LQ45 Tertinggal, IHSG Naik Tajam, Peluang Rebound Akhir 2025

admin.aiotrade 30 Sep 2025 3 menit 18x dilihat
LQ45 Tertinggal, IHSG Naik Tajam, Peluang Rebound Akhir 2025
Featured Image

Kinerja Indeks LQ45 yang Tertinggal dan Peluang Penguatan di Akhir Tahun

Indeks saham keping biru (blue chip) yang tergabung dalam LQ45 masih menunjukkan kinerja yang lesu sepanjang tahun berjalan. Meskipun indeks harga saham gabungan (IHSG) mencatatkan kenaikan signifikan hingga akhir kuartal III/2025, indeks LQ45 justru mengalami penurunan. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang peluang penguatan indeks tersebut pada kuartal terakhir tahun ini.

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia, indeks LQ45 turun 1,05% pada perdagangan hari ini, Selasa (30/9/2025), dengan level terbaru di angka 793,98. Sejak awal tahun, indeks ini telah melemah sebesar 3,95%. Sementara itu, IHSG masih berada di zona hijau dengan kenaikan sebesar 13,86% ytd. Di sisi lain, indeks saham lapis kedua seperti SMC Liquid juga menunjukkan pertumbuhan positif, yakni sebesar 10,32% ytd.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kemunduran kinerja indeks LQ45 didorong oleh kinerja buruk beberapa saham utama yang menjadi top laggards. Contohnya, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mengalami penurunan sebesar 18,76% ytd. Saham PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) juga melemah sebesar 15,04%. Di sektor lain, saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) turun 31,39%, sedangkan saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) melemah sebesar 14,75%.

Menurut Nafan Aji Gusta, Senior Market Chartist dari Mirae Asset Sekuritas, kinerja indeks LQ45 yang lesu disebabkan oleh pelemahan saham-saham perbankan besar. Ia menjelaskan bahwa saham big caps perbankan saat ini menghadapi tantangan baik dari sisi makro maupun mikro. Salah satu faktor utama yang membebani adalah rendahnya permintaan kredit nasional.

Namun, terdapat harapan bahwa indeks LQ45 dapat mengalami penguatan pada sisa akhir tahun ini. Beberapa faktor yang dapat mendorong penguatan antara lain adanya window dressing dan santa claus rally effect. Dari segi historis, selama lima tahun terakhir, rata-rata saham LQ45 cenderung menghijau pada akhir tahun.

Selain itu, momentum bagi-bagi dividen interim di akhir tahun ini juga bisa menjadi dorongan bagi penguatan saham-saham dalam indeks LQ45. Menurut Liza Camelia Suryanata, Head Riset Kiwoom Sekuritas, ada peluang catch-up rally pada kuartal IV/2025. Saat ini, saham-saham dengan katalis kinerja kuat di kuartal III/2025, potensi masuk radar indeks MSCI, atau valuasi yang masih diskon bisa menjadi pilihan investasi.

Reydi Octa, pengamat pasar modal Indonesia, menyatakan bahwa indeks LQ45 yang tertinggal bisa saja mengejar ketertinggalannya pada akhir tahun ini. Namun, investor akan lebih memperhatikan kinerja fundamental saham yang solid namun masih undervalued. Ia menyarankan agar investor tidak terlalu fokus pada saham dengan tingkat spekulasi tinggi, karena risiko kerugian bisa lebih besar.

Dengan berbagai faktor yang berpotensi mendorong penguatan, indeks LQ45 tetap menjadi perhatian para investor. Meski kinerja sepanjang tahun ini masih lesu, peluang untuk rebound pada akhir tahun tetap terbuka. Namun, investor perlu tetap waspada dan memantau perkembangan secara berkala.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan