
Jika diperhatikan, wajah mobil listrik terlihat lebih polos dibanding mobil bensin. Salah satu yang paling mencolok adalah grille dengan lubang besar yang sudah tidak ada lagi. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa desain mobil listrik jauh berbeda dari mobil konvensional.
Menurut Yannes Martinus Pasaribu, pakar produk industri dan otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mobil listrik tidak menghasilkan panas yang melebihi kendaraan berbahan bakar minyak (ICE), sehingga tidak memerlukan komponen seperti grille.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Mobil listrik, meskipun baterai dan drivetrain-nya tidak menghasilkan panas sebanyak ICE, tetap butuh pendingin. Namun, radiator yang digunakan jauh lebih kecil. Aliran udara bisa dimasukkan melalui ventilasi kecil di bawah bumper, sehingga grille besar tidak diperlukan lagi,” jelas Yannes.
Proses pendinginan mobil listrik juga berbeda dengan mobil konvensional. Yannes menjelaskan bahwa mayoritas mobil listrik menggunakan pendingin cair (liquid cooling) yang tertutup dan lebih efisien bagi baterai maupun drivetrain.

Dari sumber The Next Web, baterai dan drivetrain tetap menghasilkan panas, meskipun dalam jumlah yang jauh lebih sedikit. Pendingin cair mengalir untuk mendinginkan mesin lewat pipa dan baterai, menyerap panas, lalu disalurkan ke heat exchanger mungil atau radiator kecil.
Yannes menambahkan, fungsi utama grille besar sebagai ciri khas pendingin mobil bensin sudah hilang pada mobil listrik. Hal ini juga yang membuat mobil listrik memiliki efisiensi dalam aerodinamiknya.
“Penghilangan grille besar pada mobil listrik meningkatkan aerodinamika kendaraan. Permukaan depan mobil listrik yang rata dan halus memungkinkan udara mengalir secara halus dan teratur,” tambahnya.
Lebih lanjut, udara tersebut nantinya akan menjelajahi kontur bodi sehingga menekan angka drag coefficient (Cd). Artinya mobil dapat mengaspal maksimal tanpa turbulensi.

Sebaliknya, grille besar pada mobil konvensional justru memicu turbulensi. Udara yang menabrak akan tersedot ke ruang mesin yang padat, sehingga hambatan udaranya (drag) meningkat.
Yannes juga menjelaskan bahwa desain polos pada mobil listrik memberi kebebasan lebih bagi perancangnya. Bagian depan mobil bisa dirombak untuk mengarahkan udara ke sisi bodi dengan gangguan yang minimal.
“Mobil listrik tanpa grille memungkinkan desainer produknya untuk membentuk ulang seluruh front-end mobil secara optimal. Untuk memandu udara ke sekitar mobil dengan gangguan semakin minimal,” ujar Yannes, yang juga anggota Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia (ADPII).
Udara yang masuk difokuskan melintas lewat saluran khusus. Letaknya di bawah bumper atau lewat celah sangat kecil yang tersembunyi. Banyak pabrikan memanfaatkan ini untuk memproduksi mobil listrik dengan tampilan futuristik dan unik dari mobil konvensional.