Mengapa Postingan BMKG tentang Megathrust di X Dikritik Netizen?

admin.aiotrade 12 Nov 2025 3 menit 16x dilihat
Mengapa Postingan BMKG tentang Megathrust di X Dikritik Netizen?


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui akun media sosialnya mengunggah informasi tentang potensi gempa megathrust yang memicu perhatian masyarakat. Isu ini menimbulkan berbagai pertanyaan terkait langkah mitigasi yang harus diambil, karena bencana tersebut masih sulit diprediksi dengan teknologi saat ini.

Pada Senin pagi, 10 November 2025, BMKG melalui akun @infoBMKG menyampaikan bahwa Indonesia memiliki zona megathrust akibat pertemuan lempeng tektonik yang menyimpan energi besar. Jika energi tersebut dilepaskan, bisa memicu gempa besar dan bahkan tsunami. Gempa besar bisa terjadi dari dua lempeng yang saling bertemu dan menyusup, sehingga menimbulkan penumpukan energi yang pada akhirnya dapat melepaskan tenaga.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Megathrust dikenal dengan ciri khas tenggelamnya garis pantai secara mendadak. Istilah ini semakin populer setelah dibahas dalam konteks potensi gempa besar di Indonesia. Dalam unggahan tersebut, BMKG juga menjelaskan bahwa istilah "tinggal menunggu waktu" digunakan sebagai bentuk kewaspadaan berdasarkan data sejarah dan geologi, bukan untuk menciptakan kepanikan.

BMKG menyarankan masyarakat untuk membangun rumah dengan material yang kokoh dan mempelajari langkah-langkah antisipasi baik sebelum maupun setelah terjadinya gempa. Namun, beberapa warganet mengeluhkan bahwa instruksi tersebut terasa terlalu sederhana menghadapi skala risiko yang besar.

Beberapa komentar dari pengguna media sosial seperti @Naree_f* menyebut bahwa informasi yang diberikan oleh BMKG kurang lengkap. Mereka meminta penjelasan lebih detail mengenai persiapan menghadapi bencana. Selain itu, ada juga yang mempertanyakan tindakan pemerintah dalam menghadapi risiko megathrust.

Akun @myurecept** juga mengkritik prediksi kegempaan dan peringatan yang dikeluarkan. Mereka merasa bahwa pemerintah hanya memperbanyak plang jalur evakuasi tanpa memberikan arahan jelas kepada masyarakat.

Beberapa warganet lainnya merasa bahwa edukasi berulang dari BMKG terkesan menakut-nakuti dan sering kali disampaikan dengan cara yang berlebihan. Contohnya, akun @Evisko_Sem* menyampaikan bahwa informasi tentang megathrust sering kali tidak perlu diulang-ulang.

Sampai berita ini ditulis, respons dari Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono terhadap komentar warganet belum diterima. Namun, sebelumnya Daryono sempat memberikan klarifikasi mengenai pernyataan tentang gempa besar di zona megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.

Daryono menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan jika bencana terjadi. Tujuan utama adalah mengurangi korban jiwa akibat ketidakpahaman dalam mitigasi saat gempa atau tsunami. Menurutnya, pembahasan mengenai potensi gempa di zona megathrust sudah lama dilakukan oleh para peneliti, bahkan sebelum gempa dan tsunami Aceh pada 2004.

Daryono juga menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada ilmu pengetahuan atau teknologi yang tepat dan akurat untuk memprediksi gempa. BMKG tidak mengetahui waktu pasti kapan gempa akan terjadi.

Para ahli menduga bahwa nihilnya gempa besar atau seismic gap yang terjadi selama ratusan tahun di zona megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut bisa meningkatkan potensi bencana di masa depan. Kondisi ini memang harus diwaspadai karena sewaktu-waktu dapat melepaskan energi gempa signifikan.

Secara umum, isu megathrust menjadi topik penting yang perlu diperhatikan oleh masyarakat dan pemerintah. Meski belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara akurat, langkah-langkah mitigasi dan edukasi tetap menjadi kunci untuk mengurangi risiko bencana.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan