Memprediksi Peluang Obligasi Pemerintah 2026

admin.aiotrade 07 Nov 2025 3 menit 13x dilihat
Memprediksi Peluang Obligasi Pemerintah 2026

Prospek Pasar Obligasi Pemerintah Tahun 2026

Pasar obligasi pemerintah di Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan akan mengalami penguatan, meskipun dengan ruang pertumbuhan yang terbatas. Hal ini disampaikan oleh Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, yang menilai bahwa potensi penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) tidak akan terlalu agresif pada tahun depan.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Myrdal memperkirakan BI rate hanya akan turun sekitar 50 basis poin pada 2026, dibandingkan estimasi penurunan suku bunga tahun ini yang berada di kisaran 125 hingga 150 basis poin. Ia juga menambahkan bahwa jika imbal hasil (yield) obligasi domestik turun lebih dalam, hal itu dapat berisiko memicu arus keluar investor asing serta meningkatkan potensi aksi ambil untung (profit taking).

"Dari sisi permintaan lokal sebenarnya masih bagus, tapi kalau tidak ada pendukung dari asing ya repot juga," ujar Myrdal kepada aiotrade, Jumat (7/11).

Selain itu, ia juga menyoroti kebijakan pemerintah yang tidak terlalu agresif dalam menambah utang melalui penerbitan surat utang negara (SUN). Menurutnya, Kementerian Keuangan di bawah kepemimpinan Menteri Purbaya tidak terlalu mengandalkan pembiayaan dari utang. Hal ini terlihat dari target lelang SUN konvensional hanya sekitar Rp 23 triliun, lebih rendah dari era sebelumnya yang mencapai Rp 27 triliun hingga Rp 30 triliun. Sementara untuk surat utang syariah (SBSN) juga turun menjadi sekitar Rp 7 triliun dari sebelumnya Rp 9 triliun.

Dari sisi imbal hasil, Myrdal memperkirakan yield SUN tahun depan akan bergerak di kisaran 5,9% hingga 6,7%. "Asumsi APBN kan sekitar 6,7%, itu batas atasnya. Untuk batas bawahnya kalau ada penurunan suku bunga BI paling ke 5,9% untuk yield SUN," tambahnya.

Ia menambahkan bahwa meski The Fed berpotensi menurunkan suku bunga, yield US Treasury masih bertahan di sekitar 4%, sehingga daya tarik yield domestik perlu tetap dijaga. Khusus untuk awal tahun depan, Myrdal memproyeksikan yield SUN masih berada di rentang 5,9% sampai 6,2%. Ini didorong oleh adanya kebijakan front loading activities yang membuat pemerintah biasanya cukup agresif menerbitkan surat utang.

"Apalagi awal tahun depan ada agenda besar seperti Lebaran dan itu pemerintah butuh cash untuk membayar gaji, Tunjangan Hari Raya, maupun program pemerintah di awal tahun," jelas Myrdal.

Pandangan Ekonom BCA

Dihubungi secara terpisah, Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menilai peningkatan net issuance berpotensi menjadi faktor risiko bagi pasar Surat Berharga Negara (SBN) pada tahun depan. Meski begitu, ia memperkirakan yield SBN akan cenderung stabil, didukung oleh prospek penurunan suku bunga Bank Indonesia maupun suku bunga global yang dapat mendorong minat investor asing.

David juga bilang peningkatan supply SBN yang lebih tinggi di tahun 2026 akan menetralkan efek penurunan suku bunga acuan terhadap yield SBN. "Mempertimbangkan faktor pendorong dan penahan tersebut, yield SBN kemungkinan bertahan di rentang 6,1%-6,5% di awal tahun depan," jelas David kepada aiotrade, Jumat (7/11).

Lebih lanjut, David menilai obligasi rupiah masih menjadi instrumen investasi yang menarik, meskipun kekhawatiran terhadap postur fiskal pemerintah di jangka menengah panjang saat ini menekan minat investor asing. "Dengan demikian, persepsi atas manajemen fiskal pemerintah menjadi faktor X yang dapat membantu penurunan suku bunga acuan dalam menjaga stabilitas yield SBN ditengah kenaikan net issuance," tutur David.

Strategi Investasi

Terkait strategi investasi, Myrdal menilai investor dapat fokus pada obligasi bertenor pendek dan seri benchmark yang likuid. "Kalau dari sisi strategi, investor harus ambil momentum bila ingin trading di mana melakukan aksi buy on weakness, misalkan yield tenor 10 tahun sudah menyentuh level 6,5% ke atas investor bisa melakukan aksi beli. Nanti ketika penurunan suku bunga terjadi mereka baru jual, lalu ketika ada momentum melemah lagi investor bisa masuk lagi," terangnya.

Ia menyimpulkan, meski ruang gerak pasar obligasi cenderung terbatas, prospeknya tetap menarik sejalan dengan proyeksi perbaikan ekonomi nasional tahun depan. “Pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 5,1%, dan seharusnya ini menjadi pijakan bagi investor dalam menilai prospek ekonomi domestik dan prospek investasi di SUN,” pungkas Myrdal.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan