Sosok Made Kartikajaya: Pemimpin yang Membangun Jembatan antara Kebijakan dan Kehidupan
Ketua Umum Papua Youth Creative Hub (PYCH), Simon Tabuni, S.S., M.A., menggambarkan sosok Made Kartikajaya sebagai figur pemimpin langka yang mampu menjembatani semangat negara dan realitas masyarakat Papua. Bagi Simon, Made bukan sekadar pejabat pembina kala itu, tetapi seorang pendamping yang bekerja dengan hati dan benar-benar hadir di tengah anak muda Papua.

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Pak Made itu seperti orang tua bagi kami. Beliau bukan hanya memberi arahan dari jauh, tapi turun langsung ke lapangan, mendengarkan, dan memastikan kegiatan kami benar-benar berjalan,” kata Simon dalam wawancara yang dimuat dalam buku Menggapai Potensi Tanpa Batas.
Pemimpin yang Hadir dan Merespons Cepat
Menurut Simon, selama menjabat sebagai Deputi IV Bidang Intelijen Ekonomi di Badan Intelijen Negara (BIN) Made Kartikajaya menunjukkan komitmen yang nyata terhadap pemberdayaan anak muda Papua melalui pembinaan PYCH.
“Tidak ada batasan waktu untuk berkomunikasi dengan beliau. Saat kami menyampaikan kebutuhan atau kendala di lapangan, beliau selalu merespons cepat,” ujarnya.
Bahkan dalam kondisi sulit, kata Simon, Made kerap langsung turun tangan membantu. “Kadang kami sudah merancang kegiatan tapi belum ada dana. Beliau datang, bantu mencari solusi. Tidak hanya bicara, tapi bertindak,” tuturnya.
Tegas, Dermawan, dan Dekat dengan Anak Muda
Simon menyebut Made sebagai sosok yang memadukan ketegasan dan kepedulian.
“Kalau ada yang tidak berjalan sesuai rencana, beliau tidak segan menegur. Tapi itu dilakukan dengan niat agar kami berkembang,” ujarnya.
Selain itu, Made juga dikenal dermawan dan peduli terhadap pengembangan usaha anak muda Papua. “Beliau sering membantu teman-teman, baik lewat dukungan moral, dana, maupun jaringan dengan stakeholder lain. Semua dilakukan agar kami bisa naik kelas dan mandiri,” kata Simon.
Hubungan yang dibangun pun bersifat kekeluargaan. “Tidak ada jarak. Kami bisa bicara apa saja, bahkan hal-hal kecil tentang kehidupan. Beliau selalu terbuka dan memberi nasihat,” ujarnya.
Dari Pendampingan Jadi Gerakan Nyata
Simon menilai keberhasilan PYCH tak lepas dari pendekatan personal yang diterapkan Made Kartikajaya. “Pak Made bukan sekadar menyusun strategi di atas kertas, tapi memastikan semuanya bisa diimplementasikan,” katanya.
Made disebut rutin melakukan kunjungan ke berbagai daerah di Papua, bahkan ke kampung-kampung pelosok. “Beliau ingin memastikan kegiatan kami benar-benar memberi dampak bagi masyarakat. Itu bukan gaya pejabat biasa, tapi gaya seorang pembina sejati,” tegas Simon.
Membangun Ekosistem Anak Muda Papua
Sejak dibentuk dengan pendampingan BIN, PYCH tumbuh menjadi wadah besar yang menaungi enam bidang utama: UMKM, industri kreatif, pertanian-perikanan-peternakan, sosial budaya, pendidikan-kesehatan, dan pembangunan infrastruktur kreatif.
“Awalnya kami hanya 23 orang. Sekarang anggota PYCH sudah sekitar 15 ribu, tersebar di seluruh Tanah Papua,” ujar Simon.
PYCH juga berhasil melahirkan banyak pengusaha muda sukses, seperti Olivia Rumere (lulusan S2 di Amerika), Ronald Rumesaro (pemilik barbershop), John Doansiba (peternak ayam), dan Brigitta Hisage (pengusaha ayam petelur).
Simon sendiri kini memiliki dua usaha, Anggi Mart di Manokwari dan Ekowisata Sagu di Sorong Selatan. “Dulu saya bukan pengusaha. Tapi karena pendampingan di PYCH, saya belajar banyak dan bisa menciptakan lapangan kerja bagi orang lain,” katanya.
Harapan untuk Masa Depan Papua
Simon berharap model pendampingan seperti yang dilakukan Made Kartikajaya bisa diterapkan di semua wilayah Tanah Papua. “Kami berharap Youth Creative Hub tidak hanya ada di Jayapura, tapi juga di setiap provinsi. Agar semua anak muda punya ruang untuk berkembang,” ujarnya.
Ia menutup dengan pesan singkat namun dalam: “Pemimpin seperti Pak Made itu langka. Ia tidak membangun menara gading, tapi jembatan antara kebijakan dan kehidupan. Itulah sosok yang dibutuhkan Papua," pungkasnya.