
Penjelasan Mengenai AI LISA dan Pernyataan UGM
Sebuah platform AI bernama LISA telah menjadi sorotan di media sosial setelah menyebut bahwa Joko Widodo atau Jokowi bukan alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) karena tidak lulus kuliah. Dalam video yang viral, pengguna AI LISA bertanya apakah Jokowi merupakan alumni UGM. Tangkapan layar dari percakapan tersebut menunjukkan bahwa AI menjawab bahwa Jokowi menyelesaikan pendidikan tinggi di Fakultas Kehutanan UGM, tetapi tidak lulus dari sana.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pernyataan ini kemudian mendapat respons dari pihak UGM. Juru Bicara UGM, I Made Andi Arsana, mengonfirmasi bahwa LISA adalah hasil karya universitas yang dikembangkan dalam kerja sama dengan Botika. LISA adalah singkatan dari Lean Intelligent Service Assistant, sebuah AI yang dirancang untuk memberikan layanan terintegrasi bagi mahasiswa dan masyarakat umum.
LISA merupakan bagian dari program komprehensif bernama UGM University Services yang dikembangkan oleh Biro Transformasi Digital dan Direktorat Kemahasiswaan UGM. Tujuan utamanya adalah memberikan informasi dan layanan akademik serta administratif kepada pengguna.
Tujuan dan Batasan Data LISA
Andi menjelaskan bahwa LISA dikembangkan untuk tujuan spesifik dan berbeda dari produk AI komersial seperti ChatGPT atau Gemini. Basis data pengetahuan LISA terbatas pada data dan informasi internal UGM yang berkaitan dengan akademik, kemahasiswaan, administrasi, dan pengembangan diri. Namun, LISA tidak menyimpan data pribadi pengguna.
UGM melakukan peluncuran awal atau soft launching LISA untuk mulai digunakan oleh publik sambil terus dikembangkan dan disempurnakan melalui proses pelatihan. AI ini hadir dalam bentuk anjungan digital interaktif yang berlokasi di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK), yang dapat diakses oleh publik untuk memperoleh informasi terkait UGM.
Proses Pembelajaran LISA
Kemampuan AI LISA terus ditingkatkan melalui dua cara. Pertama, melalui asupan data dan informasi internal UGM. Kedua, data dan informasi dari luar UGM jika data internal tidak cukup untuk menjawab pertanyaan pengguna. Andi menjelaskan bahwa cara kedua ini dilakukan berdasarkan pertanyaan yang diberikan oleh pengguna, dan hasil pembelajaran ini dipengaruhi oleh akurasi dan kebenaran informasi yang didapatkannya dari internet.
Inkonsistensi Informasi dan Penjelasan UGM
Dengan adanya jawaban AI LISA yang kontradiktif, yaitu menyebut Jokowi menyelesaikan pendidikan tinggi di Fakultas Kehutanan UGM namun tidak lulus, Andi menyoroti ketidaksesuaian informasi tersebut. Ia menyatakan bahwa informasi tentang Jokowi yang disajikan LISA tidak konsisten dan menegaskan bahwa LISA memang tidak dirancang untuk menjawab pertanyaan tentang kelulusan seseorang.
Selain itu, Andi juga menjelaskan bahwa inkonsistensi ini menunjukkan bahwa LISA sedang dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan kemampuannya. Dengan memahami kondisi teknis LISA sebagai perangkat berbasis AI, UGM menegaskan bahwa informasi tentang status kelulusan Joko Widodo yang disampaikan LISA tidak akurat.
Pernyataan Resmi UGM
UGM juga telah menegaskan bahwa Joko Widodo atau Jokowi adalah alumni yang lulus dari UGM, sesuai dengan pernyataan Rektor UGM. Hal ini menunjukkan bahwa informasi yang diberikan oleh LISA tidak mencerminkan fakta yang benar dan harus diwaspadai oleh pengguna.