
Pantai Marina Boom di Banyuwangi, Jawa Timur, menjadi tempat yang penuh makna dalam prosesi Meras Gandrung yang sakral dan memukau pada Jumat (24/10/2025). Ritual ini merupakan bagian penting dari proses kelulusan para penari gandrung sebelum tampil dalam pementasan kolosal Gandrung Sewu 2025 yang melibatkan 1.400 penari.
Meras Gandrung tidak hanya menjadi ritual bagi penari lokal, tetapi juga menarik perhatian ratusan penari dari berbagai daerah. Bahkan, ada penari yang berasal dari luar negeri, seperti Dian Novita, seorang penari tradisional Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat (AS). Ia mengaku terharu dan merinding saat mengikuti ritual tersebut.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Meras Gandrung hari ini sangat magis. Saya sampai merinding karena ini pertama kali saya menyaksikannya langsung,” ujarnya dalam sebuah pernyataan resmi. Dian menjelaskan bahwa dirinya bersama rekan-rekannya telah berlatih dengan sangat keras dan siap memberikan penampilan terbaiknya pada acara utama nanti.
Selain Dian, ada juga Tri Wahyu Puspitasari, seorang penari dari Sorong, Papua Barat Daya. Ia datang bersama dua temannya, Debby Fidtriani Sukma dan Tri Utami. Mereka mengakui pengalaman pertama mereka dalam Meras Gandrung sangat berkesan dan membuat hati mereka terharu.
“Setelah mengikuti prosesi Meras Gandrung, jujur saya terharu dan merinding. Kami sengaja jauh-jauh datang ke Banyuwangi hanya untuk merasakan suasana ini. Rasanya luar biasa menari bersama ribuan penari dari Banyuwangi,” kata Tri.
Kehadiran mereka didukung oleh Wakil Bupati Sorong, Sutejo, yang turut hadir di Banyuwangi untuk memberikan semangat kepada para penari. Ia menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Sorong mendukung penuh partisipasi para penari dari daerahnya dalam acara budaya besar ini.
“Di sini, kami belajar dari semangat masyarakat Banyuwangi yang mampu menggelar event budaya sebesar ini hingga dikenal ke luar negeri,” ujar Sutejo.
Penari asal Pasuruan, Fitriyatul Sakila, juga mengungkapkan pengalamannya yang tak terlupakan. Ia datang bersama 24 rekannya untuk tampil dalam Gandrung Sewu. Baginya, acara ini adalah impian yang telah ia idam-idamkan sejak kecil.
“Saya belajar tari Gandrung lewat les privat. Saya tertarik karena tari Gandrung beda dari yang lain. Jadi, saya ingin merasakan rasanya jadi penari Gandrung,” ujarnya. Fitriyatul menjelaskan bahwa ia telah berlatih tekun untuk bisa lolos tampil dalam ajang bergengsi ini.
Prosesi Meras Gandrung dipimpin oleh penari gandrung senior legendaris Banyuwangi. Dari ribuan penari yang terlibat, sekitar 200 di antaranya berasal dari luar Banyuwangi, termasuk daerah seperti Malang, Kediri, Gresik, Pasuruan, Sidoarjo, Probolinggo, Bali, dan Situbondo.
Ritual ini tidak hanya menjadi momen penting bagi para penari, tetapi juga menjadi simbol kekayaan budaya yang terus dilestarikan. Dengan partisipasi dari berbagai daerah dan bahkan luar negeri, Meras Gandrung membuktikan bahwa seni dan tradisi Banyuwangi memiliki daya tarik yang luar biasa.