Sejarah Panjang Mahagenta dalam Melestarikan Musik Tradisional Indonesia
Selama 28 tahun, kelompok musik Mahagenta yang dipimpin oleh Uyung (Henry Surya Panguji) telah menjalani perjalanan yang penuh dengan ketekunan dan komitmen dalam menjaga kekayaan musik tradisi Indonesia. Kiprah mereka kini diapresiasi melalui konser tunggal bertajuk “Lentera Khatulistiwa”, yang akan digelar pada 15 November 2025, mulai pukul 20.00 hingga 22.00 WIB di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Pertunjukan yang berlangsung selama dua jam ini akan menjadi momen penting untuk mengingat kembali perjalanan musikal Mahagenta sejak didirikan pada 1996 di Slipi, Jakarta Barat. Dalam konser tersebut, penonton akan disuguhkan 17 karya pilihan dari ratusan komposisi yang pernah diciptakan oleh kelompok ini. Semua karya akan dimainkan tanpa jeda, menciptakan pengalaman mendalam dan meditatif bagi para hadirin.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut Uyung, judul konser ini menyimpan makna yang dalam terkait pesan kebudayaan. “Lentera adalah cahaya yang mencerahkan, bukan hanya di tengah kegelapan tetapi juga dalam kebutaan budaya,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa budaya yang sesak sering kali meruntuhkan kebudayaan sebelumnya. “Lentera Khatulistiwa” yang diusung oleh Mahagenta, menurut Uyung, merupakan simbol harapan—sebuah metafora untuk menyalakan kembali cahaya kebudayaan di garis khatulistiwa, setidaknya di Asia.
Dari total 127 karya yang pernah lahir, 17 di antaranya dipilih melalui proses kurasi yang mempertimbangkan waktu, genre, originalitas, kompleksitas, etika, dan estetika. Beberapa karya seperti “Menari Nari”, “Permata Khatulistiwa”, hingga “Cinta” menampilkan olahan alat musik tradisional yang kontekstual—dari kecapi, saluang, hingga Saung Gauk Myanmar—dalam spirit eksploratif khas Mahagenta.
Konser ini juga dibuka dengan “Nuansa Pesisir”, sebuah overture yang menggunakan alat berdawai Tek Yan. “Jumlah dawai boleh berbeda, tapi cara memainkannya sama. Begitu juga bangsa ini: berbeda, namun dapat berbicara dalam bahasa yang sama,” tutur Uyung.

Meskipun jarang mendapat dukungan komersial, Mahagenta tetap berkomitmen pada jalannya sendiri. “Sponsor musik tradisi sering hanya coba-coba. Media pun jarang memberi ruang. Tapi kami percaya musik tradisi bukan masa lalu—ia sumber daya estetika yang terus relevan,” ujarnya. Uyung menegaskan bahwa musik tradisi telah teruji oleh tiga hal penting: aturan, mutu, dan usia. “Kami hanya ingin menghadirkannya kembali dengan bahasa zaman sekarang—kontemplatif, eksploratif, eksperimental, tanpa kehilangan jiwanya.”
Konser “Lentera Khatulistiwa” menjadi simbol perjalanan panjang Mahagenta di jalan yang sunyi, namun menyala. Sebuah lentera yang terus menerangi ruang kebudayaan bangsa, di tengah riuhnya dunia modern. Melalui pertunjukan ini, Mahagenta tidak hanya sekadar melestarikan musik tradisional, tetapi juga membuka ruang untuk refleksi dan eksplorasi yang lebih dalam tentang identitas budaya Indonesia.