Masa depan Robinhood di pasar modal Indonesia, seberapa besar ekspansi yang diincar?

admin.aiotrade 08 Des 2025 3 menit 14x dilihat
Masa depan Robinhood di pasar modal Indonesia, seberapa besar ekspansi yang diincar?


Robinhood Markets, Inc., sebuah perusahaan fintech besar asal Amerika Serikat (AS), kini memperluas cakupan operasinya ke pasar modal Indonesia setelah melengkapi akuisisi penuh terhadap Buana Capital Sekuritas dan PT Pedagang Aset Kripto pada Senin (8/12). Meski demikian, Robinhood dan Buana Capital tidak mengungkapkan nilai akuisisi tersebut.

Setelah proses akuisisi selesai, Robinhood akan tetap melayani nasabah yang sudah ada dengan berbagai produk keuangan lokal. Dalam jangka panjang, setelah mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Robinhood akan menawarkan aplikasi perdagangan yang mencakup akses ke saham AS, aset kripto global, serta instrumen keuangan internasional lainnya.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Patrick Chan, Head of Robinhood Asia, menyampaikan harapan bahwa rencana ini dapat terealisasi dalam tahun pertama operasional. Ia juga menjelaskan bahwa Robinhood berencana untuk siap pada 2027, sejalan dengan pengembangan sistem terkait aliran dana, kepatuhan, proses onboarding, dan kebutuhan operasional lainnya.

Jejak Perusahaan di Pasar Modal Indonesia

Robinhood telah membangun reputasi sebagai platform perdagangan saham, ETF, opsi, futures, hingga kripto. Perusahaan ini memiliki lebih dari 27 juta pelanggan dan total aset kelolaan mencapai US$ 343 miliar. Robinhood dikenal sebagai pionir perdagangan tanpa komisi dengan basis pengguna muda yang besar.

Akuisisi Buana Capital dan Pedagang Aset Kripto merupakan langkah strategis bagi Robinhood dalam memperluas pasar ke negara-negara berkembang seperti Indonesia. Patrick menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pasar modal, terutama dalam meningkatkan minat investor saham. Oleh karena itu, Robinhood ingin hadir di Indonesia untuk membantu calon investor meningkatkan literasi keuangan sekaligus mempermudah akses mereka ke pasar modal.

Perjalanan Bisnis Robinhood

Robinhood didirikan oleh Vladimir Tenev dan Baiju Bhatt, dua insinyur yang sebelumnya membangun platform high-frequency trading di New York. Sejak awal kehadirannya, Robinhood menyita perhatian investor lantaran aplikasinya yang sederhana serta biaya transaksi yang nol. Robinhood resmi meluncurkan aplikasi perdagangan saham dan ETF pada Maret 2015, dengan model bisnis yang mengandalkan payment for order flow, margin lending, serta transaksi aset kripto.

Layanan kripto mulai ditawarkan pada Februari 2018, diikuti produk cash-management pada 2019 melalui kemitraan dengan bank yang diasuransikan FDIC. Perusahaan ini kemudian memperluas ekspansinya ke pasar Inggris pada 2024, dan pada 2025 mulai memasuki kawasan Eropa dengan layanan tokenisasi saham dan ETF. Kinerja bisnis Robinhood makin diperkuat setelah perseroan mencatatkan saham perdananya di Nasdaq pada 29 Juli 2021.

Kontroversi dan Tantangan

Meskipun Robinhood sukses dalam merangkul pengguna muda, perjalanan bisnisnya tidak lepas dari kontroversi. Skema payment for order flow sering dikritik karena dinilai berpotensi merugikan kualitas eksekusi bagi pelanggan. Perusahaan juga pernah diterpa gangguan sistem besar pada awal pandemi Covid-19, termasuk outage pada awal Maret 2020 ketika pasar sedang bergejolak.

Namun, Robinhood tetap menjadi simbol transformasi perdagangan ritel berbasis aplikasi. Dengan model bisnis yang mengutamakan akses finansial dan teknologi yang efisien, langkah ekspansi perusahaan ke berbagai pasar internasional dipandang dapat mendorong evolusi ekosistem investasi ritel, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia.

Rencana Akuisisi dan Proses Persetujuan

Untuk akuisisi Buana Capital dan Perdagangan Aset Kripto, Robinhood menyatakan layanan untuk nasabah eksisting tetap berjalan seperti biasa dengan produk-produk lokal yang selama ini tersedia. Ke depan, perusahaan menargetkan dapat memperluas jenis layanan, termasuk akses perdagangan saham Amerika Serikat, aset kripto global, hingga instrumen internasional lainnya, setelah memperoleh restu regulator.

Kedua akuisisi tersebut masih harus memenuhi persyaratan penutupan transaksi, termasuk perizinan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan regulator terkait. Penyelesaian aksi korporasi itu ditargetkan rampung pada paruh pertama 2026.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan