Berjalan Kaki dan Tantangan
Pilihan itu terpaksa ditempuh karena pertimbangan waktu. Tidak ada akses lebih cepat dari Padang Panjang ke Kota Padang selain lewat jalur Lembah Anai yang hanya butuh waktu sekitar 2 jam. Bila harus mengambil jalan lain, mereka harus memutar ke Solok lewat jalur Sitinjau Lauik ke Kota Padang yang membutuhkan waktu 6 hingga 8 jam perjalanan. Itu pun bila tidak terkena macet akibat longsor yang sering terjadi di jalur alternatif itu.
Di satu sisi, pilihan berjalan kaki menembus jalan yang terputus memang menjadi solusi sementara. Namun hal itu justru menjadi tantangan bagi pekerja yang terlibat dalam pemulihan akses jalan.
Menurut Roni, kondisi tersebut justru menghambat distribusi alat dan material yang dibutuhkan timnya untuk bekerja. Ia pun menjelaskan bahwa sudah sepuluh hari sejak 28 November ia bekerja tanpa pulang demi mempercepat pemulihan jalur Lembah Anai. Baginya, yang terpenting kini adalah membuka kembali akses bagi masyarakat.
“Kita sudah nggak mikirin letih lagi,” kata Roni lagi.
Dia menyebut, tim konstruksi mulai bekerja dari jam 8 pagi sampai larut malam. Bahkan, kata dia, dapat bekerja hingga pukul 1 atau 2 dini hari. Hal itu dilakukan agar akses jalan cepat dibuka kembali.
Seperti diketahui, banjir besar disertai longsor menerjang kawasan Mega Mendung di pintu masuk Lembah Anai pada 27 November lalu. Material berupa batu besar hingga batang pohon masih memenuhi kawasan tersebut.
Imbas putusnya jalur Padang ke Padang Panjang, masyarakat dari Padang harus memutar jalan menuju Solok untuk sampai ke Padang Panjang. Estimasi waktu yang seharusnya ditempuh hanya 1,5 jam dari Padang ke Padang Panjang menjadi lebih lama, yakni sekitar tiga jam.