
aiotrade.CO.ID - JAKARTA.
PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) telah menetapkan harga Initial Public Offering (IPO) sebesar Rp 635 per saham. Harga ini berada di tengah rentang penawaran awal yang ditentukan antara Rp 525 hingga Rp 695. Penetapan harga tersebut menjadi langkah strategis dalam proses IPO yang akan dilakukan oleh perusahaan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dalam penawaran umum, Super Bank menawarkan sebanyak 1,4 miliar saham atau setara dengan 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dengan jumlah saham tersebut, perusahaan berpotensi meraih dana segar sebesar Rp 2,79 triliun. Dana ini akan digunakan untuk memperkuat posisi perusahaan sebagai bank digital yang sedang berkembang pesat.
Masa penawaran umum akan dimulai pada tanggal 10 hingga 15 Desember 2025. Proses ini menjadi momen penting bagi Super Bank, karena akan membuka akses lebih luas kepada investor dan memperkuat struktur modal perusahaan.
Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana, menjelaskan bahwa penetapan harga IPO Superbank mencerminkan hasil mekanisme pasar. Menurutnya, harga yang ditetapkan berada di tengah rentang penawaran awal karena permintaan investor selama masa bookbuilding cukup kuat.
“Jadi memang permintaannya ada di situ, jadi kami tetapkan seperti biasanya IPO saja,” ujarnya saat ditemui di kawasan Jakarta, Selasa (9/12).
Oki menambahkan bahwa harga IPO mencerminkan titik temu antara minat investor dan penawaran perusahaan. Ia menjelaskan bahwa selama masa bookbuilding, permintaan investor menjadi acuan utama dalam menentukan harga penawaran.
“Waktu bookbuilding, harganya diatur di situ, kan tidak mungkin kami pasang di paling bawah atau paling tengah kalau enggak tidak ada permintaannya,” ucapnya.
Menurut informasi yang diperoleh, Super Bank mengalami kelebihan permintaan alias oversubscribed selama masa bookbuilding. Namun, Oki tidak merinci besaran oversubscribed yang terjadi.
Rencananya, sebanyak 70% dari dana hasil IPO setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan untuk modal kerja. Tujuannya adalah untuk mendukung penyaluran kredit oleh Super Bank. Sementara itu, sisanya akan dialokasikan sebagai belanja modal.
Penggunaan belanja modal tersebut akan dilakukan secara bertahap mulai tahun 2026 hingga lima tahun ke depan. Dana ini akan digunakan untuk pengembangan produk, pengembangan teknologi, serta infrastruktur perusahaan.
Dengan langkah-langkah ini, Super Bank berharap dapat memperkuat posisinya sebagai salah satu bank digital terkemuka di Indonesia. Proses IPO ini juga menjadi langkah strategis dalam memperluas basis investor dan meningkatkan kapasitas operasional perusahaan.