Malaysia Tertangkap Basah, Tapi Nggak Mau Disalahkan, Vietnam: Macan Kertas yang Hanya Ngengat!

admin.aiotrade 08 Nov 2025 3 menit 16x dilihat
Malaysia Tertangkap Basah, Tapi Nggak Mau Disalahkan, Vietnam: Macan Kertas yang Hanya Ngengat!


Pembelaan terhadap skandal naturalisasi pemain sepak bola Malaysia yang sedang memicu perdebatan internasional, kini menarik perhatian banyak pihak. Dalam beberapa waktu terakhir, isu ini tidak hanya menjadi sorotan di Asia, tetapi juga mendapat perhatian dari berbagai media global, termasuk di Argentina.

Tiga dari tujuh pemain naturalisasi Malaysia yang dikenai sanksi oleh FIFA berasal dari negara tersebut. Mereka adalah Facundo Garces, Imanol Machuca, dan Rodrigo Holgado. Kasus ini pun menjadi topik utama dalam diskusi media lokal Negeri Tango. Bahkan seorang pengacara ternama asal Argentina, Carlos Iparraguirre, ikut memberikan komentarnya mengenai hal ini.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Iparraguirre menyebut kasus Malaysia sebagai aib bagi sepak bola negara tersebut. Menurutnya, kasus ini bisa menjadi contoh penting bagi federasi sepak bola lain dalam mencegah tindakan serupa. Ia menilai bahwa tindakan para pemain tersebut merupakan pelanggaran yang jelas dan nyata. FIFA sendiri menanggapi kasus ini dengan serius dan menganggapnya sebagai contoh bagi negara-negara lain.

"Sanksi dari FIFA sungguh memalukan. Para pemain mungkin tidak sepenuhnya menyadari keseriusan tindakan mereka," ujar Iparraguirre. Ia juga menekankan bahwa nasib para pemain bisa diselesaikan secara internal dengan klub, namun klub memiliki dasar kuat untuk memutus kontrak mereka.

"Kasus ini jelas melanggar aturan. Situasi antara mereka dan klub hanya dapat diselesaikan sesuai peraturan internal. Tetapi jelas bahwa ini dasar yang kuat bagi mereka untuk menentukan bahwa para pemain telah melanggar kontrak," tambahnya.

Meski begitu, Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) masih bersikeras tidak mengakui kesalahan mereka. Setelah banding mereka ditolak, FAM terus berupaya melawan keputusan FIFA. Dengan dukungan dana dari Tunku Ismail Idris, anak Sultan Johor, FAM akan membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga Internasional (CAS).

Namun, langkah ini justru mendapat kritik keras dari berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri. Publik Vietnam, misalnya, merasa heran dengan sikap Malaysia yang tidak mau mengakui kesalahan dalam skandal ini. Mereka mengejek Malaysia sebagai "ngengat yang terbakar karena menerjang api", serta menyebutnya sebagai "Macan Kertas" yang menyedihkan.

"Mereka ingin menjadi ngengat yang terbakar di depan api yang diterjangnya, betapa menyedihkan Macan Kertas yang satu ini," tulis netizen Vietnam.

Sebelum mengajukan banding ke CAS, FAM memiliki waktu selama 10 hari untuk mendapatkan rincian putusan banding yang ditolak. Setelah itu, mereka memiliki waktu selama 21 hari untuk mengajukan kasus ini ke CAS. Semua biaya pengajuan ini ditanggung oleh Tunku Ismail Idris.

Banyak pihak pesimis dengan kemungkinan kemenangan Malaysia dalam kasus ini. Mayoritas pendapat menyebut bahwa Malaysia berpotensi mendapat sanksi lebih berat jika gagal meyakinkan CAS. Nasib Malaysia setelah membawa kasus ini ke CAS sangat dinantikan oleh banyak pihak.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan