Senjata Replika dengan Tulisan Ekstrem Menghebohkan Insiden Ledakan di SMAN 72 Jakarta
Pada insiden ledakan yang terjadi di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 72 Jakarta Utara, sebuah senjata replika menjadi sorotan utama. Senjata tersebut tidak hanya menciptakan kekacauan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran karena adanya tulisan-tulisan ekstrem di dalamnya. Hal ini memicu perhatian dari berbagai pihak, termasuk lembaga perlindungan anak dan aparat kepolisian.

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Tulisan-Tulisan yang Mengandung Makna Kekerasan
Dalam senjata replika tersebut, terdapat beberapa nama dan frasa yang menggambarkan tindakan kekerasan. Nama-nama seperti Brenton Tarrant, Alexandre Bissonnette, serta frasa "14 Words" dan "Fort Agartha" muncul sebagai bagian dari tulisan tersebut. Brenton Tarrant adalah pelaku penembakan massal di dua masjid di Selandia Baru pada tahun 2019 yang menewaskan 51 orang. Sementara itu, Alexandre Bissonnette adalah pelaku penembakan di masjid Quebec, Kanada, pada 2017 silam, yang menewaskan enam orang.
Selain itu, frasa "14 Words" dikenal sebagai slogan teroris domestik Amerika Serikat, David Eden Lane. Fruasa "For Agartha" berkaitan dengan teori konspirasi supremasi kulit putih. Simbol lain seperti "Natural Selection" merujuk pada teori Darwin, sedangkan Luca Traini adalah pelaku penembakan bermotif neo-Nazi di Italia.

Pengaruh Media Sosial Terhadap Pelaku
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan analisis terhadap tulisan-tulisan tersebut. Ketua KPAI, Margaret Aliyatul Maimuna, menyatakan bahwa ABH (Anak Berkonflik Hukum) dapat mengakses informasi tersebut melalui media sosial. Ia menjelaskan bahwa meskipun ada tujuh tulisan dalam senjata replika tersebut, sebagian besar merujuk pada peristiwa-peristiwa kekerasan di luar negeri.
Margaret menegaskan bahwa ABH terinspirasi oleh peristiwa-peristiwa tersebut. Namun, ia belum bisa memastikan bagaimana ABH mendapatkan informasi tersebut. "Kami menganalisa dari tulisan yang ada di senjata itu. Kan, ada sekitar tujuh tulisan. Tapi kan itu tulisan-tulisan merujuk pada peristiwa-peristiwa kekerasan yang terjadi di luar negeri," ujar Margaret.

Aksi Self-Radicalism yang Mengkhawatirkan
Menurut Margaret, tindakan ABH termasuk dalam kategori self-radicalism. Artinya, ABH mencoba sendiri mengakses konten-konten ekstrem tanpa bantuan dari pihak lain atau jaringan tertentu. Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Asep Edi, juga memastikan bahwa ABH aktor peledak di SMAN 72 Jakarta Utara berinisial F bertindak sendiri dan tidak tergabung dalam jaringan teror.
Namun, Margaret menyatakan bahwa ABH mungkin dipengaruhi oleh beberapa kelompok yang memiliki personel tertentu. Meski demikian, ia belum bisa memberikan detail lebih lanjut tentang hal ini.

Kemampuan ABH yang Menunjukkan Kecerdasan
Margaret juga menyatakan bahwa ABH cukup cerdas. Dari fakta yang ada, pola-pola yang muncul dalam senjata replika tersebut menjadi bukti bahwa ABH memiliki pemahaman yang baik terhadap isu-isu ekstrem. Ia menjelaskan bahwa ABH menonton konten bernuansa kekerasan, sehingga sangat mungkin terinspirasi oleh isi konten tersebut.
"Sehingga kemudian ya sangat mungkin, karena itu kan sudah menjadi visinya. Menjadi visi, ah ini memang akses konten yang sesuai dengan yang disukai ya, yang disukai atau yang jadi visinya, kemudian itu menjadi lebih menginspirasi. Kalau saya mengatakan lebih dalam lagi, karena sampai ditulis," ujar Margaret.
Ia menambahkan bahwa ABH menunjukkan kemampuan untuk menghubungkan berbagai peristiwa kekerasan yang telah ditulis dalam senjata replika tersebut. "Tapi kan, dia mau menunjukkan sebenarnya. Saya mengatakan anak ini cukup cerdas sebenarnya. Karena apa, beberapa kejadian yang ditulis itu kan saling bertautan sebenarnya," kata dia.