
Malu-Malu Tapi Mau
Pukul 09:00 WITA hari Jumat. Aku sedang berbaring di tempat tidurku. Hari itu hujan deras, dan aku merasa kedinginan. Tubuhku menggigil meskipun sudah memakai selimut yang tebal. "Hujan berhenti ya, dingin... n." Ucapku dalam selimut.
Tiba-tiba, terdengar suara notifikasi pesan masuk di aplikasi hijau. "Hai Cahaya, ada pesan tuh! Cepat dibuka." Setelah aku lihat ternyata pesan dari kekasihku. Yang bernama lengkap Artif Mahendra. Atau yang biasa dipanggil Artif. Cepat aku buka.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Sayang. Kamu dimana?" Tanyanya.
"Di rumah sayang." Balasku.
"Aku ke situ, ya, sayang." Katanya.
"Tapi, ini hujan sayang." Balasku.
"Nanti kalau hujan sudah redah sayang." Katanya.
"Oke. Aku tunggu. Sayang." Balasku.
Aku tidak berharap dia datang. Lanjut rebahan menonton Tiktok. "Hujan semakin deras, pasti dia tidak datang." Aku bergumam dalam hati.
"Hai Cahaya, ada pesan tuh! Cepat dibuka." Ternyata aku salah, tiba-tiba dia mengirim pesan dan fotonya, yang singgah di pinggir jalan. "Sayang aku sudah di jalan, sedikit lagi sampai."
"Iya, hati-hati di jalan sayang, jangan ngebut!" Balasku.
"Iya, sayangku." Balasnya.
"Kok dia hujan-hujanan? Sih! Ada-ada aja kamu sayang. Kasihan kekasihku. Hujan berhenti ya, please me!" Aku bergumam dalam hati sambil membaca pesannya.
Beberapa menit kemudian......
Dia sampai di rumahku mengendarai motor Beat Stret. Aku menyambutnya, aku lihat dia basah, menahan dingin, aku kasihan, aku tidak menyangka dia senekat itu. Langsung saja aku suruh masuk.
"Ayo masuk. Kamu kenapa hujan-hujanan. Sayang? Kirain kamu tidak datang." Tanyaku khawatir.
"Aku pengen ketemu kamu. Sayang. Sudah lama kita tidak ketemu, aku rindu." Jawabnya.
"Kan bisa tunggu hujan reda, sayang. Kamu jadi basah seperti ini." Ucapku.
"Kalau aku tunggu hujan reda, yang ada lama." Ucapnya.
Aku pun senyum mendengarnya. "Iya sih! Ayo duduk sayang."
Kami berdua lalu duduk bersama, dia melepaskan jaketnya, sebenarnya beberapa bulan kami bertengkar, karena terjadi kesalah pahaman di antara kami. Aku sangat bersyukur dia mau datang. Aku dan dia canggung. Tapi lama-lama canggung itu hilang dengan sendirinya, kami sangat bahagia hari itu, bercerita banyak hal, dia juga bercerita tentang hari-harinya selama kami bertengkar dan pekerjaannya.
Akhirnya hujan pun reda, kami bahagia, kami lanjut bercerita lagi. Dia meminta tolong kepada aku, untuk memijit tangannya, katanya dia kecapean. Tapi aku tahu dia modus, sebenarnya dia adalah bos ditempat kerjanya, tapi dia menyembunyikan dari aku, entah apa sebabnya? Dia pernah keceplosan "3 juta aku bayar sayang karena mereka, mobilnya orang tidak bisa jalan, aku harus tanggung jawab. Padahal sudah 2 Tahun kerja, masih saja salah urus mesin." Ucapnya. Aku pura-pura tidak tahu saja, supaya dia besar kepala. Hahaha...
"Sayang tolong dong, pijit tangan aku." Suruhnya.
Aku meraih tangannya. Langsung aku pijit! "Kamu capek kenapa sayang?"
"Tadi banyak mobil yang masuk sayang. Aku kecapean." Jawabnya.
Padahal aku tahu ada karyawannya yang kerja, dia pura-pura jadi karyawan. "Oh! Begitu ya, sayang." Ucapku.
"Iya sayang. Yang kuat pijitnya." Ucapnya dengan senyum-senyum.
"Aku kerjain sepertinya bagus, nih!" Aku bergumam dalam hati sambil melepas tangannya.
"Lagi sayang, kenapa berhenti?" Tanyanya penasaran.
"Tidak sayang." Jawabku.
"Hmmm... Begitu." Ucapnya dengan senyum-senyum.
"Kamu kerjain aku, ya, sayang?" Tanyaku penasaran.
Dia senyum-senyum "Tidak sayang."
Aku pun ikut senyum melihatnya, senyum karena tahu modusnya. "Ayo jujur! Kamu tidak capek, kan?" Tanyaku semakin penasaran.
Dia masih senyum-senyum. Sembari memberikan tangannya lagi kepada aku. "Tidak sayang. Aku kecapean, aduh! Ayo pijit lagi dong!"
Aku pijit kembali, lalu aku diam sebentar, melihat wajahnya yang tampan itu dengan lama, tanpa berkedip, dengan sengaja, berharap dia jujur. Aku lihat dia gelisah, malu-malu, dan menunduk tidak mau melihat aku yang sudah curiga dengannya.
Setelah beberapa menit kemudian....
Dia berhenti menunduk. Kami berdua saling menatap dan tertawa bersama-sama. "Hahaha..." Sebenarnya aku bahagia tapi tidak memperlihatkan kepadanya. Aku malu. Tepatnya malu-malu tapi mau. Kami sering bertengkar, tapi, ketika bertemu kami baikan lagi. Dia selalu mengalah, dan berusaha supaya kami tidak lama bertengkar.
Tiba-tiba, terdengar suara adzan dari mesjid yang terdekat dengan rumah aku. "Allah Akbar, Allah Akbar."
"Sayang sudah adzan. Ini kan hari Jum'at, kamu shalat dulu. Shalat Jum'at cuman 1 kali dalam seminggu." Suruhku.
"Oh! Iya sayang. Aku pulang dulu." Pamitnya.
"Iya, silahkan sayang." Jawabku.
Dia pamit pulang tapi seperti tidak ingin pulang, beberapa kali berdiri lalu duduk lagi. "Sayang kamu husir aku, sayang aku pulang ya. Sayang aku pulang nih!" Hingga aku bingung dengan dia.
"Iya, silahkan sayang." Ucapku dengan senyum.
"Aku pulang sayang." Pamitnya lagi.
"Iya sayang, cepat nanti kamu terlambat shalat Jum'at." Ucapku.
"Iya sayang. Ini pulang!" Ucapnya keluar mengambil motornya.
"Jangan ngebut!" Ucapku.
"Tit..." Mengklakson aku, lalu dia pulang ke rumahnya.
Setelah dia pulang, aku lanjut rebahan, tiba-tiba, aku teringat denganya. "Lucunya, ada-ada aja kamu sayang." Aku tertawa dalam hati, lalu menutupkan kembali tubuhku dengan selimut.