
jabar.aiotrade, BANDUNG - Bagi sebagian orang, jersei hanyalah selembar kain, tetapi bagi mereka yang tumbuh bersama klub kebanggaannya, di situlah tersimpan kisah, kebanggaan, bahkan cinta. Dalam sebuah diskusi bertajuk “Menjahit Sejarah, Merayakan Gairah”, tiga orang dengan minat besar di dunia jersei saling berbagi pengalaman. Mereka adalah Fajar Ramadhan, desainer MILLS; Agung Mutakin, desainer jersei Persib Bandung, dan Nays Muntahar, kolektor jersei sepak bola.
Desain Jersei: Lebih dari Sekadar Kain
Bagi Agung Mutakin, desain jersei bukan hanya permainan warna atau motif. Di setiap lekuk garis dan potongan bahan, ada sejarah yang dijahit dengan hati. “Persib itu tidak akan pernah besar tanpa bobotoh, staf, dan orang-orang di balik layar,” ujarnya dalam diskusi di Kota Bandung.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dalam merancang jersei Persib terbaru bersama brand asal Spanyol, Kelme, Agung menempatkan sejarah dan fungsi sebagai fondasi utama. “Awalnya ada rencana memasukkan elemen Maung, tapi akhirnya dihapus karena terlalu mirip klub di ibu kota. Akhirnya kami pilih desain yang lebih minimalis. Tapi justru, yang minimalis itu lebih mahal,” katanya.
Agung meyakini, jersei bukan sekadar identitas klub, tapi juga penghormatan bagi mereka yang menjaga nama besar Persib di dalam arena pertandingan. Baginya, setiap desain yang dibuat adalah bentuk apresiasi terhadap seluruh komunitas yang mendukung klub.
Perkembangan Industri Jersei di Indonesia
Sementara itu, Fajar Ramadhan datang membawa kisah tentang bagaimana industri jersei di Indonesia tumbuh menjadi sebuah ekosistem. Selama 10 tahun berkarya di dunia desain olahraga, ia melihat langsung perubahan besar. “Kalau dulu desainer jersei bisa dihitung jari, sekarang sudah banyak banget. Bahkan sudah jadi profesi baru,” ujarnya.
Fajar menyebut, perkembangan ini bukan sekadar tren, tapi bentuk pengakuan bahwa karya anak bangsa di bidang olahraga bisa berdiri sejajar dengan brand internasional. “Cita-cita saya sederhana: desainer jersei di Indonesia bisa hidup layak dan dihargai,” katanya.
Setelah satu dekade berkarya, Fajar tak ingin berhenti. “Saya pengin tetap konsisten. Bisa 11 tahun, 12 tahun, dan seterusnya,” ujarnya.
Jersei sebagai Fragmen Sejarah
Di antara para desainer, Nays Muntahar hadir sebagai penjaga memori. Bagi Nays, jersei bukan sekadar benda koleksi, melainkan fragmen sejarah yang menampung nostalgia. “Di rumah sudah ada galeri pribadi. Tapi saya lebih berharap Persib punya museum besar yang bisa dikunjungi banyak orang,” ujarnya.
Nays bercerita tentang rencananya membantu klub jika nanti museum resmi Persib benar-benar berdiri. “Saya sudah janji, kalau museumnya jadi, saya akan bantu isi dengan koleksi pribadi,” tuturnya.
Hubungannya dengan klub bukan hanya sebatas penggemar. Dalam setiap kegiatan Persib, Nays kerap terlibat langsung, seperti tur trofi enam kota beberapa waktu lalu. “Tim kolektor Persib juga ikut mengisi acara itu. Jadi kami memang selalu siap bantu kalau dibutuhkan,” ujarnya.
Jersei: Bentuk Penghormatan, Ekspresi, dan Arsip Budaya
Bagi klub, jersei adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah. Bagi desainer, jersei menjadi kanvas ekspresi, sedangkan bagi kolektor, jersei merupakan arsip budaya dan cinta yang tak lekang oleh waktu. Setiap jersei yang dipakai atau dikoleksi memiliki makna yang mendalam, baik itu untuk individu maupun komunitas.
Jersei bukan hanya seragam, tapi simbol perjuangan, kebanggaan, dan kecintaan yang terus berlanjut dari generasi ke generasi. Dengan begitu, setiap desain dan koleksi jersei menjadi bagian dari narasi yang tak tergantikan.