Perjalanan yang Tidak Terduga

Tidak semua perjalanan dimulai dengan rencana besar. Ada yang berangkat dari rasa ingin tahu kecil, yang kemudian berubah menjadi pengalaman yang menempel lebih lama dari yang diduga.
Enam hari menjadi EO, kadang sekaligus peserta retret, membuat tubuh terasa penuh. Ketika acara di Jayakarta selesai, kami diajak ke Sembalun untuk mengejar sunrise. Sembalun, yang berada di kaki Gunung Rinjani, adalah jalur utama menuju puncak, salah satunya melalui Bukit Selong. Aku sempat mengira ini akan menjadi jalan santai. Katanya jalurnya rata, hanya sedikit menanjak. Nyatanya, tidak sepenuhnya demikian.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pendakian dalam Gelap
Kami berangkat pukul dua pagi dari hotel. Gelap masih rapat, udara dingin menempel di kulit. Pendakian diawali dengan tangga semen yang jaraknya cukup tinggi. Untuk kakiku yang kemampuannya pas-pasan, ini bukan awal yang ringan. Aku memasang senter di kepala, pinjaman dari entah siapa, sepertinya penduduk lokal. Cahayanya seadanya, tetapi cukup memberi rasa aman. Aku dan dua sahabatku berada di depan, membuka jalan dalam remang dengan arahan dari guide kami, Pak Jay.
Beberapa saat kemudian, tangga semen berganti tanah. Pegangan bambu menjadi satu-satunya tumpuan. Ada bagian yang bergerak, tidak stabil, cukup membuat degup jantung ikut waspada. Di titik itu, aku mulai menyadari bahwa ini bukan sekadar jalan pagi biasa. Tanah Sembalun terasa lembap, kadang licin, tetapi hidup. Di sela langkah, aku menangkap aroma rumput basah dan tanah pegunungan yang dingin.
Langit masih gelap. Namun, garis-garis bukit mulai terasa kehadirannya. Alam seolah memberi isyarat pelan bahwa kami sedang berjalan menuju sesuatu, meski belum tahu persis apa.
Koreksi dari Sebuah Langkah
Melihat area tempuh yang cukup licin dan tangga tanah yang kadang berlubang, kekhawatiran kami sempat tertuju pada seorang sahabat. Usianya 69 tahun, dan ia juga seorang disabel dengan tangan kanan yang tidak tumbuh sempurna. Kami tahu, ia juga mengandalkan tongkat untuk menopang langkahnya, terutama setelah pernah jatuh. Dalam benak kami, medan ini mungkin terlalu berat untuknya. Kami memandang fisiknya, usianya, keterbatasannya. Diam-diam, kami bertanya-tanya, apakah ia sanggup.
Ternyata, pertanyaan itu sepenuhnya milik kami, bukan miliknya. Yang terjadi justru sebaliknya. Ia berjalan dengan ritme sendiri. Tidak tergesa, tidak pula berhenti. Tidak banyak keluhan, tidak ada drama. Langkahnya tenang, tongkatnya menapak mantap di tanah yang lembap, menunjukkan sebuah tekad yang utuh. Ia sampai di puncak Bukit Selong, sama seperti kami.
Kehadirannya bukan sekadar mengejutkan, tetapi juga menampar halus cara berpikir kami. Usia dan kondisi fisik yang kami khawatirkan ternyata tidak menjadi penghalang utama. Mendaki, pagi itu, bukan hanya soal kemampuan tubuh, melainkan tentang kesediaan batin untuk terus melangkah meski ragu ikut berjalan.
Keindahan yang Hening
Saat akhirnya kami tiba di atas, pagi mulai membuka dirinya. Hamparan sawah bertingkat terbentang rapi, seperti anyaman hijau yang disusun dengan kesabaran panjang. Garis-garis bukit mengitari desa, dan cahaya matahari perlahan naik, mengubah warna langit dari kelam menjadi hangat. Sembalun pagi itu terasa lapang. Tidak riuh, tidak berlebihan. Keindahannya tidak datang dengan teriakan, melainkan dengan ketenangan. Seolah alam sedang mengajak kami diam sejenak, menyadari bahwa kami kecil, tetapi diterima.
Di sana aku merasa, beberapa perjalanan memang perlu diusahakan dengan tubuh yang sedikit tertatih, agar maknanya benar-benar terasa. Namun, pelajaran terbesarnya bukan datang dari apa yang kulihat, melainkan dari siapa yang bersamaku di sana.
Refleksi Keterbatasan
Aku sadar, kekhawatiran kami selama ini lebih banyak lahir dari cara pandang yang terlalu fokus pada fisik. Kami menakar kemampuan orang lain dari apa yang tampak, bukan dari tekad yang bekerja diam-diam di dalam diri. Sahabat kami tidak membuktikan apa-apa. Ia hanya berjalan, dan itu sudah cukup untuk mengoreksi banyak asumsi.
Pendakian di Bukit Selong pagi itu mengingatkanku bahwa keterbatasan tidak selalu berada di tubuh. Kadang ia justru tinggal di pikiran orang-orang yang merasa lebih mampu. Tekad, rupanya, tidak selalu berisik. Ia sering hadir dalam langkah yang pelan, konsisten, dan tidak mencari pengakuan. Mungkin itulah yang membuat Sembalun terasa begitu membekas. Keindahannya tidak hanya hadir di lanskap, tetapi juga di pelajaran yang diselipkan melalui orang-orang yang berjalan bersama. Dari sanalah aku belajar bahwa, dalam kebersamaan, kita tidak hanya saling menemani, tetapi juga saling memperbaiki cara memandang satu sama lain.