
aiotrade.CO.ID – JAKARTA.
Peta persaingan bisnis di industri telekomunikasi diproyeksikan semakin ketat. Persaingan harga dan upaya meningkatkan rata-rata pendapatan per pengguna atau Average Revenue Per User (ARPU) akan terus menjadi isu utama dalam lanskap bisnis telekomunikasi ke depan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Abida Massi Armand, Analis BRI Danareksa Sekuritas menyampaikan bahwa prospek sektor telekomunikasi pada awal tahun depan cenderung positif dengan momentum pemulihan harga dan monetisasi jaringan. Hal ini terutama setelah konsolidasi operator besar yang telah berlangsung.
Salah satu contohnya adalah PT Indosat Tbk (ISAT), yang mulai memasuki fase price repair yang kuat dengan kenaikan yield signifikan pada paket IM3 dan Hutch. Selain itu, PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) juga memasuki fase pasca-integrasi jaringan yang meningkatkan kapasitas dan kualitas layanan. Ini membuka peluang pertumbuhan monetisasi dan EBITDA dua digit pada 2026–2027.
Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) akan mendapat katalis valuasi dari spin-off aset fiber dan rencana masuknya strategic partner pada 2026. Menurut Abida, secara keseluruhan, sektor ini memasuki awal tahun dengan fondasi monetisasi yang lebih baik dan kondisi kompetisi yang lebih rasional.
Namun, Muhammad Thoriq Fadilla, Research Analyst Bumiputera Sekuritas melihat adanya probabilitas bahwa beberapa perusahaan tetap akan menghadapi tekanan pada laba. Terutama bagi operator yang melakukan ekspansi besar-besaran dengan strategi harga yang sangat kompetitif. Pendekatan ini berpotensi menekan margin dan membuat profitabilitas jangka pendek lebih rentan.
Menurut Thoriq, dinamika ini menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki fondasi kuat di layanan digital dan mampu memonetisasi basis pelanggannya secara efektif akan menjadi pendorong utama pertumbuhan sektor telekomunikasi memasuki awal 2026.
Tantangan di sektor telekomunikasi masih cukup signifikan, terutama terkait tekanan ARPU dan intensitas perang harga. Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su melihat tantangan lain yang dihadapi adalah potensi turunnya harga pada fixed broadband (FBB) akibat kemunculan internet murah dan pelemahan daya beli.
Dari sisi sentimen, faktor-faktor penting yang perlu diperhatikan antara lain perbaikan kondisi ekonomi dan tren ARPU. Harry mengharapkan sedikit kenaikan ARPU pada awal 2026, meski hanya dalam kisaran rendah digit.
Abida menilai sentimen kunci yang mempengaruhi kinerja sektor pada awal tahun akan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Antara lain kecepatan pemulihan harga paket data, terutama setelah price repair ISAT dan dampak integrasi jaringan EXCL. Kemajuan monetisasi aset infrastruktur seperti divestasi fiber ISAT dan spin-off InfraCo TLKM juga menjadi faktor penting.
Selain itu, arah kompetisi dan lanskap pasar yang mulai lebih rasional pasca-konsolidasi serta perbaikan belanja konsumen yang sebelumnya menahan yield di kuartal III-2025 juga menjadi indikator penting.
Thoriq menambahkan bahwa fokus utama akan tertuju pada rilis kinerja hasil kuartal IV-2025 yang keluar pada awal 2026. Kinerja ini akan dipengaruhi oleh lonjakan trafik pada momen natal dan tahun baru (nataru). Beberapa indikator yang perlu dicermati antara lain margin EBITDA, capital expenditure (capex) guidance, serta kontribusi pendapatan digital.
Laporan ARPU dan jumlah pelanggan, baik secara bulanan maupun kuartalan, juga menjadi sentimen krusial. Menurut Thoriq, perubahan ARPU justru lebih penting dibandingkan pertumbuhan jumlah pelanggan karena kenaikan ARPU menggambarkan kualitas pendapatan yang lebih sehat.
Oleh karena itu, Thoriq menyarankan untuk terus memantau ARPU Telkomsel/Telkom, EXCL/XL/Smartfren, serta Indosat sebagai indikator utama untuk menilai arah kinerja sektor telekomunikasi memasuki tahun 2026.
Abida merekomendasikan beli saham TLKM dengan target harga Rp 3.500 per saham, buy saham ISAT dengan target harga Rp 3.000 per saham, dan buy saham EXCL dengan target harga Rp 4.100 per saham.
Thoriq juga memberikan rekomendasi buy saham TLKM dan ISAT dengan target harga masing-masing Rp 3.720 per saham dan Rp 2.500 per saham.
Harry Su merekomendasikan hold saham TLKM dengan target harga Rp 3.700 per saham, buy saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) dengan target harga Rp 5.200 per saham, dan buy saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) dengan target harga Rp 1.350 per saham.