
Proyeksi IHSG dan Kinerja Pasar Modal
Mandiri Sekuritas memberikan proyeksi terkait Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diperkirakan bisa mencapai level 9.350 pada tahun 2026. Proyeksi ini didasarkan pada berbagai faktor yang memengaruhi kinerja pasar modal, termasuk pertumbuhan laba per saham (EPS growth) sebesar 10% dan adanya katalis jumbo yang dapat mendukung indeks tersebut.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Head of Equity Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas, Adrian Joezer, menargetkan IHSG berada di level 9.050 dengan skenario bull case di 9.350. Target ini disusun pada November 2024 ketika indeks masih berada di kisaran 7.000 hingga 7.900. Dengan demikian, ruang kenaikan dari posisi saat ini dinilai tidak terlalu besar.
Joezer menjelaskan bahwa keterbatasan kenaikan IHSG dipengaruhi oleh asumsi EPS growth yang digunakan dalam penyusunan proyeksi. Selain itu, sektor-sektor yang bisa menjadi perhatian investor antara lain keuangan, emas dan tembaga, alat berat, retail, konsumer, kesehatan, teknologi, dan lain-lain.
“Saat ini IHSG sudah berada di level 14% - 15%. Jadi, jika ada revisi, tendensi bisa lebih positif ke atas,” ujar Joezer dalam acara economic outlook Mandiri Sekuritas, Selasa (9/12).
Pasar modal juga didukung oleh stabilisasi pertumbuhan menjelang akhir kuartal ketiga dan keempat 2025. Hal ini dipengaruhi oleh akselerasi fiskal dan meningkatnya sentimen pasar.
Proyeksi Pasar Obligasi
Di sisi lain, Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto, menilai bahwa pasar obligasi masih dalam tren positif untuk tahun 2025. Namun, prospeknya cenderung netral pada 2026.
Menurut Handy, pasar obligasi didorong oleh ekspektasi berlanjutnya siklus penurunan suku bunga dan imbal hasil obligasi Indonesia yang relatif menarik dibandingkan negara berkembang lainnya. Pada 2026, beberapa risiko mulai muncul seperti potensi inflow yield yang lebih rendah, siklus penurunan suku bunga Bank Indonesia yang mendekati akhir, serta risiko peningkatan pasokan obligasi.
Handy menyatakan bahwa imbal hasil obligasi pada 2026 kemungkinan lebih banyak digerakkan oleh carry dibandingkan potensi capital gain, meskipun tingkat imbal hasilnya tetap berada jauh di atas inflasi.
Proyeksi Makro Ekonomi
Seiring dengan proyeksi pasar keuangan, Chief Economist Mandiri Sekuritas, Rangga Cipta, memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan meningkat menjadi 5,2% pada 2026, naik dari estimasi 5% pada 2025. Momentum pertumbuhan ekonomi diperkirakan membaik pada 2026 sejalan dengan kebijakan fiskal yang dinilai lebih ekspansif.
“Defisit fiskal diperkirakan sebesar 2,8% dari PDB, sedikit lebih tinggi dari 2,7% dalam anggaran, yang mencerminkan pengeluaran yang lebih agresif, namun kekurangan pendapatan yang cukup besar mengingat target yang ambisius,” ujar Rangga.
Mandiri Sekuritas juga memproyeksikan nilai tukar rupiah rata-rata berada di level Rp 16.800 pada 2026, mencerminkan depresiasi sekitar 1,8% dibandingkan level Rp 16.500 yang diperkirakan pada 2025. Pelemahan ini dipengaruhi oleh tekanan dari defisit transaksi berjalan yang diproyeksikan lebih lebar. Sementara siklus penurunan suku bunga The Fed diperkirakan membatasi penguatan dolar AS.
Dari sisi harga, inflasi rata-rata pada 2026 diperkirakan mencapai 2,8% secara tahunan alias year on year (yoy), meningkat dari 1,9% pada 2025, terutama karena efek dasar yang rendah akibat diskon tarif listrik pada tahun ini.
Kemudian, defisit transaksi berjalan diperkirakan melebar signifikan menjadi 1,1% dari PDB, dari perkiraan 0,3% pada 2025. Rangga menyebut hal ini mencerminkan dampak tarif Trump serta spillover dari penutupan tambang Grasberg milik Freeport di tengah pemulihan permintaan domestik.
Mandiri Sekuritas juga memperkirakan BI Rate terminal berada di 4,25%, yang mengimplikasikan dua kali pemotongan suku bunga sebesar 25 bps lagi. Dalam asumsi dasarnya, BI diperkirakan akan memangkas suku bunga sebesar 25 bps pada kuartal pertama 2026 setelah satu kali pemotongan 25 bps pada kuartal keempat 2025.
“Hal ini akan membawa suku bunga riil BI ke sekitar 1,8%, mendekati rata-rata jangka panjangnya di angka 1,6%,” kata dia.