Lorong Bawah Tanah Blok M Square: Surga Kolektor Kaset dan Vinyl

admin.aiotrade 12 Nov 2025 4 menit 18x dilihat
Lorong Bawah Tanah Blok M Square: Surga Kolektor Kaset dan Vinyl

Dunia Musik Fisik di Bawah Tanah Jakarta

Di basement Blok M Square, Jakarta Selatan, waktu seperti berjalan lebih lambat. Lampu-lampu neon putih memantulkan cahaya pada lantai keramik. Di sepanjang lorong, kios-kios kecil berjajar rapat, sedikitnya ada 20 kios penuh menampilkan tumpukan kaset, CD, dan vinyl yang menjulang seolah siap menelan siapa pun yang melongok ke dalamnya. Di sinilah salah satu pusat peradaban musik fisik di Jakarta masih bertahan. Di tengah era platform digital seperti Spotify, YouTube, SoundCloud, pasar musik bawah tanah ini tak pernah benar-benar mati.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Bahkan, ia hidup dari ingatan lama, rasa penasaran anak muda, dan budaya koleksi yang tak tergantikan oleh algoritma. Tumpukan kaset dan vinyl yang tak pernah diam menjadi bagian dari kehidupan para pengunjung yang datang untuk mencari kenangan atau sekadar menikmati sensasi mendengarkan musik secara langsung.

Kedai Musik: Sebuah Museum Mini

Di salah satu sudut lorong, kios “Kedai Musik” milik Andri (39) mencuri perhatian. Rak-rak besi hitam penuh sesak oleh kepingan CD yang ditumpuk sampai setinggi dada orang dewasa. Vinyl dibungkus plastik rapi, dijejerkan di dalam krat-krat kayu, sementara kardus-kardus besar masih berserakan di depan pintu. Kios itu tak lebih besar dari ruang ganti butik kecil, tapi suasananya seperti museum mini yang padat, penuh, gelap, dan hidup.

Setiap pengunjung harus berjalan sambil sedikit memiringkan badan agar tidak menyenggol tumpukan album. Andri sudah 11 tahun menjaga kiosnya di tengah lorong berdinding musik ini. Baginya, musik fisik bukan sekadar komoditas, melainkan budaya. Kolektor selalu butuh barang yang bisa disentuh.

Dari Penggemar 90-an hingga Gen Z

Di antara tumpukan yang menua bersama debu, tren tetap berubah. Namun satu hal tidak, musik 90-an masih menjadi primadona. Band-band seperti Oasis, Blur, Radiohead, hingga The Cure sebagai nama-nama yang tak pernah absen dicari. Namun, geliat baru datang dari generasi muda. Andri melihat sendiri bagaimana Gen Z yang lahir ketika kaset sudah hampir punah datang ke lapaknya.

Justru band-band kayak Hindia, Barefood punya pasar baru: anak-anak sekolah, Gen Z. Dari situ mereka ngulik band-band lama. Jadi narik pasar baru. Tidak semuanya benar-benar kolektor. Ada yang beli karena gaya, sekadar ikut tren. Ada yang beli sekali, bahkan nggak punya player-nya. Tapi dia beli kaset atau CD.

Berburu Barang Langka dan Dunia ‘Jeruk Makan Jeruk’

Tidak ada distributor resmi untuk kaset dan CD lawas. Andri hidup dari perburuan acak. Barang itu semakin banyak pedagang, semakin susah. Distributor juga nggak ada. Kadang nyari dari toko sebelah, jeruk makan jeruk lah. Kadang dari pedagang online. Ada juga orang keliling cari barang antik. Mereka nemu CD atau kaset, ya jual ke sini. Terkadang, Andri memperoleh barang langka rilisan Indonesia yang jumlahnya terbatas.

Kalau Indonesia itu paling susah. Mau CD atau kaset, rilisnya cuma di sini makanya kalau dapet sekarang tuh wah ini jarang. Harga pun beragam. Kaset kompilasi bisa Rp25.000, sementara untuk kaset band-band dijual seharga Rp 40.000 sedangkan vinyl baru mulai Rp450.000, dan rilisan langka bisa menyentuh jutaan. Kayak White Shoes. Vinyl rilisan awalnya gue pernah jual lebih dari 3 juta.

Demam Vinyl dan Generasi Baru Pecinta Musik Fisik

Di tempat ini juga lah generasi baru pencinta rilisan fisik bermunculan, salah satunya Raka (24), pemburu vinyl yang mulai menekuni hobinya beberapa tahun terakhir. Bagi sebagian anak muda, musik fisik adalah gaya hidup baru. Namun bagi sebagian lainnya, justru menjadi pintu masuk untuk memahami musik secara lebih mendalam.

Raka termasuk kelompok kedua. Ia menyambut kehadiran vinyl sebagai medium yang membuat aktivitas mendengarkan musik terasa lebih sakral, lebih intim, dan jauh dari kebiasaan serba cepat di platform digital. Ketika pertama kali datang ke Blok M Square, ia mengaku tidak tahu harus mulai dari mana. Lorong yang penuh rak-rak berisi ribuan rilisan membuatnya berhenti sesaat, mencoba menyerap suasananya. Namun justru atmosfer itulah yang membuatnya kembali dan kembali lagi untuk hunting.

Warisan Masa Lalu dan Koleksi yang Berharga

Sementara itu, seorang pria paruh baya tampak serius membolak-balik kaset pita yang tertata dalam laci-laci kayu. Gerakannya pelan, seperti sedang menelusuri memori lama yang tersimpan dalam sampul-sampul lusuh itu. Dialah Hendro (57), kolektor yang sudah lebih dari tiga dekade setia mengumpulkan musik fisik.

Bagi banyak orang, kaset mungkin hanya benda kuno, bagi Hendro, kaset adalah bagian dari hidup. Ia memulai semuanya pada masa ketika membeli kaset pertama adalah penuh kebanggaan. Kini, puluhan tahun setelah era itu berlalu, ia masih kembali ke tempat-tempat seperti Blok M Square untuk mencari rilisan yang hilang atau sekadar menambah koleksi.

Warisan masa lalu dan koleksi yang berharga menjadi bagian dari kehidupan Hendro. Ia tak hanya mencari kaset. Vinyl pun menjadi bagian dari rutinitasnya. Sekarang saya beli dua-duanya. Kaset untuk nostalgia, vinyl untuk kualitas suara. Siang itu, Hendro datang ke Blok M Square karena sebuah misi khusus. Ia ingin menemukan kembali kenangan masa lalu. Saya datang ke sini ingin cari ulang kaset lama milik Chrisye. Dulu saya punya, tapi hilang waktu pindahan rumah. Tapi saya juga senang lihat-lihat, siapa tahu dapat sesuatu yang tidak direncanakan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan