
Festival Seni dan Budaya yang Mengangkat Tema Nisan dan Tarekat Syattariyah
Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) ke-14 akan diadakan di Keraton Kacirebonan, Kota Cirebon pada 20 hingga 22 November. Acara tahunan ini menjadi ajang pertemuan para penulis, kreator, serta aktivis budaya dan keagamaan dari berbagai latar belakang iman. Dengan mengusung tema "Estetika Nisan-nisan Islam Nusantara dan Dunia Ketuhanan Tarekat Syattariyah di Cirebon", festival ini menawarkan wawasan mendalam tentang sejarah dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam nisan serta pengaruh Tarekat Syattariyah di wilayah tersebut.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Seno Joko Suyono, pendiri sekaligus kurator BWCF, menjelaskan bahwa tema nisan dipilih karena perannya sebagai aspek penting dalam data arkeologis Islam di Indonesia. Nisan tidak hanya berfungsi sebagai penanda pemakaman, tetapi juga sebagai simbol religius, budaya lokal, dan status sosial. Tipologi dan relief nisan memberikan informasi tentang jaringan maritim yang kuat di nusantara dan Asia.
“Dalam sebuah nisan dapat dilacak hubungan interkultural nusantara dengan peradaban luar,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima.
Para Pembicara Berpengalaman
Lebih dari 30 pembicara akan hadir dalam acara ini, termasuk para peneliti, akademisi, dan budayawan. Beberapa di antaranya adalah Daniel Perret, arkeolog yang juga Kepala École française d’Extrême-Orient (EFEO) di Kuala Lumpur; sejarawan Peter Carey, Dekan FIB Universitas Indonesia Bondan Kanumoyoso; dan guru besar filologi UIN Syarif Hidayatullah Oman Fathurrahman. Mereka akan membagikan hasil penelitian mereka mengenai sejarah dan perkembangan Tarekat Syattariyah di Cirebon.
Pemilihan Lokasi yang Spesifik
Menurut Seno, pemilihan Keraton Kacirebonan sebagai lokasi BWCF tahun ini disebabkan oleh posisi unik Cirebon. Keraton-keraton yang ada di Cirebon, seperti Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Keraton Kacirebonan, memiliki koleksi manuskrip tua yang berkaitan dengan pemikiran Syattariyah. Sayangnya, belum banyak peneliti yang melakukan studi mendalam terhadap manuskrip-manuskrip ini.
Isu Penting yang Diangkat
BWCF 2025 juga mengangkat isu tentang manuskrip Tarekat Syattariyah di Cirebon, termasuk pengaruhnya terhadap perlawanan melawan kolonialisme Belanda. Salah satu contohnya adalah bagaimana Diponegoro terpengaruh oleh gerakan Syattariyah, sehingga ia berani menghadapi Belanda.
Pengaruh Tarekat Syattariyah di Cirebon
Tarekat Syattariyah memiliki peran penting dalam sejarah Cirebon. Gerakan ini tidak hanya menjadi alat untuk menyebarkan ajaran agama, tetapi juga menjadi benteng dalam menghadapi ancaman kolonial. Dengan mengangkat isu ini, BWCF 2025 ingin menunjukkan betapa pentingnya memahami sejarah dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tradisi dan manuskrip lama.
Festival ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk lebih memahami sejarah dan nilai-nilai budaya yang telah lama tertanam di tanah air. Melalui diskusi-diskusi yang akan dilakukan, peserta diharapkan dapat memperluas wawasan mereka tentang peran nisan dan Tarekat Syattariyah dalam kehidupan masyarakat Cirebon dan sekitarnya.