Laporan: Tentara Israel Hadapi Serangan Bunuh Diri Pasca-Pertempuran

Laporan: Tentara Israel Hadapi Serangan Bunuh Diri Pasca-Pertempuran


Pada tahun 2026, situasi di Israel menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam kasus bunuh diri di kalangan tentara. Laporan dari surat kabar Haaretz menyebutkan bahwa lebih dari 10 tentara telah melakukan tindakan tersebut sejak awal tahun ini. Angka ini menunjukkan tren yang meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, laporan tersebut mencatat bahwa delapan kasus bunuh diri terjadi di tubuh angkatan darat dan tiga lainnya terjadi di antara pasukan cadangan. Para ahli mengatakan bahwa hal ini hanya merupakan permukaan dari krisis yang lebih dalam, yang bermula setelah perang genosida di Jalur Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023.

Tekanan politik yang semakin tinggi terhadap militer dan perang yang berlangsung di beberapa front memberikan dampak serius terhadap mental para tentara. Kondisi ini diperparah dengan perang yang dilancarkan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terhadap Iran, meskipun tujuan utamanya tidak tercapai.

Sejak perang di Gaza dimulai, jumlah kasus masalah kesehatan mental di kalangan tentara Israel meningkat. Pada 2025 saja, tercatat 21 kasus bunuh diri yang fatal dan 279 percobaan bunuh diri yang gagal. Laporan dari pusat penelitian parlemen Israel juga menunjukkan bahwa 78 persen dari semua kasus bunuh diri yang tercatat di Israel pada 2024 terkait dengan personel militer.

Layanan kesehatan mental untuk tentara telah diperluas. Anggaran untuk pengobatan trauma juga meningkat. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan pengobatan alternatif meningkat sekitar 50%.

Maccabi, penyedia layanan kesehatan terbesar kedua di negara itu, melaporkan bahwa 39% personel militer Israel yang berada di bawah perawatannya telah mencari dukungan kesehatan mental. Sementara itu, 26% dari mereka menyuarakan kekhawatiran tentang depresi.

Beberapa organisasi Israel seperti LSM HaGal Sheli, yang menggunakan selancar sebagai teknik terapi, telah menangani ratusan tentara dan pasukan cadangan yang menderita PTSD. Ronen Sidi, seorang psikolog klinis yang memimpin penelitian veteran tempur di Pusat Medis Emek di Israel utara, mengatakan bahwa tentara umumnya menghadapi dua sumber trauma yang berbeda.

Salah satu sumber trauma terkait dengan pengalaman mendalam akan ketakutan dan "takut mati" saat bertugas di Gaza dan Lebanon. Bahkan saat berada di rumah di Israel, banyak dari mereka menyaksikan langsung serangan Hamas di Israel selatan.

Sidi menjelaskan bahwa sumber kedua trauma berasal dari luka moral, atau kerusakan pada hati nurani akibat sesuatu yang mereka lakukan. Banyak keputusan yang diambil dalam hitungan detik saat di medan perang, seperti melukai atau membunuh orang-orang yang tidak bersalah, menjadi beban berat bagi para tentara.

"Banyak keputusan yang diambil di bawah tembakan, kemudian perempuan dan anak-anak terluka dan terbunuh secara tidak sengaja, dan hidup dengan perasaan bahwa Anda telah membunuh orang-orang yang tidak bersalah," ujarnya.

Seorang prajurit cadangan bernama Paul, seorang ayah berusia 28 tahun dengan tiga anak, mengatakan bahwa ia harus meninggalkan pekerjaannya sebagai manajer proyek di sebuah perusahaan global karena "desingan peluru" masih terngiang bahkan setelah kembali ke rumah. Paul, yang menolak menyebutkan nama belakangnya karena alasan privasi, mengatakan bahwa ia bertugas dalam peran tempur di Gaza, Lebanon, dan Suriah. Meskipun pertempuran telah mereda dalam beberapa bulan terakhir, ia mengatakan bahwa ia hidup dalam keadaan siaga terus-menerus.

"Saya hidup seperti itu setiap hari," kata Paul.