Libur Sekolah Bukan Akhir Belajar, Dokter Anak: Banyak Hal yang Bisa Dipelajari

admin.aiotrade 16 Des 2025 3 menit 13x dilihat
Libur Sekolah Bukan Akhir Belajar, Dokter Anak: Banyak Hal yang Bisa Dipelajari
Libur Sekolah Bukan Akhir Belajar, Dokter Anak: Banyak Hal yang Bisa Dipelajari

Pentingnya Pendidikan Informal Selama Libur Sekolah

Libur sekolah sering kali menjadi perhatian khusus bagi orang tua, terutama karena khawatir anak kehilangan ritme belajar. Namun, menurut Dr. dr. Hesti Lestari, Sp.A, Subsp. TKPS(K), anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), proses pendidikan anak tidak hanya berlangsung di bangku sekolah.

Pendidikan informal yang dilakukan di lingkungan keluarga juga memiliki peran penting dalam pengembangan anak. Masa libur justru menjadi momen yang tepat untuk memperkenalkan berbagai keterampilan hidup yang tidak selalu didapatkan secara optimal di sekolah.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Selama libur, anak bisa belajar banyak hal, misalnya membantu membereskan tempat tidur, menyapu, atau membersihkan rumah. Itu semua adalah bagian dari pendidikan informal yang sangat penting,” ujar dokter Hesti secara virtual.

Ia menekankan bahwa orang tua tidak perlu khawatir anak akan kehilangan kesempatan belajar selama libur, asalkan tetap memberikan contoh dan melibatkan anak dalam aktivitas sehari-hari.

“Anak belajar dengan meniru, jadi ketika orang tua memberi contoh, anak akan mendapatkan pembelajaran yang justru melengkapi apa yang sudah ia peroleh di sekolah,” jelasnya.

Pendidikan Usia Dini dan Playgroup

Dalam webinar bertajuk “Kapan dan Usia Berapa Sebaiknya Anak Mulai Sekolah”, dokter Hesti menjelaskan bahwa usia bukan satu-satunya faktor penentu kesiapan anak mengikuti pendidikan usia dini (PAUD).

Secara umum, PAUD dimulai sekitar usia 4 tahun. Namun, anak usia 3,5 tahun bisa saja mengikuti playgroup, selama kita melihat kesiapan anaknya.

Menurutnya, alasan utama anak mengikuti playgroup adalah untuk mendapatkan pengalaman bersosialisasi, bukan untuk mengejar kemampuan akademik seperti membaca atau menulis. Oleh karena itu, konsep bermain harus tetap menjadi fokus utama.

“Namanya playgroup, artinya kelompok bermain. Kalau di playgroup anak dituntut belajar membaca, itu tidak tepat, yang utama adalah bermain dan bersosialisasi sesuai usia,” tegasnya.

Stimulasi di Rumah dan Lingkungan Sekolah

Dokter Hesti menambahkan bahwa stimulasi anak sebenarnya tidak harus selalu dilakukan di lembaga pendidikan. Orang tua juga dapat memberikan stimulasi yang kaya dan sesuai usia di rumah. Namun, jika anak menunjukkan antusiasme untuk bersosialisasi dan lingkungan playgroup mampu memberikan stimulasi yang sesuai, maka tidak ada salahnya anak mengikuti playgroup lebih dini.

Selain playgroup, ia juga menyinggung soal penitipan anak bagi orang tua yang bekerja. Menurutnya, orang tua perlu memastikan bahwa tempat penitipan anak memperhatikan aspek nutrisi, kebersihan, serta pencegahan penyakit, mengingat anak berada di lingkungan bersama banyak anak lainnya.

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Dokter Hesti juga turut menjelaskan penanganan dan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, khususnya anak dengan spektrum autisme. Ia menekankan pentingnya deteksi dan intervensi dini.

“Autisme sebaiknya dideteksi sedini mungkin, bahkan sejak usia sekitar 2 tahun, karena semakin dini intervensi dilakukan, hasilnya akan semakin baik,” jelasnya.

Ketika anak dengan autisme telah memasuki usia sekolah, keputusan untuk memasukkan anak ke sekolah umum atau sekolah khusus bergantung pada kemampuan anak. Anak dengan kemampuan fokus dan duduk yang cukup dapat mengikuti sekolah inklusif, terkadang dengan bantuan shadow teacher atau pendamping.

“Kalau kemampuannya belum mencukupi, misalnya pada anak dengan kondisi lebih berat atau terapi yang tidak rutin, maka anak bisa bersekolah di sekolah luar biasa (SLB),” ujarnya.

Namun demikian, dokter Hesti menegaskan bahwa pada usia sekolah, anak berkebutuhan khusus tidak cukup hanya menjalani terapi saja.

“Baik di sekolah inklusif maupun eksklusif, anak tetap membutuhkan stimulasi dari lingkungan sekolah. Terapi dan pendidikan harus berjalan beriringan,” kata dia.


Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan