
Perkembangan Inflasi dan Kebijakan BI
Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM UI) menilai bahwa Bank Indonesia (BI) perlu mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75 persen. Pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur terkait dengan suku bunga acuan akan dilakukan pada hari ini, Rabu, 17 Desember 2025.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut ekonom LPEM UI, Teuku Riefky, inflasi domestik saat ini cenderung berada pada batas atas rentang target inflasi Bank Indonesia dan berpotensi meningkat di akhir 2025 karena adanya faktor musiman yaitu libur akhir tahun. Inflasi November 2025 tercatat sebesar 2,72 persen year on year, yang lebih rendah dari 2,86 persen pada bulan sebelumnya.
Dari sisi eksternal, kombinasi penurunan suku bunga acuan oleh The Fed dan keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga kebijakan telah mendorong masuknya aliran modal asing ke Indonesia. Hal ini berdampak pada menguatnya nilai tukar rupiah sebesar 0,11 persen (month to month) dalam 30 hari terakhir. Meski demikian, Riefky menyebut pergerakan nilai tukar masih cenderung fluktuatif.
Risiko Pemotongan Suku Bunga
LPEM UI berpendapat bahwa pemotongan suku bunga oleh BI berisiko memicu naiknya tekanan inflasi dan berpotensi mendorong pelemahan nilai tukar rupiah. Oleh karena itu, mereka berpandangan bahwa BI perlu menahan suku bunga acuannya di 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur terakhir di 2025.
Pada Rapat Dewan Gubernur November lalu, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, keputusan tersebut konsisten dengan fokus kebijakan jangka pendek pada stabilisasi nilai tukar rupiah dan untuk menarik investasi asing sebagai antisipasi terhadap meningkatnya ketidakpastian global.
BI sendiri telah memangkas suku bunga acuan sebanyak 150 basis poin sejak September 2024 hingga November 2025.
Pernyataan Gubernur BI
“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 18 dan 19 November 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen,” ucap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers daring pada Rabu, 19 November 2025. BI juga mempertahankan suku bunga deposit facility di level 3,75 persen dan suku bunga lending facility di level 5,5 persen.
Analisis dan Prediksi
Analisis yang dilakukan oleh LPEM UI menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi dan kebijakan moneter yang konsisten sangat penting dalam menghadapi tantangan eksternal maupun internal. Dengan mempertahankan suku bunga acuan, BI berusaha menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kontrol inflasi.
Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan adalah:
- Fluktuasi nilai tukar rupiah yang masih terjadi meskipun ada peningkatan aliran modal asing.
- Tingkat inflasi yang masih berada di ambang batas atas target yang ditetapkan.
- Kondisi ekonomi global yang tidak menentu dan berpotensi memengaruhi arus investasi.
Dengan situasi seperti ini, kebijakan BI yang konsisten dan berbasis data menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Para ahli ekonomi menilai bahwa keputusan untuk mempertahankan suku bunga acuan di tingkat 4,75 persen merupakan langkah yang tepat untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga.
Tantangan di Masa Depan
Meski kebijakan moneter yang konsisten dapat memberikan stabilitas, para ekonom tetap memperhatikan beberapa tantangan di masa depan. Beberapa di antaranya meliputi:
- Potensi kenaikan inflasi akibat faktor musiman dan kebijakan pemerintah.
- Fluktuasi nilai tukar rupiah yang bisa dipengaruhi oleh perubahan kebijakan moneter di negara-negara lain.
- Kepatuhan terhadap target inflasi yang semakin ketat.
Dengan memperhatikan semua faktor tersebut, BI dan lembaga penelitian seperti LPEM UI terus melakukan analisis dan prediksi untuk memastikan kebijakan yang diambil dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.