
JAKARTA, aiotrade.app
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memiliki target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada tahun 2029. Hal ini disampaikan oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, yang menilai bahwa investasi akan menjadi penggerak utama dalam mencapai target tersebut.
Menurut Rosan, struktur pertumbuhan ekonomi nasional saat ini didominasi oleh konsumsi domestik sebesar 53 hingga 54 persen, investasi sekitar 28 hingga 29 persen, belanja pemerintah sebesar 6 hingga 7 persen, serta net ekspor sebesar 2 persen. Ia menjelaskan bahwa komponen yang paling potensial untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi adalah investasi.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Kita melihat dari semua komponen tersebut, yang memungkinkan untuk meningkat adalah investasi. Jadi, pertumbuhan ekonomi kita ini memang didorong oleh investasi," ujar Rosan saat sesi wawancara dengan KompasTV terkait satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Senin (20/10/2025) malam.
Berdasarkan perhitungan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen, Indonesia membutuhkan investasi sebesar Rp 13.000 triliun dalam kurun waktu 2025-2029. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi investasi dalam satu dekade sebelumnya, yaitu sekitar Rp 9.100 triliun pada periode 2014-2024.
"Jadi, dalam lima tahun ke depan ini, pertumbuhan investasi harus naik secara signifikan," kata Rosan, yang juga CEO Danantara Indonesia.
Ia meyakini tren realisasi investasi nasional saat ini menunjukkan sinyal positif. Hingga kuartal III-2025, realisasi investasi telah mencapai Rp 1.434 triliun atau sekitar 75,2 persen dari target tahunan sebesar Rp 1.905 triliun.
"Sehingga, dari segi investasi kita bisa menunjang pertumbuhan ekonomi ini sampai nanti mencapainya sesuai dengan target 8 persen di tahun 2029," ujarnya.
Meski demikian, Rosan mengakui tantangan terbesar adalah memastikan investasi yang masuk berkualitas. Investasi tersebut tidak hanya bersifat modal, tetapi juga harus padat karya agar mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja.
Tren saat ini menunjukkan bahwa karakter investasi yang masuk semakin padat modal, sehingga kurang menyerap tenaga kerja. Jika 10 tahun lalu investasi sebesar Rp 1 triliun mampu menciptakan sekitar 2.640 lapangan kerja, kini jumlahnya turun menjadi sekitar 1.300 lapangan kerja.
Oleh karena itu, pemerintah akan terus mendorong percepatan hilirisasi industri di berbagai sektor, mulai dari komoditas mineral hingga pertanian. Sektor-sektor ini dinilai memiliki potensi besar untuk menarik investasi padat karya.
"Kalau kita lihat hilirisasi, mungkin melihatnya kebanyakan hilirisasi bidang mineral, yang di mana memang di situ padat modal. Tapi ada juga, contohnya, hilirisasi di bidang kelapa yang investasinya sudah masuk ke kita, sedang tahap konstruksi. Itu nilainya hanya 100 juta dollar AS, tapi dari segi penciptaan lapangan pekerjaannya, di tahap pertama saja akan menyerap 5.000 orang, dan bisa mencapai 10.000 orang," papar Rosan.