Jakarta
Emiten yang berada di bawah naungan Danantara diproyeksikan meningkatkan rasio pembayaran dividen demi mencapai target setoran di tahun 2025. Rencana ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan dana yang akan digunakan dalam investasi jangka panjang.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dalam rencana tersebut, target dividen emiten pelat merah di tahun 2025 ditetapkan sebesar Rp 140 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan target dividen BUMN pada tahun 2024 yang sebesar Rp 85 triliun. CEO Danantara Rosan Roeslani menyatakan bahwa perusahaan akan menghimpun dan menginvestasikan dana hingga US$ 40 miliar dalam lima tahun ke depan.
Seluruh dana yang dikumpulkan berasal dari modal ekuitas tanpa menggunakan leverage. Dengan leverage empat atau lima kali, Danantara dapat memiliki dana sekitar US$ 250 miliar untuk diinvestasikan. Hal ini disampaikan oleh Rosan Roeslani dalam acara HIPMI-Danantara Indonesia Business Forum 2025.
Menurut catatan aiotrade.app, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyampaikan bahwa Danantara sudah memegang dividen BUMN untuk tahun 2025 sebesar Rp 90 triliun. Selain itu, Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara atau Danantara berencana menyalurkan dana hasil dividen BUMN ke pasar modal. Sekitar Rp 16 triliun uang Danantara akan masuk ke sejumlah saham.
Beberapa emiten pelat merah telah menetapkan target pembagian dividen buku tahun 2025. Contohnya adalah PT Jasa Marga Tbk (JSMR) yang ingin mempertahankan dividend payout ratio (DPR) sebesar 25% dari laba inti alias core profit sepanjang tahun ini. JSMR membagikan dividen sebesar Rp 1,13 triliun dari buku tahun 2024. Jumlah ini setara dengan 25% dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Dengan jumlah tersebut, besaran dividen per saham yang diperoleh pemegang saham JSMR adalah sebesar Rp 156,23 per saham. Dividen per saham pada tahun 2024 ini melonjak 312,61% dibandingkan periode lalu sebesar Rp 37,86.
Community and Retail Equity Analyst Lead PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Angga Septianus melihat bahwa naiknya target dan kebutuhan dari dividen emiten Danantara bisa meningkatkan DPR mereka. Namun, DPR bisa tetap flat dengan asumsi laba per saham dan kinerja emiten mengalami kenaikan. “Kebijakan dividen sudah diperhitungkan baik-baik tanpa membebani operasional perusahaan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan melihat bahwa jalan terbaik untuk mencapai target tersebut adalah dengan meningkatkan raihan laba emiten BUMN atau memperbaiki emiten BUMN yang semula rugi menjadi untung dan siap tebar dividen. Namun jika melihat performa laba BUMN hingga semester I kemarin, mayoritas mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu.
Alhasil, untuk menutupi target wajib setoran dividen itu tentu akan berasal dari peningkatan rasio DPR masing-masing emiten. Jika Danantara memilih menaikkan DPR, SWF ini dilihat masih akan mengandalkan BUMN sektor perbankan. Sebab, dampak kenaikan DPR BUMN perbankan bisa tereliminasi dengan kebijakan penempatan dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun di empat bank Himbara.
Meskipun ada kenaikan DPR, hal itu tak lantas memberatkan kinerja emiten perbankan pelat merah. Sebab return on equity (ROE) perbankan BUMN masih tinggi. Contohnya, ROE BBRI ada di kisaran 19,9% dan BRIS di 18,2%. Lalu, cost of fund (CoF) emiten perbankan juga turun setelah penempatan dana pemerintah. BBRI membayar COF sebesar 86% dari laba 2024, BBNI 65%, dan BMRI sekitar 60%.
BMRI Chart
by TradingView
Angga melihat, PTBA, BMRI, BBRI, dan TLKM masih berpotensi menawarkan dividen yang menarik. “Potensi DPR mengacu ke historikal masing-masing perusahaan. Seharusnya (dividen tahun ini) tidak jauh dari angka tersebut, dengan asumsi laba per saham (earning per share/EPS) sama,” katanya.
BMRI Chart
by TradingView
Harry pun merekomendasikan beli untuk BBRI, BMRI, BBNI, BRIS, dan BBTN dengan target harga masing-masing Rp 5.000 per saham, Rp 5.100 per saham, Rp 5.200 per saham, Rp 3.100 per saham, dan Rp 1.600 per saham.