Perjalanan Spiritual dalam Lagenda XIX dan Batawaraga ke-3
Lebih dari seratus salik atau pengamal tarekat mengikuti Lagenda XIX dan Batawaraga ke-3 yang digelar oleh Majelis Al Maarijul Wathon AsySyadziliyah di Cottage Mambruk, Anyer, Kabupaten Serang, mulai 23 hingga 26 Oktober 2025. Kegiatan ini dipimpin oleh K.H. Hudi Nurhudiyat, Mursyid Tarekat AsySyadziliyah sekaligus Pengasuh Majelis Al Maarijul Wathon AsySyadziliyah.
Lagenda bukan sekadar pengajian rutin. Ini adalah perjalanan spiritual mendalam untuk menumbuhkan kesadaran batin, memperkuat keteguhan jiwa, dan membangun imunitas ruhani berbasis cahaya Al-Quran. Selama sembilan tahun terakhir, Lagenda diselenggarakan secara konsisten setiap enam bulan sekali. Formatnya memadukan safar ruhani dengan metode pengajian outdoor, menjadikan kegiatan ini unik dan inspiratif bagi para salik dari berbagai daerah.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Lagenda ini bukan sekadar belajar makrifat. Ini salah satu jalan menuju hakikat sehingga seorang salik akan benar-benar mengenal Tuhannya, ujar K.H. Hudi saat membuka kegiatan di tepi Pantai Mambruk, Anyer-Serang, Minggu (26/10/2025).
Tahun ini, kegiatan mengusung tema Cahaya Intan yang Menerangi Setiap Langkah, Membawa Keberkahan dan Kesuksesan untuk Kesejahteraan Hidup dan Kemakmuran yang Berkelanjutan. Dalam sesi ke-enam pengajian, K.H. Hudi menjelaskan tiga pilar utama dalam perjalanan batin seorang salik, yakni syariat, tarekat, dan makrifat, yang berpuncak pada hakikat.
Capaian tertinggi adalah hakikat, ketika seorang salik mengenal Allah secara hakiki, bukan sekadar makrifat. Makrifat itu kelanjutan dari tarekat, jelasnya. Menurutnya, tarekat merupakan jalan praktis untuk memperkuat syariat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Buah dari perjalanan tersebut adalah ketenangan batin, keimanan yang kokoh, dan kedamaian jiwa. Karena itu, seorang salik harus tekun dan sungguh-sungguh menjalankan amaliyah tarekat.
Tarekat itu melatih kita mengendalikan hawa nafsu, membersihkan hati, dan menumbuhkan semangat hidup. Kalau belum sampai pada ketenangan, nilainya baru enam. Dan kalau tidak sungguh-sungguh, nilainya bisa turun lagi, tuturnya.
Dua Perwujudan Nyata Tarekat
Lebih lanjut, sang mursyid menjelaskan bahwa tarekat bukan hanya konsep, tetapi memiliki perwujudan nyata. Perwujudan pertama tampak dalam amaliyah dan bimbingan spiritual langsung, seperti zikir, wirid, baiat, ijazah amalan, hingga nasihat khusus dari mursyid.
Dari bimbingan itu, jiwa akan dibersihkan hingga memancarkan aura karismatik, ujarnya. Perwujudan kedua tampak dari perubahan akhlak dan sikap para salik.
Akhlak mulia, keseimbangan dunia-akhirat, serta kebiasaan berzikir dan beribadah sesuai syariat adalah bagian dari perwujudan tarekat. Tasawuf tidak boleh melanggar syariat, tegasnya. Selain itu, salik juga didorong untuk aktif dalam kehidupan sosial, seperti membantu masyarakat, menjaga harmoni lingkungan, dan berkontribusi pada kemaslahatan umat.
Takhali, Tahali, dan Tajalli: Tiga Tahapan Menuju Cahaya Ilahi
Dalam penjelasan berikutnya, K.H. Hudi menguraikan tiga tahap penting dalam proses penyucian jiwa, yaitu Takhali, Tahali, dan Tajalli. Menurutnya, takhali adalah proses mengosongkan hati dari sifat buruk; tahali mengisinya dengan sifat-sifat baik; dan tajalli merupakan puncak penyinaran Ilahi dalam hati manusia.
Tajalli itu ketika kita merasa tidak ada apa-apanya di hadapan Allah. Kalau masih ada perasaan aku, walau sebutir, itu belum tajalli, tegasnya. Ia menambahkan, setiap tarekat memiliki corak dan metode yang berbeda, namun seluruhnya bermuara pada satu tujuan yang sama: pembersihan hati dan kedekatan dengan Allah SWT.
Yang kami sampaikan ini bersumber dari kitab-kitab tasawuf klasik. Pelaksanaannya mungkin berbeda antar-tarekat, tapi substansinya sama, untuk membersihkan diri dari sifat-sifat buruk, tutupnya.