Masa Depan Saham COIN, TRIN, dan WIFI di Tangan Djojohadikusumo

admin.aiotrade 15 Des 2025 4 menit 14x dilihat
Masa Depan Saham COIN, TRIN, dan WIFI di Tangan Djojohadikusumo

Pengaruh Keluarga Djojohadikusumo di Pasar Modal

Menjelang penutupan 2025, keluarga Presiden RI Prabowo Subianto semakin aktif dalam berbagai sektor bisnis. Salah satu perwakilan dari keluarga tersebut adalah Hashim Djojohadikusumo, yang kini menjadi salah satu pemegang saham PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN). Ia masuk melalui perusahaan investasi multisektor miliknya, PT Arsari Nusa Investama.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Selain Hashim, kehadiran anggota keluarga lainnya juga terlihat di pasar modal. Putri Hashim, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, turut mengambil peran strategis di bursa. Ia diangkat sebagai Komisaris Utama PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN). Selain itu, Rahayu juga mengakuisisi 5% saham TRIN dengan rencana peningkatan kepemilikan secara bertahap hingga 20%. Skema ini tertuang dalam perjanjian yang ditandatangani pada 2 Desember 2025.

Perluasan pengaruh keluarga Djojohadikusumo di pasar modal dinilai oleh para pengamat sebagai sentimen positif bagi saham COIN dan TRIN. Reydi Octa, pengamat pasar modal, menyatakan bahwa kehadiran investor besar yang dekat dengan lingkaran pemerintah dapat meningkatkan persepsi investor terhadap saham-saham tersebut.

“Sangat berpotensi menjadi sentimen positif, terutama dari sisi persepsi investor. Investor besar yang terkait dekat dengan lingkar pemerintah dipercaya memiliki prospek lebih menjanjikan dan dapat menarik minat investor dalam jangka menengah,” ujar Reydi.

Reydi juga menilai bahwa kehadiran Hashim di COIN dapat memperkuat kepercayaan investor terhadap sektor kripto domestik. Sentimen positif diperkirakan akan menguat, terutama jika harga aset kripto kembali menanjak.

Sebagai contoh, Reydi menyinggung saham WIFI yang sebelumnya mencatatkan kenaikan signifikan. Kasus ini menunjukkan bahwa dukungan konglomerat yang memiliki kedekatan dengan pemerintah dapat memperkuat persepsi pasar dan mendorong kenaikan harga saham.

Sementara itu, aksi Rahayu mengakuisisi saham TRIN dinilai dapat mempercepat pengembangan proyek perseroan. Percepatan tersebut diyakini akan tercermin pada kinerja keuangan perusahaan.

“Jaringan kuat yang dimiliki Rahayu dan keluarga Djojohadikusumo akan memberikan keuntungan bagi emiten,” kata Reydi.

Hal senada disampaikan oleh Muhammad Wafi, Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia. Menurutnya, masuknya keluarga Djojohadikusumo ke dalam ekosistem bisnis COIN dan TRIN mampu menjadi katalis kuat bagi kedua emiten tersebut dalam jangka pendek.

“Karena pasar berekspektasi adanya akses proyek, ekspansi yang lebih agresif, dan peluang sinergi bisnis,” kata Wafi.

Namun, Wafi menegaskan bahwa prospek jangka panjang emiten tetap ditentukan oleh kekuatan fundamental masing-masing perusahaan.

Prospek Harga Saham COIN, TRIN, dan WIFI

Terkait prospek harga saham ketiga emiten tersebut, Wafi telah menetapkan target harga masing-masing saham. Ia mematok target harga saham TRIN di level 1.040, COIN di level 4.600, serta WIFI di level 4.400.

Sementara itu, Herditya Wicaksana, Head of Research MNC Sekuritas, juga menyampaikan proyeksi harga untuk emiten-emiten yang dikaitkan dengan keluarga Djojohadikusumo tersebut. Menurut dia, harga saham COIN diperkirakan bergerak di kisaran 4.420–4.540. Adapun saham WIFI diproyeksikan berada pada rentang 4.390–4.450.

Untuk saham TRIN, Herditya menyarankan investor bersikap wait and see sembari mencermati perkembangan kinerja dan sentimen ke depan.

Pada penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat (12/12), harga saham WIFI rontok 14,82% atau 630 poin ke level 3.620. Saham COIN jeblok 4,40% atau 180 poin ke level 3.910, sementara TRIN ambruk 6,90% atau 80 poin ke level 1.080.

Menilik Kinerja Keuangan COIN, TRIN, dan WIFI

Apabila bercermin pada laporan keuangan kuartalan masing-masing emiten, ketiganya mencatatkan kinerja yang cukup moncer. Misalnya TRIN, yang mampu membalikkan rugi menjadi laba hingga periode September 2025.

TRIN membukukan laba sebesar Rp 28,48 miliar pada periode Januari–September 2025, berbalik dari rugi Rp 45,21 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal, penjualan dan pendapatan usaha perseroan justru turun menjadi Rp 181,60 miliar dari Rp 194,27 miliar secara tahunan atau year on year (yoy).

Mampunya TRIN membukukan laba pada periode kuartal ketiga salah satunya disebabkan beban penjualan yang menyusut signifikan dari Rp 49,50 miliar menjadi Rp 6,18 miliar secara yoy. Begitu pula dengan beban umum dan administrasi yang berkurang menjadi Rp 42,49 miliar dari Rp 54,52 miliar secara tahunan.

TRIN bergerak di sektor properti dengan fokus pada pengembangan dan penjualan apartemen, kantor, dan ruko. Perseroan juga mengoperasikan serta menyewakan properti komersial. Adapun proyek perseroan meliputi Desa Ubud, Melrose Place, Brooklyn, Springwood Residence, Yukata Suite, The Smith, Collins Boulevard, dan Marcs Boulevard.

Menurut Direktur Utama TRIN, Ishak Chandra, ke depan perseroan akan fokus pada pengembangan bisnis rumah tapak, logistic park, dan data center.

Sementara itu, COIN juga mampu membalikkan rugi menjadi laba usai melantai di Bursa Efek Indonesia pada Juli lalu. Perseroan mencetak laba bersih sebesar Rp 41,08 miliar hingga kuartal III 2025, berbalik dari rugi Rp 6,85 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Adapun pendapatan COIN melejit 1.988% menjadi Rp 204,63 miliar dari Rp 9,80 miliar secara yoy. Direktur Utama COIN, Ade Wahyu, menyebut lonjakan pendapatan tersebut terjadi karena porsi perdagangan derivatif kripto terhadap total transaksi meningkat menjadi 28% dari 17% pada kuartal sebelumnya.

Sementara itu, laporan keuangan WIFI juga tercatat positif. Perseroan mencatat kenaikan laba bersih sebesar 71,03% menjadi Rp 260,09 miliar dari Rp 152,07 miliar secara tahunan. Pendapatan perseroan pun melonjak 101,19% menjadi Rp 1,01 triliun dari Rp 504,95 miliar secara yoy.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan