
aiotrade,
JAKARTA – PT Maharaksa Biru Energi Tbk. (OASA) berkomitmen untuk membangun pendapatan jangka panjang melalui proyek waste to energy (WTE). Proyek ini mendapat dukungan dari pemerintah dan Danantara, yang menunjukkan potensi besar dalam sektor energi terbarukan.
Direktur Utama dan CEO OASA, Bobby Gafur Umar, menjelaskan bahwa saat ini perusahaan memiliki dua portofolio proyek WTE. Kedua proyek tersebut adalah fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) yang sudah mendapatkan penetapan pemenang lelang.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Proyek pertama berlokasi di Jakarta Barat dengan kapasitas olahan sampah sebesar 2.000 ton per hari. Sementara itu, proyek kedua berada di Tangerang Selatan dengan kapasitas olahan sampah mencapai 1.100 ton per hari. Penetapan pemenang lelang untuk proyek di Tangerang Selatan dilakukan oleh OASA pada April 2025 lalu. Proyek ini akan dibangun oleh PT Indoplas Energi Hijau (IEH), unit usaha OASA, bekerja sama dengan mitra penyedia teknologi asal China, China Tianying Inc (CNTY). Investasi yang diperlukan mencapai Rp2,65 triliun.
PSEL di Tangerang Selatan ditargetkan beroperasi pada tahun 2028 dan secara penuh beroperasi pada 2029. Pembangkit listrik tenaga sampah ini diestimasi mampu menghasilkan 23 megawatt (MW) dari pengelolaan sampah sebanyak 1.100 ton per hari. Sementara itu, proyek di Jakarta telah menyelesaikan tahap feasibility study (FS).
Bobby menjelaskan bahwa jika semua proses berjalan sesuai rencana, pembangunan proyek bisa dimulai pada tahun depan. Ia optimis proyek akan beroperasi 100% pada akhir 2028 atau awal 2029. "Ini akan berkontribusi pada keuangan perusahaan dalam jangka panjang, dengan kontrak selama 30 tahun," ujarnya.
Dalam konteks prospek jangka panjang, Bobby menyebutkan bahwa total sampah yang dihasilkan di Indonesia per tahun mencapai 70 juta ton. Sayangnya, pemanfaatan sampah belum maksimal, bahkan menjadi masalah pencemaran lingkungan dan kesehatan. Namun, proyek WTE kini mendapat dukungan penuh dari pemerintah dengan masuknya proyek pengolahan sampah ke dalam Program Strategis Nasional (PSN).
Menurut Bobby, Peraturan Presiden (Perpres) terkait WTE sedang digodok, dan salah satu perubahan penting adalah penambahan jumlah kota lokasi proyek dari 12 menjadi 33 kota. Selain itu, Perpres juga akan memberikan solusi atas masalah utama yang menghambat proyek WTE, yaitu kesulitan pemerintah daerah membayar tipping fee kepada pengelola sampah. Sebagai gantinya, nantinya tipping fee akan digantikan dengan penjualan listrik seharga 20 sen dolar AS per kilowatt hour (kWh).
"Ini masuk PSN, jadi program yang akan terus berkembang ke depannya. Danantara, berdasarkan Perpres, mendapatkan mandat untuk menyelesaikan ini," tegas Bobby.
Sebelumnya, Managing Director Investment Danantara Investment, Stefanus Ade Hadiwidjaja, menjelaskan bahwa estimasi kebutuhan pendanaan untuk satu titik proyek PSEL berkapasitas 1.000 ton per hari beserta infrastruktur pendukungnya mencapai Rp2 triliun hingga Rp3 triliun. Dengan asumsi 33 titik pembangunan, total dana yang dibutuhkan mencapai Rp66 triliun hingga Rp99 triliun.
Sebagai permulaan, Danantara akan meluncurkan proyek PSEL pada akhir Oktober mendatang. Tahap awal proyek ini akan dijalankan di Jakarta terlebih dahulu. Di Jakarta sendiri akan ada 4-5 lokasi. Selanjutnya, proyek akan diterapkan di Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Bali, serta beberapa daerah seperti Bekasi dan Tangerang. Beberapa daerah lain juga telah menyatakan kesiapan untuk bergabung dalam program ini.
Gayung bersambut, PT PLN (Persero) menyatakan komitmennya untuk menjadi offtaker atau penyerap listrik yang dihasilkan PSEL. Direktur Utama PLN, Darmawan Prajodjo, mengaku siap menyerap listrik meskipun harganya lebih mahal dibandingkan sumber listrik lain. "Dengan adanya Perpres tentang WTE [yang sedang digodok], kami siap menjalankannya. Kami akan memastikan nantinya harganya sesuai arahan Perpres, yaitu 20 sen per kWh," ujar Darmawan.
Adapun dari sisi kinerja keuangan OASA, perseroan mencatat kinerja yang kurang memuaskan sepanjang semester I/2025. Pendapatan usaha neto turun dari Rp39,93 miliar menjadi Rp24,50 miliar. Beban pokok pendapatan juga naik dari Rp19,63 miliar menjadi Rp20,88 miliar. Akibatnya, laba kotor perusahaan turun drastis dari Rp20,29 miliar menjadi Rp3,62 miliar.
Penurunan penjualan disebabkan oleh segmen pendapatan dari jasa konsultasi dan penjualan barang yang tidak dilakukan perusahaan. Pada semester I/2024, masing-masing segment tersebut menyumbang Rp11,00 miliar dan Rp119,86 juta. Kinerja top line yang kurang memuaskan membuat OASA mengalami rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau rugi bersih sebesar Rp15,47 miliar, berbalik dari torehan laba bersih Rp1,13 miliar selama semester I/2024.