
jabar.aiotrade
DEPOK – Sebuah rekaman kamera pengawas (CCTV) yang viral di media sosial menunjukkan seorang asisten rumah tangga (ART) dengan inisial R melakukan tindakan kekerasan terhadap anak majikannya. Peristiwa ini terjadi di Kecamatan Bojongsari, Kota Depok.
Dalam video yang beredar, terlihat ART tersebut sedang bersama dua anak. Salah satu dari balita itu tampak menangis di dekat sofa ruang tamu. Tiba-tiba, ART tersebut mencubit anak tersebut hingga semakin menangis.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Sementara itu, balita lainnya terlihat sedang berdiri dan mengacak-acak buku. Tanpa ragu, ART tersebut langsung mencubit, memukul, dan menampar kepala anak tersebut hingga menangis keras.
Humas Polres Metro Depok, AKP Made Budi, menjelaskan bahwa kejadian ini terjadi pada hari Sabtu (27/9). Menurut informasi dari orang tua korban, R telah mengakui perbuatannya. Ia mengaku melakukan tindakan tersebut karena merasa lelah.
“ART berinisial R mengakui perbuatan tersebut. Dia mengaku melakukannya dengan kesadaran sendiri, dengan alasan karena kecapean,” ujarnya.
“Berdasarkan keterangan ibu korban, R (pelaku) tidak merasa bersalah atas perbuatannya,” tambahnya.
Made juga menyampaikan bahwa video yang beredar di media sosial hanya sebagian dari kekerasan yang dilakukan oleh R.
“Menurut ibu korban, anak pertamanya menangis karena dijedotkan di pintu,” jelasnya.
Ibu korban juga mengatakan bahwa selama 24 jam penuh, ia tidak pernah meninggalkan anaknya bersama ART.
Penyebab Kekerasan yang Diungkap
Dari hasil penyelidikan awal, ditemukan bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan oleh R disebabkan oleh rasa lelah dan stres. Meski begitu, tindakan tersebut tetap dianggap tidak dapat dibenarkan.
Beberapa hal yang mungkin menjadi faktor pemicu kelelahan dan stres antara lain:
- Tuntutan kerja yang tinggi – sebagai ART, R harus menjaga anak-anak secara terus-menerus tanpa ada waktu istirahat yang cukup.
- Kurangnya komunikasi dengan majikan – jika ada masalah atau tekanan, R mungkin tidak memiliki saluran untuk menyampaikan keluhannya.
- Tidak adanya dukungan psikologis – kondisi mental dan emosional R mungkin tidak diperhatikan, sehingga membuatnya mudah marah dan tidak bisa mengontrol diri.
Dampak Terhadap Anak
Anak-anak yang menjadi korban kekerasan memiliki dampak jangka panjang, baik secara fisik maupun psikologis. Beberapa efek yang mungkin muncul antara lain:
- Luka fisik – seperti luka lebam, luka memar, atau cedera akibat dipukul atau ditendang.
- Trauma psikologis – anak mungkin mengalami ketakutan, kecemasan, atau bahkan gangguan kecemasan.
- Perubahan perilaku – anak mungkin menjadi lebih agresif, takut, atau sulit berinteraksi dengan orang lain.
Langkah yang Dilakukan Pihak Berwajib
Polisi telah memanggil orang tua korban dan pelaku untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Selain itu, pihak berwajib juga akan mengevaluasi situasi kerja ART agar tidak terulang kembali.
Beberapa langkah yang mungkin dilakukan antara lain:
- Penanganan hukum – jika terbukti melakukan kekerasan, R bisa dikenakan sanksi sesuai undang-undang.
- Edukasi kepada ART – memberikan pemahaman tentang hak-hak pekerja dan cara mengelola stres.
- Peningkatan pengawasan – memastikan bahwa setiap ART bekerja dalam lingkungan yang aman dan nyaman.
Kesimpulan
Peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh ART terhadap anak majikannya menunjukkan pentingnya perlindungan terhadap anak dan kesejahteraan para pekerja rumah tangga. Masyarakat dan pihak berwajib perlu bekerja sama untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.