
Festival Budaya Palembang 2025 Resmi Dibuka
Festival Budaya Palembang 2025 resmi dibuka oleh Dinas Kebudayaan Kota Palembang. Acara tahunan yang memasuki tahun kelima ini digelar selama dua hari, 1–2 Oktober 2025, di Gedung Kesenian Palembang, Jalan Rumah Bari. Festival ini menjadi upaya pelestarian dan kebanggaan terhadap kesenian tradisional khas Palembang.
Berbagai Lomba yang Diselenggarakan
Festival ini menyelenggarakan tiga jenis lomba utama, yaitu:
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
-
Dendang Syair
Untuk lomba Dendang Syair, naskah yang dibawakan diambil dari syair legendaris Perang Menteng dan Syair Burung Nuri, diiringi irama khas seperti Selendang Delima, Hiasan, dan Nenggung Mato. -
Syarofal Annam
Lomba ini mengajak peserta untuk menampilkan kesenian yang berasal dari masyarakat setempat, dengan ciri khas tarian dan musik tradisional. -
Rodat
Rodat adalah salah satu bentuk kesenian yang unik dan khas Palembang, yang sering dipertunjukkan dalam berbagai acara budaya.
Tujuan dan Strategi Festival
Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Septa Marus, mengatakan festival ini adalah bagian dari strategi program “Palembang Belagak” untuk mendukung visi “Palembang Berdaya, Palembang Sejahtera.” Ia menjelaskan bahwa tujuan dari festival ini adalah untuk mengajak masyarakat lebih mencintai budaya Palembang lewat pelibatan aktif dalam perlombaan. Peserta tidak hanya dari kalangan pelaku seni, tetapi juga masyarakat umum yang mewakili 18 kecamatan se-Kota Palembang.
Penilaian dan Edukasi
Untuk menjamin kualitas dan sebagai bentuk edukasi, panitia menyiapkan dewan juri independen, termasuk budayawan Vebri Al Lintani, yang tidak hanya menilai, tetapi juga memberikan coaching clinic kepada peserta. Hal ini bertujuan agar peserta dapat meningkatkan kemampuan mereka dan memahami nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap pertunjukan.
Harapan dari Pejabat
Staf Ahli Walikota Bidang Keuangan, Pendapatan, Hukum & HAM, Edison, yang meresmikan pembukaan, berharap festival ini menjadi media edukasi budaya bagi generasi muda. Ia menegaskan bahwa bukan hanya soal siapa juara, tetapi bagaimana anak-anak muda kita bangga dengan warisan budayanya sendiri.
Ia juga mendorong agar unsur budaya lokal, seperti Syarofal Annam dan Tari Tepak Sirih, lebih sering dihadirkan dalam kegiatan masyarakat dan pemerintahan agar budaya Palembang kembali berjaya di tanah kelahirannya.