Lembaga Adat Mamuju Gelar Massossor Manurung, Pelestarian Benda Pusaka

admin.aiotrade 26 Okt 2025 3 menit 9x dilihat
Lembaga Adat Mamuju Gelar Massossor Manurung, Pelestarian Benda Pusaka
Lembaga Adat Mamuju Gelar Massossor Manurung, Pelestarian Benda Pusaka

Peran Budaya dalam Pembangunan Daerah

Massossor Manurung, sebuah tradisi adat yang diadakan oleh Lembaga Adat Kerajaan Mamuju, menjadi momen penting dalam pelestarian budaya lokal. Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat, termasuk Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sulawesi Barat, Sunusi. Acara tersebut digelar di Rumah Adat Mamuju dan menjadi bagian dari kegiatan tahunan yang memperkuat identitas budaya daerah.

Tradisi Massossor Manurung tidak hanya sekadar ritual pembersihan benda pusaka, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Dalam upacara ini, masyarakat Mamuju menggambarkan nilai-nilai moral dan spiritual yang menjadi pedoman hidup mereka. Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, menjelaskan bahwa tradisi ini adalah bentuk introspeksi diri dan evaluasi terhadap pelaksanaan pembangunan, pemerintahan, maupun kegiatan sosial di setiap masa.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Massossor Manurung ini bukan hanya pembersihan benda pusaka, tapi juga pembersihan diri dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pembangunan, pemerintahan, maupun sosial di setiap masa, ujar Gubernur Suhardi Duka. Ia menekankan bahwa tradisi seperti ini perlu dipertahankan sebagai bentuk pelestarian budaya dan penghargaan terhadap warisan leluhur.

Budaya sebagai Identitas dan Potensi Ekonomi

Budaya, menurut Gubernur, merupakan penuntun bagi masyarakat dalam membangun jati diri dan kepribadian. Bahasa Mamuju, misalnya, menjadi bagian dari identitas yang harus dilestarikan. Jika ada orang Mamuju yang tidak tahu bahasa Mamuju, itu artinya tercabut dari akar budayanya. Maka mari belajar bahasa, Mamuju, pesannya.

Selain itu, Gubernur menilai bahwa budaya bisa dikembangkan menjadi potensi ekonomi melalui pariwisata budaya. Contohnya Bali, yang sukses menggabungkan nilai spiritual dengan ekonomi melalui kegiatan budaya. Ia berharap tradisi Massossor Manurung dapat dikemas menjadi atraksi wisata yang menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara.

Kalau orang asing mendengar bahwa keris ini dilahirkan, pasti mereka penasaran dan ingin tahu bagaimana keyakinan itu terbentuk. Ini daya tarik budaya yang luar biasa jika dikemas dengan baik, tambahnya.

Kolaborasi dalam Pelestarian Budaya

Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada Yang Mulia Raja Mamuju dan seluruh Lembaga Adat Kerajaan Mamuju yang telah bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam menjaga nilai-nilai budaya serta menciptakan harmoni sosial. Ia menegaskan bahwa kesuksesan pembangunan tidak bisa dicapai sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi dan semangat bersama.

Saya percaya, tidak ada pemimpin yang bisa sukses sendiri. Semua butuh kerja sama, kolaborasi, dan semangat yang sama untuk membangun kesejahteraan, ujarnya.

Plt. Kepala Badan Kesbangpol Sulbar, Sunusi, menjelaskan bahwa partisipasi Kesbangpol dalam kegiatan adat seperti Massossor Manurung merupakan bagian dari tugas dan fungsi utama lembaga. Fokus utamanya adalah pada pembinaan, fasilitasi, dan pengawasan kegiatan untuk memperkuat ketahanan sosial-budaya di daerah.

Pentingnya Regenerasi dan Edukasi Budaya

Sunusi menekankan pentingnya regenerasi dan edukasi agar nilai-nilai yang terkandung dalam adat ini dapat diteruskan kepada generasi muda. Pihaknya akan terus berkoordinasi dengan lembaga adat, tokoh masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan (Ormas) budaya untuk memastikan pelestarian adat ini berjalan optimal.

Upaya ini adalah perwujudan dari fungsi Kesbangpol dalam memfasilitasi hubungan baik dengan unsur kemasyarakatan, tambahnya.



Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan