
Kreativitas di Balik Dinding Lapas: Laskarin Band dan Keberhasilan Mereka
Warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Karangintan Kabupaten Banjar menunjukkan bahwa keterbatasan ruang tidak menghalangi mereka untuk berkarya. Bahkan, semangat berkreasi dan mencapai prestasi terus tumbuh di tengah lingkungan yang biasanya dianggap tertutup dari dunia luar.
Salah satu contohnya adalah Laskarin Band, sebuah grup musik yang dibentuk oleh sejumlah warga binaan. Nama Laskarin Band merupakan singkatan dari "Lapas Narkoba Karang Intan", yang juga menjadi identitas resmi dari grup ini. Musik panting, kesenian tradisional khas Kalimantan Selatan, menjadi pilihan utama mereka dalam berkreasi.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Musik panting dipilih sebagai media pembinaan karena dinilai mampu menjadi sarana ekspresi diri sekaligus menjaga kelestarian budaya. Untuk mendukung pengembangan musik ini, Lapas menyediakan fasilitas seperti alat musik, ruang latihan, dan instruktur yang siap membimbing warga binaan.
Aji, vokalis dari Laskarin Band, menjelaskan bahwa awalnya mereka menghadapi tantangan dalam menciptakan harmoni antara musik tradisional dan modern. Namun, dengan bimbingan instruktur bernama Pak Ferry dan latihan rutin setiap hari, mereka berhasil mengatasi kendala tersebut.
“Kami tentu mengalami kendala saat menjalin kekompakan di awal band ini dibentuk. Tetapi berkat arahan Pak Ferry dan latihan setiap hari, kami bisa melakukannya hingga meraih penghargaan nasional,” ujarnya.
Laskarin Band berhasil meraih Juara II Kategori Inmates Got Talent dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan 2024. Penampilan mereka dinilai unik karena memadukan permainan panting yang enerjik dengan aransemen kreatif karya sendiri tanpa meninggalkan unsur budaya Banjar yang menjadi ciri khas musik panting.
“Aku senang bisa meraih juara, penampilan band kami saat itu juga bisa diakses di youtube PASTV Ditjenpas,” tambah Aji.
Penghargaan yang diperoleh dan keahlian yang didapat dari seni panting ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi Aji dan rekan-rekannya saat kembali beradaptasi di tengah masyarakat.
Program Pembinaan yang Berkelanjutan
Kepala Lapas Narkotika Karang Intan, Yugo Indra Wicaksi, menjelaskan bahwa kegiatan seni seperti pembentukan Laskarin Band merupakan program berkelanjutan. Tujuannya adalah menciptakan suasana pembinaan yang produktif, edukatif, dan berkarakter, sesuai dengan semangat pemasyarakatan dalam membentuk manusia seutuhnya.
Yugo menekankan bahwa pihak Lapas akan terus memberikan dukungan terhadap kreativitas warga binaan, terutama dalam melestarikan musik tradisional panting. Ia juga menyampaikan rencana untuk memperbarui alat musik, seragam, dan masukan agar musik panting lebih modern lagi.
Dengan terus mengembangkan minat dan bakat warga binaan melalui kegiatan yang terstruktur dan berkelanjutan, Lapas Narkotika Karang Intan berharap mampu mencetak pribadi yang lebih percaya diri, kreatif, dan siap berkontribusi positif saat kembali ke masyarakat.