Mengapa Indonesia Mengemudi di Sisi Kanan: Sejarah dan Alasan

admin.aiotrade 26 Okt 2025 3 menit 14x dilihat
Mengapa Indonesia Mengemudi di Sisi Kanan: Sejarah dan Alasan

Sejarah dan Alasan Mengapa Mobil di Indonesia Memiliki Setir di Sisi Kanan

Di Indonesia, semua mobil memiliki setir di sebelah kanan, dan pengemudi berjalan di jalur kiri. Hal ini menjadi hal yang sangat biasa bagi masyarakat setempat dalam kehidupan sehari-hari. Namun, jika melihat negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Jerman, atau China, posisi setir justru berada di sisi kiri dan kendaraan melaju di jalur kanan. Perbedaan ini sering menimbulkan rasa penasaran, terutama bagi mereka yang baru pertama kali mengemudi di luar negeri.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Lantas, dari mana asal-usul sistem setir kanan di Indonesia, dan mengapa hingga kini tetap dipertahankan? Jawabannya terletak dalam sejarah panjang perjalanan transportasi di tanah air.

Aturan Hukum yang Mengatur Sistem Lalu Lintas

Secara resmi, mobil di Indonesia dengan setir di sisi kanan telah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini menetapkan bahwa kendaraan wajib berjalan di sisi kiri jalan. Hal ini mencerminkan kebijakan pemerintah yang ingin menjaga keselamatan berkendara serta memastikan konsistensi dalam sistem lalu lintas.

Pengaruh Sejarah dari Penjajahan

Sejarah awal munculnya sistem setir kanan di Indonesia dapat ditelusuri dari masa penjajahan Belanda. Ketika Belanda pertama kali datang ke Indonesia, mereka membawa sistem lalu lintas yang menggunakan setir di sisi kanan. Saat itu, wilayah Indonesia dikenal sebagai Hindia Belanda, dan sistem tersebut mulai diterapkan secara luas.

Pada saat Perancis di bawah kekuasaan Napoleon berhasil menjajah Belanda, sistem lalu lintas di negeri kincir angin itu mengalami perubahan besar. Napoleon menerapkan aturan baru dengan menempatkan posisi setir di sisi kiri dan kendaraan melaju di jalur kanan, sesuai kebiasaan di Perancis dan sebagian besar daratan Eropa. Setelah masa penjajahan berakhir, Belanda tetap mempertahankan sistem tersebut.

Namun, berbeda dengan Indonesia, yang justru terus menggunakan sistem setir kanan karena sempat berada di bawah pendudukan Jepang. Negara yang juga menerapkan kemudi kanan dan jalur kiri ini memberikan dampak signifikan terhadap sistem transportasi Indonesia. Pengaruh inilah yang membuat Indonesia hingga kini tetap menganut pola mengemudi di jalur kanan seperti yang diterapkan di Jepang, Malaysia, dan Inggris.

Keamanan dan Kemudahan dalam Berkendara

Selain alasan sejarah, posisi setir kanan juga dianggap lebih aman karena memberikan pandangan lebih luas terhadap kendaraan dari arah berlawanan. Hal ini memudahkan pengemudi saat mendahului kendaraan lain. Selain itu, posisi setir kanan juga memberikan kenyamanan bagi pengemudi dalam melihat kondisi jalan secara keseluruhan, terutama di daerah yang memiliki medan berliku atau banyak tikungan.

Kesimpulan

Sistem setir kanan di Indonesia tidak hanya merupakan warisan sejarah dari masa penjajahan, tetapi juga merupakan keputusan yang diambil untuk meningkatkan keselamatan berkendara. Meskipun berbeda dengan kebanyakan negara di dunia, sistem ini telah terbukti efektif dan diterima oleh masyarakat. Dengan adanya aturan hukum yang jelas dan pengaruh sejarah yang kuat, Indonesia tetap mempertahankan pola mengemudi yang khas dan unik.

Bagikan Artikel:
admin.aiotrade
admin.aiotrade

Penulis di Website. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat, terpercaya, dan analisis mendalam seputar teknologi finansial.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan