
Kritik terhadap Pengelolaan FORKI Sultra
Pengurus Provinsi (Pengprov) Federasi Karate-Do Indonesia (Forki) Sulawesi Tenggara (Sultra) kembali mendapat tekanan dari kalangan pelatih dan penggiat olahraga karate setempat. Hal ini terjadi setelah para atlet karate Sultra gagal meraih prestasi yang memuaskan dalam dua ajang nasional, yaitu Pekan Olahraga Nasional (PON) Bela Diri dan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS).
Salah satu pelatih karate Sultra, Rasyid, menilai bahwa kegagalan ini bukan disebabkan oleh ketidaksiapan atlet atau pelatih. Ia menegaskan bahwa masalah utama berasal dari manajemen organisasi Forki Sultra yang dinilai tidak transparan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Kami melihat bahwa proses perekrutan atlet hingga pemberangkatan mereka ke ajang nasional ditutup-tutupi. Setiap organisasi seharusnya memiliki kerja sama yang baik antar sesama pengurus," ujarnya.
Rasyid mengungkapkan bahwa kepengurusan Forki Sultra saat ini berbeda dengan masa lalu. Menurutnya, semua keputusan diambil secara sepihak tanpa melalui rapat atau musyawarah. Ia menyebut bahwa Forki Sultra kini terasa seperti milik pribadi, sehingga diperlukan solidaritas antara seluruh elemen penggiat olahraga karate di Sultra.
"Keberhasilan bukan hanya diukur dari kemampuan atlet, pelatih, atau ketua Pengprov. Tetapi keberhasilan itu diraih karena adanya kerjasama yang baik antar pengurus," katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa Ketua Pengprov FORKI Sultra pernah berjanji akan membenahi organisasi agar tidak mengulang kegagalan sebelumnya. Namun, menurut Rasyid, hal tersebut belum terwujud.
Menurutnya, Forki Sultra saat ini hanya bekerja dengan melibatkan beberapa orang saja. Bahkan, ironisnya, ada pihak yang tidak terdaftar sebagai pengurus resmi turut dilibatkan dalam dua kegiatan nasional baru-baru ini.
"Ini menandakan Forki Sultra sudah tidak sehat," ujarnya.
Tantangan dalam Pengelolaan Olahraga Karate
Masalah transparansi dan partisipasi yang tidak merata dalam pengelolaan FORKI Sultra menjadi isu penting yang harus segera diatasi. Rasyid menyoroti bahwa kegagalan dalam dua event nasional ini bukan hanya tentang hasil yang tidak memuaskan, tetapi juga tentang bagaimana organisasi berjalan dan siapa yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
- Keputusan diambil tanpa melibatkan seluruh pengurus
- Proses perekrutan atlet tidak transparan
- Ada pihak yang tidak terdaftar sebagai pengurus ikut campur dalam kegiatan nasional
Selain itu, Rasyid menilai bahwa struktur organisasi saat ini tidak mendorong kolaborasi yang efektif antara pengurus dan pelatih. Hal ini memengaruhi kesiapan dan motivasi atlet dalam menghadapi kompetisi nasional.
Langkah yang Diharapkan
Untuk mengembalikan kepercayaan dan meningkatkan prestasi, Rasyid menyarankan beberapa langkah penting:
- Evaluasi kinerja organisasi secara menyeluruh
- Meningkatkan transparansi dalam pengambilan keputusan
- Melibatkan seluruh pengurus dalam proses pengelolaan
- Membentuk sistem kerja sama yang lebih kuat antara pengurus dan pelatih
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan Forki Sultra dapat kembali menjadi organisasi yang mampu menghasilkan bibit atlet karate berkualitas dan berprestasi.