
Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Menjelaskan Peran PLTA dalam Bencana Banjir
Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menegaskan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) bukan penyebab utama bencana banjir yang terjadi di beberapa wilayah Sumatra. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum METI, Zulfan Zahar, dalam sebuah acara Media Gathering pada Jumat (19/12).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Zulfan menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan penelitian menggunakan data spasial berbasis Geographic Information System (GIS). Tujuannya adalah untuk memahami dampak pembangunan PLTA terhadap tutupan lahan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa luas lahan yang dibuka untuk pembangunan PLTA relatif kecil dan tidak berasal dari kawasan hutan.
“Ada anggapan atau dugaan bahwa PLTA menjadi salah satu faktor penyebab bencana banjir. Kami pun berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk memastikan apakah PLTA benar-benar berkontribusi terhadap bencana tersebut,” ujar Zulfan.
Dari hasil analisis yang dilakukan, Zulfan menyatakan bahwa sebagian besar lahan yang dibuka untuk PLTA adalah tanah milik masyarakat. Ini menunjukkan bahwa pembangunan PLTA tidak mengganggu kawasan hutan yang lebih rentan terhadap perubahan lingkungan.
“Skala pembukaan lahan oleh PLTA jauh lebih kecil dibandingkan dengan deforestasi yang terjadi akibat aktivitas lain seperti penebangan hutan,” tambahnya. Ia memperkirakan bahwa luas lahan yang digunakan untuk PLTA hanya sebesar satu banding seratus, bahkan satu banding seribu dibandingkan area hutan yang hilang akibat penebangan liar.
Fungsi PLTA dalam Pengelolaan Air
Selain itu, Zulfan menekankan bahwa PLTA dirancang dengan tujuan untuk membantu pengelolaan air, bukan menyebabkan banjir atau longsoran. Infrastruktur PLTA memiliki peran penting dalam menahan aliran air agar tidak langsung meluap ke daerah hilir.
“Di dalam desain PLTA tidak pernah ada niat untuk menciptakan banjir atau longsor. Justru, PLTA bertindak sebagai upaya menahan banjir,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa adanya bendungan di PLTA dapat memperlambat aliran air saat terjadi hujan deras. Dengan demikian, debit air tidak langsung meluap dalam waktu singkat, sehingga mengurangi risiko banjir di daerah hilir.
Namun, Zulfan juga menegaskan bahwa banjir tidak selalu bisa dijelaskan hanya oleh satu faktor. “Jika banjir terjadi, itu bukan hanya karena PLTA. Ada wilayah hulu yang harus kita jaga,” ujarnya.
PLTA di Kawasan Batang Toru
Terkait banjir yang terjadi di kawasan Batang Toru, Sumatera Utara, Zulfan menyatakan bahwa kondisi tersebut tidak bisa dikaitkan dengan operasional PLTA. Sebab, sejumlah proyek PLTA di wilayah tersebut belum berfungsi secara penuh.
“Secara prinsip, PLTA dirancang sebagai infrastruktur energi bersih yang selaras dengan upaya konservasi lingkungan,” tegas Zulfan.
Ia menegaskan kembali bahwa tujuan utama PLTA adalah untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mencegah bencana alam seperti banjir. “Poin kami, PLTA tidak pernah didesain untuk merusak. Bahkan salah satu fungsinya adalah konservasi dan pencegah banjir,” pungkasnya.