
Kebijakan Larangan Roblox dan Pentingnya Kesadaran Keluarga
Kebijakan yang diambil oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk melarang anak-anak bermain game Roblox memicu perdebatan luas di masyarakat. Langkah ini dianggap sebagai upaya perlindungan terhadap anak dari paparan konten digital yang tidak sesuai usia.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dua psikolog dari Sekolah Cikal Lebak Bulus, Rut Eli Hadadsha dan Rahma Dianti, menilai bahwa kebijakan ini bisa menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran keluarga dalam memperhatikan pendampingan dan pemilihan game yang cocok dengan tahap perkembangan anak.
Risiko yang Tersembunyi dalam Roblox
Roblox dikenal sebagai platform game online yang memungkinkan pengguna membuat dan memainkan berbagai permainan buatan komunitas. Meskipun memberi ruang bagi kreativitas, tidak semua konten di dalamnya aman bagi anak-anak.
Beberapa permainan di dalamnya mengandung unsur kekerasan, interaksi sosial yang tidak terpantau, serta risiko penyalahgunaan privasi. Menurut Rut Eli, risiko ini tidak boleh diabaikan. Roblox bukan hanya sekadar satu permainan, melainkan sebuah platform besar yang memiliki ribuan game yang dibuat oleh pengguna.
“Ada potensi konten di dalamnya yang mengandung kekerasan atau materi tidak sesuai usia, sehingga pengawasan orangtua menjadi hal yang sangat penting,” jelasnya.
Kebijakan Pelarangan: Awal yang Baik, Tapi Perlu Diiringi Edukasi
Kebijakan pelarangan Roblox oleh Mendikdasmen Abdul Mu’ti dinilai sebagai langkah awal yang baik untuk melindungi anak-anak dari konten berisiko. Namun, psikolog menilai kebijakan ini perlu diiringi langkah nyata berupa edukasi digital bagi orang tua.
“Larangan terhadap Roblox bisa menjadi langkah awal yang baik untuk melindungi anak, tetapi efektivitasnya bergantung pada sejauh mana orangtua memahami dan memantau aktivitas digital anak-anak mereka,” ujar Rut Eli.
Ia menambahkan, larangan saja tidak cukup tanpa kesadaran keluarga untuk membimbing anak dalam memahami dunia digital secara sehat.
Memilih Game Sesuai Usia
Psikolog Rahma Dianti menjelaskan bahwa tidak semua game cocok untuk semua usia. Setiap fase perkembangan anak memiliki kebutuhan yang berbeda, baik secara kognitif, emosional, maupun sosial.
Untuk usia Sekolah Dasar, permainan edukatif seperti puzzle dan teka-teki dinilai lebih tepat. Sedangkan untuk remaja SMP, game strategi atau permainan kelompok yang melatih empati bisa membantu perkembangan berpikir abstrak.
Adapun untuk usia SMA, permainan simulasi dan kreatif seperti simulation games atau management games dapat melatih pengambilan keputusan serta tanggung jawab.
“Setiap anak berkembang melalui tahapan berbeda. Game yang sesuai usia akan membantu mereka belajar, berinteraksi, dan membangun empati,” ujar Rahma.
Peran Orang Tua dan Literasi Digital
Dua psikolog dari Cikal ini menegaskan bahwa peran orangtua menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan anak dengan dunia digital. Pengawasan, komunikasi terbuka, dan pemahaman terhadap isi game menjadi langkah utama yang harus dilakukan.
Sistem rating seperti ESRB (Entertainment Software Rating Board) dan PEGI (Pan European Game Information) bisa dijadikan acuan dalam menentukan kelayakan permainan bagi anak. Keduanya berfungsi untuk membantu konsumen memilih game yang sesuai, dengan memberikan panduan tentang konten game seperti kekerasan atau bahasa kasar.
Orangtua juga disarankan untuk bermain bersama anak agar dapat memahami pola interaksi dan risiko di baliknya.
“Fitur parental control atau filter konten tidak sepenuhnya menghapus risiko. Kehadiran orangtua dan komunikasi terbuka jauh lebih efektif dalam membentuk kebiasaan digital yang sehat,” kata Rahma.
Mereka juga sepakat bahwa pelarangan Roblox tidak seharusnya dipandang sebagai bentuk pembatasan total, melainkan sebagai pengingat penting bahwa literasi digital keluarga perlu diperkuat.
Langkah ini diharapkan dapat menumbuhkan kebiasaan baru di mana teknologi digunakan sebagai sarana belajar, bukan sekadar hiburan tanpa arah. Larangan ini seharusnya menjadi kesempatan bagi orangtua untuk lebih terlibat dalam aktivitas digital anak.
Dunia game tidak harus dihindari, tetapi diarahkan agar menjadi ruang eksplorasi yang aman dan mendidik.