Mantan Direktur WHO Ingatkan Indonesia Waspadai Hantavirus, Ini 5 Perkembangannya

Mantan Direktur WHO Ingatkan Indonesia Waspadai Hantavirus, Ini 5 Perkembangannya


Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama, menyampaikan peringatan penting mengenai penyebaran Hantavirus. Ia menekankan bahwa semua negara, termasuk Indonesia, harus meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini. Hal ini didasarkan pada data Kementerian Kesehatan yang menunjukkan bahwa angka kematian akibat Hantavirus di Indonesia mencapai 13% pada tahun lalu.

"Angka kematian Hantavirus di negara kita adalah 13%, yang jelas menjadi perhatian serius. Sebab, data dari Asia selama ini menunjukkan bahwa angka kematian Hantavirus di kawasan ini berada di bawah 5%, bahkan ada yang menyebutkan hanya 1%," ujarnya melalui keterangan tertulis.

Menurut Tjandra, data Kemenkes tersebut juga menyebutkan bahwa kasus kematian terkait dengan komorbid atau komplikasi dengan penyakit lain. Namun, ia menegaskan bahwa hal ini tidak sepenuhnya membedakan situasi di Indonesia dibandingkan negara-negara lain. "Tetapi di negara lain pun bisa saja ada komorbid dan angka kematian lebih rendah," tambahnya.

Kasus Hantavirus kini menjadi topik pembicaraan utama setelah ditemukan di kapal pesiar. Menurut Tjandra, kejadian ini menunjukkan bahwa masalah Hantavirus telah melampaui batas wilayah dan menjadi isu internasional. Pasalnya, warga yang terinfeksi berasal dari 23 negara berbeda.

Apa Itu Hantavirus?

Hantavirus adalah virus yang dapat menyebabkan penyakit paru-paru berat (severe respiratory illness). Penularannya biasanya terjadi melalui kontak langsung dengan hewan pengerat seperti tikus, terutama melalui air liur, kotoran, atau urine mereka. Virus ini tidak menular dari manusia ke manusia secara langsung, meskipun dalam beberapa kasus terbukti terjadi penularan antar manusia.

Apakah Hantavirus Bisa Sembuh?

Pengobatan untuk Hantavirus masih bersifat simptomatik, artinya tidak ada obat khusus yang mampu menghilangkan virus secara langsung. Pengobatan fokus pada pengelolaan gejala dan pemulihan fungsi paru-paru. Dalam beberapa kasus, pasien dapat sembuh jika mendapatkan perawatan intensif, tetapi tingkat kematian tetap tinggi terutama jika infeksi terjadi pada kondisi yang sudah parah.

Faktor Risiko dan Gejala

Faktor risiko utama terkena Hantavirus adalah paparan lingkungan yang terkontaminasi oleh hewan pengerat. Gejalanya mirip dengan flu, seperti demam, batuk, dan nyeri otot. Namun, dalam beberapa hari, gejala bisa berkembang menjadi penyakit paru-paru berat yang berbahaya.

Lima Perkembangan Terbaru

WHO baru-baru ini mengeluarkan peringatan tentang peningkatan mendadak kejadian Hantavirus. Berikut lima perkembangan terbaru yang menjadi perhatian dunia kesehatan:

  1. Jumlah Kasus: Pada tanggal 8 Mei kemarin, terdapat 6 kasus terkonfirmasi secara laboratorium, semua positif Hantavirus jenis Andes virus (ANDV) berdasarkan hasil pemeriksaan PCR atau sekuensing. Selain itu, ada 2 kasus probable, sehingga total 8 kasus infeksi Hantavirus di kapal pesiar tersebut.

  2. Angka Kematian: Dari 8 kasus tersebut, 3 diantaranya meninggal. Angka kematian (case fatality ratio) mencapai 38%, yang sangat tinggi dan mengkhawatirkan.

  3. Evakuasi Medis: Dua kali penerbangan evakuasi medis telah dilakukan dari Cabo Verde ke Belanda. Data terakhir menunjukkan bahwa pasien-pasien ini kini tersebar di Johannesburg, Afrika Selatan, Belanda, dan Zurich, Swiss. Satu kasus di bawa ke Jerman, namun hasil tes PCR dan serologinya negatif, sehingga tidak lagi dianggap sebagai kasus infeksi Hantavirus.

  4. Hipotesis Penularan: WHO menyampaikan hipotesis kerja bahwa kasus pertama mungkin terinfeksi Hantavirus sebelum naik ke kapal pesiar, melalui penularan lingkungan di Argentina dan Chile. Setelah itu, terjadi penularan manusia ke manusia di atas kapal pesiar. Penelitian masih terus dilakukan untuk memvalidasi hipotesis ini.

  5. Kontak dengan Pramugari: Ada informasi bahwa seorang pramugari KLM sedang dalam observasi karena kemungkinan tertular. Namun, hasil pemeriksaan laboratorium pada 8 Mei menunjukkan bahwa ia negatif Hantavirus. Pemantauan terhadap kontak-kontak lain masih berlangsung. Di atas kapal pesiar ini juga terdapat warga dari ASEAN, termasuk Filipina dan Singapura.