Laporan Padang: Jejak Banjir Bandang dan Duka yang Tak Pernah Sirna

admin.aiotrade 09 Des 2025 4 menit 12x dilihat
Laporan Padang: Jejak Banjir Bandang dan Duka yang Tak Pernah Sirna


Ribuan gelondongan kayu masih menumpuk di sepanjang bibir Pantai Parkit, Kota Padang, Sumatra Barat. Pemandangan ini terlihat pada Senin (8/12), setelah banjir bandang yang melanda kota tersebut pada Kamis (27/11) lalu. Bongkahan-bongkahan kayu menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya kejadian alam tersebut.

Banjir bandang yang berasal dari kawasan hulu menghancurkan berbagai struktur dan membawa material seperti kayu dengan berbagai ukuran. Dari batang kecil hingga gelondongan besar yang berbobot tonan, semuanya terbawa oleh arus air hingga mencapai muara dan menumpuk di sepanjang garis pantai.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut Ismaijun, petugas Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang, saat pertama kali mereka turun membersihkan sisa-sisa banjir, jumlah kayu yang ada jauh lebih banyak dari apa yang terlihat sekarang. “Sepanjang pantai ini, kayu saja isinya,” katanya ketika ditemui usai bekerja di Pantai Parkit.

Hingga Senin itu, air banjir masih mengalir ke muara Pantai Parkit, sehingga warna air pantai berubah menjadi kecoklatan. Padahal, sebelum bencana, pantai ini dikenal dengan air yang biru terang.

Dari laporan yang diterima, banjir bandang disebabkan oleh bukit yang berada di atas Lubuk Minturun, Kota Padang. Perhitungan kasar menggunakan Google Earth menunjukkan bahwa banjir tersebut mampu menyeret gelondongan kayu besar sejauh 18,7 kilometer dari lokasi banjir dan longsor di bukit atas Lubuk Minturun hingga ke bibir Pantai Parkit.

Selain itu, kawasan Gunung Nago juga disebut sebagai salah satu sumber banjir besar di Kota Padang. Curah hujan yang tinggi menyebabkan Sungai Gunung Nago meluap dengan debit air yang sangat besar. Kekuatan banjir tersebut kemudian mengikis dinding sungai hingga melebar dan menghantam sejumlah wilayah di Kota Padang.

Saat ini, Dinas Kehutanan setempat sedang melakukan penelusuran untuk mengetahui asal kayu-kayu gelondongan tersebut. Petugas telah mengambil sampel kulit kayu dari beberapa titik yang disebut menjadi sumber banjir dan longsor.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana per Selasa (9/12), banjir bandang tersebut telah merusak dua ribu rumah, 24 fasilitas umum, 17 fasilitas pendidikan, lima rumah ibadah, dua fasilitas kesehatan, dan tiga gedung. Sebanyak 11 orang dinyatakan meninggal.

Meski banjir bukan hal baru bagi Kota Padang, banjir akhir November ini adalah yang terbesar dalam sejarah. Dalam laporan BNPB tahun sebelumnya, banjir pada 7 Maret 2024 menyebabkan delapan ribu warga terpaksa mengungsi, delapan kecamatan terendam dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter. Banjir itu merusak 110 rumah dan satu fasilitas kesehatan, yakni RSUP Dr. M. Djamil. Namun, tidak ada korban jiwa.

Penanganan Sampah Pasca Banjir Bandang

Pemerintah Kota Padang menyebut total sampah yang terseret banjir bandang mencapai 3.327 ton. Jumlah ini menjadi fokus utama penanganan pemerintah, dengan target pembersihan tuntas dalam waktu sembilan hari.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang, Fitra Masta menjelaskan, tumpukan sampah tersebut terdiri dari akumulasi backlog lima hari, serta sampah spesifik bencana dari permukiman terdampak dan gelondongan kayu dalam jumlah besar yang terbawa dari hulu sungai.

Bagian terbesar beban sampah pascabencana adalah kayu gelondongan, yang diperkirakan mencapai 1.100 ton. Namun, Fitra memastikan bahwa volume kayu yang harus benar-benar diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) tidak sampai setengahnya.

Menurutnya, masyarakat di kawasan pesisir aktif memungut dan memanfaatkan kayu tersebut, termasuk pelaku usaha kecil yang menggunakannya sebagai bahan bakar produksi. Pihaknya berupaya agar tidak semua kayu masuk ke TPA. Selain dimanfaatkan masyarakat, sebagian besar akan disalurkan ke PT Semen Padang sebagai bahan bakar alternatif.

Cerita Petugas DLH Bersihkan Sisa Gelondongan Kayu

Sudah sembilan hari para petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang bekerja membersihkan kayu-kayu di pantai Padang. Namun tumpukannya masih terhitung banyak. Di bawah terik matahari siang, belasan petugas tampak bolak-balik mengangkat batang-batang besar ke bak belakang truk pengangkut sampah.

Salah satu petugas DLH, Ismaijun, mengatakan bahwa ia tidak tahu kapan pastinya pekerjaan mereka membersihkan kayu ini akan selesai, karena jumlahnya sangat banyak. “Pertama kali kami turun, jumlahnya jauh lebih banyak dari ini. Sepanjang pantai ini, kayu saja isinya,” katanya ketika ditemui usai membersihkan sisa gelondongan kayu di Pantai Parkit, Sumatera Barat pada Senin (8/12).

Dia bercerita, mereka bekerja sejak pukul delapan pagi hingga menjelang senja. Pola kerja pun dibuat bergantian, karena menggotong kayu seberat itu memakan tenaga besar. Bahkan, dia mengatakan ada petugas DLH yang jatuh pingsan karena kelelahan mengangkat kayu gelondongan. Meski begitu, ia mengatakan timnya tetap berusaha menyelesaikan tugas.

“Kita tetap berjuang untuk membersihkan pantai ini,” ujarnya. Ismaijun menduga gelondongan tersebut berasal dari kawasan Bukit Barisan di atas Lubuk Minturun. Banjir besar yang menerjang Kota Padang membawa serta material dari area perbukitan, termasuk kayu-kayu besar lalu menyeretnya hingga ke muara pantai.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan