
Ledakan di Masjid Sekolah Mengguncang Jakarta Utara
Pada hari Jumat, 7 November 2025 sekitar pukul 12.15 WIB, sebuah ledakan terjadi di dalam masjid yang berada di lingkungan SMA Negeri 72 Jakarta (SMAN 72) Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kejadian ini terjadi usai pelaksanaan khotbah Jumat dan menjelang iqomah, sehingga mengakibatkan puluhan siswa dan guru mengalami luka ringan hingga sedang.
Berdasarkan informasi dari sejumlah saksi mata, ledakan diduga berasal dari bom rakitan atau bom molotov yang dibawa oleh seorang siswa terduga korban perundungan. Insiden ini menimbulkan kekacauan di area sekolah dan membuat banyak orang panik.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kronologi Singkat
Kegiatan ibadah Jumat di masjid berjalan normal hingga khotbah selesai. Saat jamaah masih berada di dalam masjid, tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dari belakang musala sekolah. Salah satu siswa, Sela (kelas XI), menyampaikan bahwa “Saya menduga siswa ini ingin balas dendam dan bunuh diri. Tadi saya lihat ada tiga jenis bom dan hanya dua yang meledak.”
Seorang guru, Toto, yang berada di belakang imam saat kejadian mengungkapkan bahwa “Semua bubar dan sejumlah siswa terluka.” Saksi lainnya menyebutkan bahwa jumlah korban luka mencapai sekitar 54 orang. Ledakan tersebut memicu kepanikan di sekitar lokasi kejadian.
Dugaan Pelaku & Motif
Menurut keterangan dari siswa dan guru, pelaku berinisial F (dalam beberapa laporan disebut Fadel Nazril) adalah seorang siswa kelas XII yang dikenal sebagai sosok pendiam. Ia sering menjadi target bullying di sekolah dan kerap terlihat mengenakan jas putih sendirian. Seorang siswa menyatakan bahwa “korban dibully di sekolah, dia selalu sendiri ke mana-mana.”
Motif yang muncul dari sejumlah saksi adalah balas dendam terhadap pelaku bullying atau keinginan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. “Saya menduga siswa ini ingin balas dendam dan bunuh diri,” kata Sela. Meski demikian, pihak aparat hingga kini belum secara resmi menyatakan bahwa bullying adalah motif utama, dan penyelidikan masih terus berlangsung.
Bukti dan Penanganan di TKP
Petugas gabungan dari Kepolisian Daerah Metro Jaya dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) melakukan olah tempat kejadian perkara dan menyisir area lokasi. Ditemukan tiga jenis bom rakitan di lokasi, namun hanya dua yang meledak. Selain itu, ditemukan juga senjata mainan yang sempat dikira senjata sungguhan.
Wakil Menko Polhukam Lodewijk F. Paulus menyatakan bahwa “senjata yang ditemukan di lokasi ledakan hanyalah senjata mainan.” Hal ini memberikan sedikit rasa lega bagi masyarakat, meskipun situasi tetap memerlukan penanganan yang cepat dan hati-hati.