Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak: Tantangan dan Solusi
Kehadiran ayah dalam pengasuhan anak menjadi isu penting yang tidak hanya relevan di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia. Selain dukungan finansial, kehadiran fisik dan intensif dari ayah sangat memengaruhi tumbuh kembang anak. Interaksi antara orang tua dan anak usia dini bisa memperkuat hubungan emosional dan meningkatkan literasi anak.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Berdasarkan data Susenas MSBP 2021, sekitar sembilan dari sepuluh anak usia dini melakukan aktivitas makan atau belajar makan bersama orang tua mereka. Sementara itu, sekitar tujuh dari sepuluh anak usia dini berbincang-bincang dengan orang tua. Kedua aktivitas ini sangat penting untuk memperkaya perkembangan anak secara sosial dan kognitif.
Penelitian yang dipublikasikan oleh Jessica Ball & Ken Moselle dalam buku Fathers’ Contributions to Children's Well-being menyebutkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan memengaruhi tingkat kenakalan anak. Di sisi lain, buku Psychology of the Child karya Robert Irving Watson dan Henry Clay Lindgren menunjukkan bahwa anak yang kurang mendapat perhatian cenderung mengalami penurunan kemampuan akademis dan keterbatasan dalam interaksi sosial. Untuk anak laki-laki, maskulinitasnya juga bisa terganggu.
Peran aktif ayah dalam pengasuhan melibatkan aspek fisik, afektif, dan kognitif. Dengan berinteraksi secara positif, ayah dapat memperhatikan setiap aspek perkembangan anak, sehingga anak merasa dekat dan nyaman. Kolaborasi setara antara ayah dan ibu menjadi hal penting agar perkembangan anak sesuai harapan.
Data BPS bertajuk Profil Anak Usia Dini 2024 menunjukkan bahwa sekitar 7,10% anak di perkotaan berada di bawah pengasuhan orang tua tunggal. Angka ini lebih tinggi di pedesaan, mencapai 7,96%. Meski mayoritas anak masih tinggal bersama ayah dan ibu, tidak semua orang tua hadir secara aktif dalam kehidupan sehari-hari anak.
Psikolog Anak dan Keluarga dari Universitas Indonesia, Rose Mini, menjelaskan bahwa sekitar 20,1% anak tumbuh tanpa kehadiran ayah. Kondisi ini bisa disebabkan oleh kematian ayah atau karena ayah lebih sibuk bekerja daripada menghabiskan waktu bersama anak. Beberapa anak juga tinggal bersama kakek dan nenek akibat perceraian orang tua. Hal ini menunjukkan kurangnya stimulasi dan kelekatan antara anak dan ayah.
Dalam konteks budaya, sebagian besar anak lebih dekat dengan ibu karena asosiasi tradisional bahwa ayah adalah pencari nafkah dan ibu sebagai pengasuh. Namun, hal ini tidak seharusnya menjadi norma. Kesetaraan dalam pengasuhan diperlukan agar anak tumbuh dalam lingkungan yang seimbang.
Kesenjangan peran antara ayah dan ibu dapat menghambat potensi individu dan keluarga. Ketika ayah tidak terlibat aktif, dampaknya dirasakan oleh istri dan anak-anak yang kehilangan figur teladan. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan tidak seimbang cenderung mengulangi pola yang sama ketika dewasa.
Data penelitian menunjukkan bahwa banyak anak, terutama di daerah pedesaan, harus memilih antara melanjutkan sekolah atau bekerja karena keterbatasan dukungan keluarga. Denny Sumargo, seorang public figure dan content creator, menyatakan bahwa kehadiran ayah sangat penting dalam membantu istri pasca melahirkan. Dukungan apa pun dari ayah memberikan manfaat emosional dan mental bagi ibu.
Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat harus menjadi tempat awal prinsip kesetaraan. Jika laki-laki dapat mendukung wanita, maka mereka akan menjadi laki-laki yang paling bahagia. Data menunjukkan bahwa stres pada laki-laki sering berawal dari hubungan yang tidak baik dengan wanita.
Penerapan prinsip kesetaraan dalam keluarga dimulai dari kesadaran bahwa setiap anggota memiliki peran penting. Tidak ada peran yang lebih unggul, tetapi kolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Lilik Nila E, psikolog klinis RS Mitra Bangsa, menegaskan bahwa jika orang tua ingin anak tumbuh tanpa merasakan dampak fatherless, maka kebutuhan finansial, perhatian, dan waktu harus dimaksimalkan.
Pertama, pastikan anak merasa kebutuhannya terpenuhi. Kedua, perhatian. Ketiga, waktu. Tiga hal ini, jika dimaksimalkan, dapat meminimalkan dampak negatif dari ketiadaan ayah.
OCBC mengadakan kampanye #BaiknyaBarengBareng untuk mendorong kehadiran ayah dalam pengasuhan anak. Brand & Communication Division Head OCBC Aleta Hanafi menyatakan bahwa masih ada pandangan lama yang membatasi peran berdasarkan gender. Mereka berharap batasan tersebut semakin menipis.
OCBC menyadari bahwa menciptakan lingkungan yang baik untuk anak membutuhkan upaya kolektif. Melalui kampanye ini, OCBC berharap setiap tindakan kecil dapat memberikan dampak besar dalam menghadirkan kolaborasi setara antara ayah dan bunda.