Marwan Dasopang Ingatkan Pentingnya Merawat Warisan Islam di Barus

admin.aiotrade 21 Okt 2025 2 menit 9x dilihat
Marwan Dasopang Ingatkan Pentingnya Merawat Warisan Islam di Barus


aiotrade

Pentingnya Merawat Jejak Awal Islam di Barus

Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, menekankan pentingnya merawat jejak awal Islam di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Ia menilai bahwa perlu adanya langkah-langkah yang dapat memperkuat literasi sejarah publik melalui riset, kurasi artefak, dan ekosistem edukasi yang bisa diakses oleh generasi muda.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Sejarah bukan sekadar masa lalu, tetapi juga fondasi nilai. Penelusuran jejak Syeikh Mahmud di Barus membantu pemahaman sanad perjuangan dan penyebaran Islam yang damai, moderat, dan berakar pada budaya lokal Nusantara,” ujarnya dalam seminar Hari Santri Nasional bertajuk Titik Nol Islam Nusantara dan Jejak Syeikh Mahmud di Barus, Senin (20/10).

Marwan mengajak adanya kolaborasi lintas lembaga, akademisi, pemerintah daerah, komunitas ulama, dan pelaku budaya agar narasi ilmiah tentang Barus semakin terverifikasi. Ia menegaskan bahwa penelusuran Islam Nusantara, khususnya penelusuran Syeikh Mahmud Barus, menegaskan kembali peran historis Barus sebagai salah satu gerbang awal dakwah Islam di kepulauan Nusantara.

Pernyataan Marwan diamini oleh dua pembicara lainnya, yakni Ahmad Baso serta Nurdin Ahmad Tanjung. Ahmad Baso menyoroti pentingnya knowledge stewardship atas sumber-sumber primer naskah, epigrafi, dan tradisi lisan sebagai pondasi penulisan sejarah Islam Nusantara yang andal.

Sementara itu, Nurdin Ahmad Tanjung memetakan temuan-temuan lapangan yang berkaitan dengan topografi situs, jaringan perdagangan maritim, dan memori komunitas, seraya menegaskan kebutuhan dokumentasi yang sistematis dan berkelanjutan.

Materi presentasi turut menampilkan ringkasan bukti-bukti historis dan arkeologis mengenai Barus mulai dari catatan pelabuhan kuno, komoditas kemenyan dan kapur barus, hingga sebaran makam tua serta penanda epigrafis yang dikaitkan dengan Syeikh Mahmud sebagai penguat argumen titik nol Islam Nusantara di kawasan ini.

Rekomendasi Seminar

Berikut beberapa rekomendasi yang disampaikan dalam seminar:

  • Penegasan sanad perjuangan dan penyebaran Islam di Barus
    Memadukan riset filologis, genealogi keilmuan, dan sejarah sosial-keagamaan untuk memetakan jaringan ulama, tarekat, serta rute niaga-dakwah yang menghubungkan Barus dengan pusat-pusat Islam di kawasan Samudra Hindia.

  • Penelusuran sejarah berbasis teks, situs, dan artefak
    Mengumpulkan, mengkatalogkan, dan memverifikasi naskah, prasasti, nisan, serta temuan arkeologis yang relevan dengan keberadaan Syeikh Mahmud di Barus; memastikan prosedur ilmiah (dating, konteks temuan, dan provenance) agar dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dan edukatif.

  • Pembangunan narasi dan infrastruktur memori publik
    Mengembangkan Museum Barus dan Syeikh Mahmud berbasis data sejarah yang tervalidasi lengkap dengan kurasi pameran, pusat dokumentasi digital, dan program residensi riset, agar pengetahuan ini hidup dalam pendidikan, pariwisata sejarah, dan diplomasi budaya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan