Lihat rekomendasi saham BUMA Internasional Grup (DOID) meski kinerja mengecewakan

admin.aiotrade 06 Des 2025 3 menit 15x dilihat
Lihat rekomendasi saham BUMA Internasional Grup (DOID) meski kinerja mengecewakan


aiotrade.CO.ID - JAKARTA
Pemulihan kinerja keuangan PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) masih menghadapi tantangan, meskipun ada indikasi peningkatan di beberapa aspek. Perusahaan jasa pertambangan ini mencatatkan kinerja negatif hingga kuartal III-2025, dengan pendapatan yang turun 16% year on year (yoy) menjadi US$ 1,13 miliar per kuartal. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan volume bisnis kontraktor tambang akibat gangguan pada kuartal I-2025.

Kinerja Keuangan yang Masih Mengkhawatirkan

Average Selling Price (ASP) DOID tetap stabil dengan sedikit penurunan sebesar 1% yoy. Hal ini terjadi karena adanya porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi, sehingga membantu meredam pelemahan harga batubara. Meskipun demikian, DOID masih mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 81 juta per kuartal III-2025, atau naik 376% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Penyebab utama kerugian ini adalah EBITDA yang lebih rendah dan pencadangan piutang untuk operasional Australia. Namun, hal ini sebagian diimbangi oleh keuntungan nilai wajar dari 29Metals, beban bunga yang lebih rendah, manfaat pajak, serta pergerakan kurs mata uang yang menguntungkan.

Investasi dan Pengeluaran Modal

Realisasi capital expenditure (capex) DOID mencapai US$ 149 juta per kuartal III-2025, tumbuh 12% yoy. Dari jumlah tersebut, 54% dialokasikan untuk mempertahankan keandalan dan kesiapan armada, sementara 46% digunakan untuk mendukung pertumbuhan melalui peningkatan kapasitas di sejumlah site utama di Indonesia.

Secara kuartalan, kinerja keuangan DOID menunjukkan pertumbuhan positif. Pendapatan meningkat 6% quarter on quarter (qoq) menjadi US$ 400 juta pada kuartal III-2025. Rugi bersih juga turun menjadi US$ 1 juta, didukung oleh peningkatan EBITDA dan keuntungan nilai wajar dari investasi di 29Metals.

Pernyataan Direksi dan Analisis Pasar

Iwan Fuad Salim, Direktur BUMA International Group, menyatakan bahwa kinerja kuartal ketiga menunjukkan pemulihan yang semakin menguat. Jam kerja efektif yang lebih tinggi, siklus waktu yang lebih singkat, dan pengendalian biaya yang lebih ketat memberikan hasil berupa volume yang lebih baik, biaya per unit yang lebih rendah, serta EBITDA yang lebih kuat.

“Memasuki akhir tahun, fokus kami tetap pada mempertahankan capaian perbaikan ini, menjaga margin, dan memperkuat keunggulan operasional di seluruh bisnis,” ujar dia dalam keterbukaan informasi pekan lalu.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyampaikan bahwa hingga akhir 2025, kinerja DOID diperkirakan masih tertahan akibat belum pulihnya produksi batubara nasional. Namun, prospek pada 2026 diyakini akan tumbuh lebih baik jika harga batubara stabil di kisaran US$ 100–US$ 120 per ton dan volume overburden removal (OR) kembali naik.

Strategi dan Peluang Masa Depan

Menurut Wafi, peluang balik profit tetap ada, tetapi sangat bergantung pada pemulihan volume kontrak dan disiplin biaya. Oleh karena itu, DOID perlu aktif melakukan efisiensi biaya produksi, renegosiasi tarif dengan klien, mengontrol biaya bahan bakar, dan menjaga utilisasi alat berat tambang. Kontrak jasa tambang dengan margin solid dipercaya dapat menstabilkan pendapatan DOID.

Wafi juga menyoroti rencana DOID untuk menerbitkan surat utang global senilai US$ 500 juta atau setara Rp 8,31 triliun di Bursa Efek Singapura. Dari jumlah tersebut, sekitar US$ 223 juta akan digunakan untuk melunasi utang yang jatuh tempo pada 2026, termasuk pinjaman bank sebesar US$ 105 juta, obligasi dan sukuk dalam demonisasi rupiah sebesar US$ 75 juta, serta fasilitas sewa guna usaha sebesar US$ 44 juta.

Selain itu, dana sekitar US$ 150 juta akan digunakan untuk mendanai sebagian kebutuhan belanja modal atau capex dan modal kerja DOID. Menurut Wafi, obligasi ini bisa menjadi stimulus jangka pendek untuk memperkuat capex dan menjaga arus kas ketika menggarap proyek besar. Namun, konsekuensinya adalah kenaikan leverage dan biaya utang, serta tekanan ke neraca keuangan yang harus diawasi.

“Kalau obligasi dipakai untuk proyek dengan rate bagus dampaknya positif. Tapi kalau tidak, itu justru memperberat beban liabilitas,” ungkap dia.

Lantas, Wafi merekomendasikan beli saham DOID dengan target harga di level Rp 420 per saham.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan