Mencari Likuiditas Valas di Saat Permintaan Kredit Rendah

admin.aiotrade 16 Nov 2025 3 menit 9x dilihat
Mencari Likuiditas Valas di Saat Permintaan Kredit Rendah


Bank Pelat Merah Tambah Bunga Deposito USD, Tantangan dan Perspektif

Kebijakan bank-bank pelat merah dalam meningkatkan bunga deposito dolar Amerika Serikat (USD) terus menjadi perhatian. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan mengingat situasi saat ini yang menunjukkan perlambatan permintaan kredit valuta asing (valas), namun bank justru berupaya memperoleh likuiditas. Langkah ini bisa menjadi tantangan bagi bank karena memelihara dana mahal. Jika tidak digunakan untuk kredit, margin bunga yang dimiliki bisa menipis.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut data Bank Indonesia (BI), penyaluran kredit dalam bentuk valas pada Juli 2025 mencapai Rp 1.222 triliun. Dari sisi tahunan (YoY), pertumbuhan kredit tersebut sekitar 4,35%. Namun, trennya tampak melambat di tahun 2025, setidaknya sejak April 2025 ketika angkanya mencapai puncaknya yaitu Rp 1.261 triliun.

Sebagai salah satu bank yang meningkatkan bunga deposito USD, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mengakui bahwa permintaan kredit valas di BTN masih relatif kecil dibandingkan kredit dalam rupiah. Sekretaris Perusahaan BTN, Ramon Armando, menyatakan bahwa permintaan kredit valas di BTN masih terbatas. Meski demikian, ia tidak memberikan detail portofolio kredit valas yang dimiliki BTN.

BTN lebih fokus pada penyaluran kredit dalam rupiah meskipun tetap melayani permintaan kredit valas secara selektif. Menurut Ramon, posisi valas BTN masih sangat terjaga, sehingga tidak ada tekanan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan dalam valas.

Dalam laporan keuangan BTN per September 2025, simpanan valas BTN didominasi oleh mata uang USD. Pada periode tersebut, simpanan dalam bentuk USD mencapai Rp 12,8 triliun, terutama dari deposito. Bandingkan dengan simpanan pada periode sama tahun lalu yang senilai Rp 15,41 triliun.

“Kapasitas kami untuk menyalurkan kredit valas tetap tersedia, namun porsinya memang tidak sebesar kredit rupiah,” tambah Ramon.

Di sisi lain, bank-bank swasta yang tidak meningkatkan bunga simpanan valas juga memiliki pandangan serupa. PT Bank CIMB Niaga Tbk misalnya, menilai permintaan kredit rupiah lebih besar dibandingkan kredit valas. Portofolio kredit dalam bentuk valas, khususnya USD, yang dimiliki CIMB Niaga per September 2025 mencapai Rp 33,43 triliun, sedangkan portofolio kredit rupiah pada periode yang sama mencapai Rp 183,76 triliun.

Direktur Business Banking CIMB Niaga, Rusly Johannes, menjelaskan bahwa porsi kredit valas relatif lebih rendah karena mayoritas pembiayaan domestik menggunakan rupiah. Namun, ia menyebut bahwa kebutuhan kredit valas tetap menunjukkan tren positif, khususnya untuk nasabah dengan eksposur pendapatan dalam valas. Kredit valas di CIMB Niaga saat ini didominasi oleh sektor manufaktur dan pertambangan.

Dari sisi likuiditas, Rusly menyatakan bahwa kondisi di CIMB Niaga cukup memadai. Pihaknya senantiasa menjaga kecukupan dana valas melalui pengelolaan sumber pendanaan sesuai kebijakan yang berlaku. Pada periode yang sama, simpanan USD yang dimiliki CIMB Niaga mencapai Rp 37,14 triliun, naik dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang senilai Rp 35,36 triliun.

“Tren permintaan kredit valas diperkirakan stabil dengan potensi peningkatan seiring perbaikan kondisi global, meskipun risiko fluktuasi nilai tukar tetap perlu diantisipasi,” ujar Rusly.

Kepala ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai bahwa selama permintaan kredit valas tidak melonjak dan likuiditas rupiah melimpah, bank tidak memiliki insentif kuat untuk memelihara simpanan valas lewat bunga tinggi. Ia melihat kemungkinan penurunan simpanan dalam bentuk valas, namun akan dilakukan secara terukur sesuai kebutuhan kas nasabah dan profil jatuh tempo, bukan penurunan tajam.

“Secara umum, kenaikan bunga deposito valas tidak perlu dilakukan secara luas,” katanya.

Bagikan Artikel:
admin.aiotrade
admin.aiotrade

Penulis di Website. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat, terpercaya, dan analisis mendalam seputar teknologi finansial.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan