LPEM FEB UI: 51 Ribu Lulusan Tak Bisa Kerja, Putus Asa Cari Pekerjaan

admin.aiotrade 11 Des 2025 3 menit 18x dilihat
LPEM FEB UI: 51 Ribu Lulusan Tak Bisa Kerja, Putus Asa Cari Pekerjaan

Fenomena Lulusan Perguruan Tinggi yang Menganggur

Pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi kembali menjadi perhatian setelah ditemukan bahwa ribuan hingga puluhan ribu dari mereka merasa putus asa dalam mencari pekerjaan sesuai dengan keinginannya. Hal ini terungkap melalui riset terbaru Labor Market Brief Volume 6, Nomor 11, November 2025, yang dilakukan oleh LPEM FEB UI. Dalam penelitian tersebut, sekitar 45 ribu lulusan S1 dan lebih dari 6 ribu lulusan S2–S3 termasuk dalam kategori discouraged workers atau kelompok yang berhenti mencari pekerjaan karena merasa peluangnya sangat tipis.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Temuan ini menunjukkan bahwa keputusasaan tidak hanya menimpa lulusan berpendidikan rendah, tetapi juga mereka yang memiliki pendidikan tinggi namun tetap gagal menembus pasar kerja. Namun, laporan yang ditulis oleh Muhammad Hanri, Ph.D. dan Nia Kurnia Sholihah, M.E. menjelaskan bahwa lulusan perguruan tinggi menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan dengan lulusan pendidikan yang lebih rendah seperti lulusan SD hingga SMA.

Banyak dari lulusan perguruan tinggi memiliki ekspektasi upah yang tidak sejalan dengan kondisi pasar kerja saat ini. Selain itu, mereka juga mengalami mismatch antara bidang studi dan ketersediaan pekerjaan, serta menghadapi persepsi diskriminasi usia ketika baru masuk pasar kerja di usia yang lebih matang. Ketika janji mobilitas sosial naik dari pendidikan tinggi tidak terwujud, keputusasaan pun muncul.

Perbedaan Tantangan Berdasarkan Jenjang Pendidikan

Meski demikian, data Februari 2025 menunjukkan bahwa lebih dari separuh kelompok pencari kerja putus asa berasal dari mereka yang hanya berpendidikan SD atau tidak tamat SD. Kondisi ini menegaskan bahwa hambatan struktural bagi kelompok berpendidikan rendah jauh lebih kompleks daripada sekadar minimnya lowongan kerja. Mereka menghadapi keterbatasan kemampuan dasar, akses informasi pasar kerja yang rendah, hingga peluang mobilitas naik yang sangat sempit.

Polanya konsisten dengan tren yang dicatat ILO dan Bank Dunia di banyak negara berkembang. Laporan tersebut juga merinci bahwa lulusan SMP menyumbang sekitar 20 persen kelompok putus asa, disusul lulusan SMA sebesar 17 persen. Angka ini menunjukkan bahwa tantangan keterampilan tidak hanya dialami oleh kelompok berpendidikan paling rendah.

Pasar kerja kini menuntut literasi digital dasar, kemampuan komunikasi, dan pengalaman relevan, yaitu keterampilan yang tidak otomatis diperoleh dari pendidikan menengah. Akibatnya, banyak lulusan SMP dan SMA merasa tidak kompetitif ketika menghadapi proses rekrutmen yang semakin ketat.

Peran SMK dalam Persoalan Pengangguran

Komposisi lulusan SMK yang mencapai delapan persen juga menjadi sorotan. Meskipun secara konsep SMK dirancang untuk menghasilkan tenaga kerja siap pakai, data ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara kurikulum vokasional dan kebutuhan nyata dunia industri. Lembaga internasional seperti ADB sering kali menekankan bahwa sistem vokasional yang tidak diperbarui secara berkala akan kesulitan menghasilkan lulusan dengan kompetensi relevan, yang pada akhirnya menurunkan kepercayaan diri mereka dalam mencari kerja.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, riset ini menunjukkan bahwa pendidikan tetap menjadi faktor krusial dalam membuka peluang kerja, namun tidak menjamin seseorang terbebas dari keputusasaan. Tantangan struktural, ketidaksesuaian keterampilan, dan perubahan kebutuhan pasar kerja menjadi alasan utama berbagai kelompok dari lulusan SD hingga pascasarjana masuk dalam kategori pekerja putus asa. Riset ini menjadi peringatan penting bahwa perbaikan kualitas pendidikan, terutama kompetensi kerja yang sesuai kebutuhan industri, perlu segera diprioritaskan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan