Makna Rasa Lapar dan Jalan Keluar dari Kesengsaraan

admin.aiotrade 24 Okt 2025 3 menit 12x dilihat
Makna Rasa Lapar dan Jalan Keluar dari Kesengsaraan
Makna Rasa Lapar dan Jalan Keluar dari Kesengsaraan

Pengertian Syaqawah dalam Perspektif Islam

Manusia sejak diciptakan oleh Allah SWT telah dianugerahi rasa cinta, kasih sayang, dan kelembutan hati. Hal ini dijelaskan dalam QS. Arrum ayat 21 bahwa Allah menciptakan pasangan hidup agar manusia merasa tenteram, dengan mawaddah dan rahmah di antara mereka. Dalam QS. Ali Imran ayat 159, Nabi Muhammad SAW digambarkan lembut hati terhadap umatnya, dan QS. Alfath ayat 29 menegaskan bahwa beliau penuh kasih terhadap sesama mukmin. Rasulullah SAW juga bersabda, “Siapa yang tidak menyayangi manusia, tidak akan disayangi oleh Allah” (HR. Muslim No. 2319).

Namun, di balik fitrah kelembutan ini, manusia juga dihadapkan pada penderitaan—dalam Islam disebut syaqawah. Secara etimologis, kata syaqawah berasal dari syaqiya-yasyqā, yang berarti celaka atau sengsara. Dalam Lisan al-’Arab, istilah ini bermakna kemalangan (an-nahsu wasy-syarr), jauh dari kebaikan (al-bu‘du ‘anil khair), serta kesedihan dan kepayahan (al-‘ana’u wal huzn). Orang yang disebut asy-syaqiyy adalah mereka yang tidak memperoleh rahmat Allah di akhirat, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Hud ayat 105: “Di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia.”

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam The Meaning and Experience of Happiness in Islam, syaqawah mencakup makna kesengsaraan, kesempitan hidup, keputusasaan, hingga penderitaan batin. Alquran juga menggunakan berbagai bentuk kata turunan, seperti tashqa, ashqa, dan shaqiyy yang semuanya menggambarkan keterjauhan dari rahmat Ilahi.

Penderitaan Bukan Hukuman, Tapi Ujian

Kesengsaraan dunia sejatinya bukan karena kemiskinan, sakit, atau musibah, tetapi karena hati yang jauh dari syukur dan sabar. QS. Almulk ayat 2 menegaskan bahwa hidup dan mati adalah ujian: siapa di antara manusia yang paling baik amalnya. Oleh karena itu, penderitaan bukan hukuman, melainkan sarana ujian—apakah manusia mampu bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesempitan. Bila gagal, ia jatuh dalam syaqawah, terhalang dari rahmat Allah.

Islam mengajarkan agar setiap Muslim melawan kecenderungan syaqawah dengan sabar, ikhlas, dan berprasangka baik kepada Allah. QS. Azzumar ayat 10 menyebut, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Kesabaran yang dimaksud bukan sikap pasif, tetapi keteguhan hati untuk tidak mengeluh kepada manusia, melainkan hanya kepada Allah.

Attaghabun ayat 11 me­ne­gaskan, “Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah memberi petunjuk kepada hatinya.” Artinya, penderitaan sejati bukan terletak pada derita fisik, melainkan pada hilangnya keimanan dan harapan.

Melihat Penderitaan sebagai Peluang

Oleh karena itu, umat Islam diajarkan untuk melihat penderitaan sebagai peluang mendekat ke­pada Allah, bukan alasan menjauh dari-Nya. Sebagaimana ditegaskan QS. Alinsyirah ayat 5-6, “Sesungguhnya bersama kesulit­an ada kemudahan.” Maka, ujian adalah cara Allah meninggikan derajat hamba, seperti yang dialami para nabi dan orang saleh—dari kesabaran Nabi Ayyub as hingga keteguhan para syuhada di Uhud.

Kesimpulan

Kesimpulannya, syaqawah dalam Islam bukanlah penderitaan duniawi, melainkan keterjauhan dari rahmat Allah akibat kekufuran dan keputusasaan. Sebaliknya, orang yang sabar, bersyukur, dan tetap berdoa dalam kesempitan sejatinya telah meraih kebahagiaan sejati. Sebab, penderitaan di dunia hanyalah ujian, sementara penderitaan abadi di akhirat adalah bentuk syaqawah yang sesungguhnya. Semoga kita semua terhindar darinya. Amin.



Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan