
Tim Mangrove Preneurs ULM Mengharumkan Nama Kampus di Ajang Nasional
Tim Mangrove Preneurs dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) berhasil menorehkan prestasi gemilang di ajang nasional Inovillage 2025. Mereka mampu meraih posisi delapan besar terbaik dari ratusan peserta se-Indonesia dengan inovasi pemanfaatan bunga mangrove menjadi madu kelulut.
Inovasi ini tidak hanya menarik perhatian juri, tetapi juga membuktikan bahwa potensi ekosistem mangrove bisa dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Tim yang terdiri dari Rezky Amalia, Muhammad Luthfi Nuransari, dan Muhammad Behaqi berawal dari riset dosen tentang potensi pendapatan asli desa di Kecamatan Tatah Makmur, Kabupaten Banjar.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dari penelitian tersebut, mereka menemukan bahwa tiga desa memiliki ekosistem mangrove yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Dengan memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman dari alumni Fakultas Kehutanan ULM, tim mulai membudidayakan lebah yang mengonsumsi nektar bunga mangrove. Hasilnya adalah madu dengan karakteristik unik, lebih cair, berwarna hitam bening, dan memiliki rasa manis-asam segar.
“Awalnya kami melihat bunga-bunga mangrove itu cuma gugur gitu aja. Sayang banget kalau enggak dimanfaatkan,” ujar Rezky Amalia, ketua tim Mangrove Preneurs. Ia menjelaskan bahwa proses produksi madu ini seperti melihara tuyul. “Mereka yang kerja, kami yang nikmatin hasilnya,” tambahnya dengan nada santai.
Madu mangrove ini dipanen sebulan sekali dari empat kotak stup, menghasilkan sekitar satu liter per bulan. Pemasaran dilakukan melalui media sosial dan promosi dari mulut ke mulut, dengan harga Rp150.000 per botol ukuran 250 ml. Selain itu, tim juga melibatkan warga desa dalam sistem bagi hasil. Edukasi kepada masyarakat membuka mata mereka terhadap potensi ekonomi dari ekosistem mangrove.
“Respon warga senang banget, apalagi dari Kades Pandansari yang bahkan ingin replikasi program ini di desanya,” kata Rezky. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi ini tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga memberikan kesadaran baru terhadap pentingnya perlindungan lingkungan.
Dalam kompetisi Inovillage, tim ULM bersaing ketat dengan kampus-kampus ternama seperti Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran. Meski berasal dari jurusan akuntansi, mereka mampu menjawab pertanyaan juri dari berbagai aspek, termasuk budaya dan lingkungan.
“Kami bertiga itu teman biasa, tiba-tiba dihadapkan dengan hal-hal serius. Jadi pengalaman paling berkesan itu justru teamwork-nya,” ungkap Rezky. Proses kolaborasi antara anggota tim menjadi salah satu faktor utama keberhasilan mereka.
Ke depan, Mangrove Preneurs berencana memperluas produksi ke Desa Pandansari dan mengembangkan produk turunan seperti bipolen untuk skincare. Mereka juga tengah merancang roadmap untuk membuka wisata edukasi lebah kelulut.
“Harapannya sih masih bisa berlanjut sampai nanti-nanti. Maintenancenya enggak ribet, kayak saya bilang tadi, kayak pelihara tuyul aja,” tutup Rezky Amalia.