
Kesalahan Penyebutan Nama Presiden di Siaran Langsung KTT ASEAN
Kesalahan yang terjadi dalam siaran langsung Radio Televisyen Malaysia (RTM) selama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur, Minggu, 26 Oktober 2025, menjadi perhatian global. Kesalahan tersebut terjadi saat komentator RTM salah menyebutkan nama Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, sebagai Joko Widodo. Peristiwa ini menimbulkan reaksi dari berbagai pihak, termasuk jurnalis internasional yang hadir di pusat media KTT ASEAN.
Peristiwa Saat Siaran Langsung
Siaran langsung yang meliput kedatangan para pemimpin negara ASEAN dan tokoh dunia di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC) menjadi saksi dari kesalahan penyebutan ini. Komentator RTM keliru menyebutkan bahwa presiden yang baru tiba adalah Joko Widodo, bukan Prabowo Subianto. Kesalahan ini terdengar jelas oleh para jurnalis dari berbagai negara yang sedang meliput acara tersebut.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dalam keterangan resmi yang diterima di Kuala Lumpur, Departemen Penyiaran Malaysia menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. Pernyataan tersebut mengatakan:
"Departemen Penyiaran Malaysia menyampaikan permohonan maaf yang tulus atas kesalahan yang terjadi selama siaran langsung RTM dalam rangka KTT Ke-47 ASEAN dan pertemuan terkait yang diadakan di Pusat Konvensi Kuala Lumpur (KLCC)."
Hasil Penyelidikan Internal RTM
Setelah melakukan penyelidikan internal, RTM mengonfirmasi bahwa kesalahan berasal dari komentator siaran yang salah menyebutkan nama presiden. Pihak RTM menjelaskan bahwa yang seharusnya disebut adalah Prabowo Subianto, bukan Joko Widodo.
RTM menegaskan bahwa mereka memandang serius masalah ini dan telah mengambil tindakan yang sesuai terhadap pihak yang bertanggung jawab. Dalam pernyataan resmi mereka, RTM menyampaikan permintaan maaf kepada Presiden dan Pemerintah Republik Indonesia, serta semua pihak yang terdampak oleh kesalahan ini.
Tindakan Lanjutan RTM
Sebagai tindak lanjut, RTM menegaskan komitmennya untuk memperkuat prosedur pengawasan editorial dan proses pemeriksaan fakta (fact-checking). Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa semua informasi yang disiarkan oleh stasiun penyiaran tersebut selalu akurat dan tersampaikan dengan integritas.
Beberapa langkah yang akan diambil oleh RTM antara lain:
- Meningkatkan pelatihan bagi staf komentator dan tim produksi
- Memperketat sistem verifikasi informasi sebelum disiarkan
- Menambahkan mekanisme pengawasan tambahan selama siaran langsung
Reaksi Internasional
Peristiwa ini juga mendapat perhatian dari media internasional. Banyak outlet berita dari berbagai negara memberitakan kesalahan penyebutan ini, menyoroti pentingnya akurasi dalam penyiaran berita, terutama dalam konteks internasional.
Selain itu, beberapa tokoh politik dan jurnalis internasional memberikan tanggapan terkait insiden ini, menekankan bahwa kesalahan seperti ini dapat memengaruhi citra sebuah lembaga penyiaran dan hubungan diplomatik antar negara.
Kesimpulan
Insiden yang terjadi selama siaran langsung KTT ASEAN 2025 menjadi pelajaran berharga bagi RTM dan lembaga penyiaran lainnya. Kesalahan penyebutan nama presiden tidak hanya bisa merusak reputasi stasiun, tetapi juga berpotensi memicu ketidaknyamanan dalam hubungan bilateral antar negara. Dengan tindakan yang diambil, RTM menunjukkan komitmen untuk meningkatkan kualitas penyiaran dan menjaga integritas informasi yang disampaikan kepada publik.