
Daur ulang limbah produk kosmetik tidak semudah daur ulang sampah jenis lain. Hal ini disebabkan oleh desain kemasan yang dirancang untuk menghindari kontaminasi, sehingga memastikan keamanan dan kualitas produk. Seperti industri farmasi, kemasan kosmetik memiliki standar kualitas tertentu yang harus dipenuhi.
Menurut Wahyu Eka Styawan, Juru Kampanye Urban dan Kebijakan Tata Ruang dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nasional, kompleksitas daur ulang limbah kosmetik terletak pada tingginya standar kualitas kemasan. Sayangnya, teknologi daur ulang yang mampu menangani masalah ini masih terbatas dan mahal di Indonesia.
Peran produsen dalam mendesain produk sangat penting dalam menentukan besaran timbulan sampah dari industri kosmetik. Meski perubahan perilaku konsumen bisa mengurangi penggunaan, pembelian tetap akan terus berlangsung karena kebutuhan dasar tetap ada. Konsumsi juga dipengaruhi oleh tren, gaya hidup, penawaran produk, klaim kebutuhan, serta iklan yang memengaruhi permintaan.
Studi pada 2025 menunjukkan bahwa dunia kosmetik menghasilkan sekitar 120 miliar unit kemasan setiap tahun. Dari jumlah itu, hanya 14 persen sampah plastik yang terkumpul untuk didaur ulang, dengan 9 persen di antaranya bisa diolah menjadi material baru. Sejak 2015, total limbah plastik global telah mencapai 6,9 miliar ton, termasuk limbah dari industri kosmetik.
Material kemasan yang kompleks merupakan salah satu penyebab utama kesulitan dalam daur ulang sampah kosmetik. Mayoritas produk tata rias menggunakan plastik sintetis non-biodegradable, seperti Acrylonitrile Butadiene Styrene (ABS) dan Styrene Acrylonitrile. Kedua material ini sulit diterima dalam sistem daur ulang karena struktur kimianya yang rumit dan pelabelannya yang sering tidak konsisten. Sampah ini biasanya bertumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) atau dibakar di insinerator.
Desain kemasan yang multilayer juga menjadi hambatan dalam proses daur ulang. Banyak kemasan produk tata rias terdiri dari campuran berbagai material seperti plastik, kaca, logam, dan silikon. Contohnya, satu botol pompa terdiri dari lima jenis material berbeda, termasuk pegas logam dan segel silikon. Karena itu, kemasan harus dibongkar secara manual sebelum didaur ulangproses yang tidak umum dilakukan oleh konsumen maupun fasilitas pengolahan limbah. Akibatnya, lebih dari 95 persen kemasan kosmetik dibuang setelah digunakan.
Kampanye sustainable packaging memiliki dampak relatif kecil karena biasanya hanya mengubah bagian luar kemasan. Penggunaan material seperti kertas, misalnya, memiliki tantangan sendiri karena berpotensi meningkatkan permintaan yang berdampak pada deforestasi dan perubahan penggunaan lahan. Tapi limbahnya tetap saja dibuat di TPA, ujar Wahyu.
Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, menyatakan bahwa skema sustainable packaging diharapkan mendorong perubahan sistemik dalam pengelolaan sampah. Efektivitasnya sangat bergantung pada konsistensi implementasi di tingkat produsen, katanya kepada Tempo.
Jika tidak maksimal, dorongan sustainable packaging berpotensi hanya menjadi perubahan di tingkat material, bahkan berisiko memindahkan beban pengelolaan ke tahap hilir. Perlu komitmen yang lebih kuat dari produsen untuk tidak hanya mengganti material, tetapi juga mengurangi, mendesain ulang, serta menarik kembali kemasan yang dihasilkan.
Data DLH menunjukkan bahwa total sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir di Jakarta mencapai sekitar 7.000-8.000 ton per hari. Angka ini masih agregat yang belum dirinci berdasarkan jenis sampah, termasuk sampah kosmetik.
Sebanyak 22 persen sampah Jakarta merupakan sampah plastik. Jenis plastik pun beragam, mulai dari Polyethylene Terephthalat (PET) yang dapat didaur ulang hingga kantong plastik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar refuse-derived fuel (RDF).
Defara Dhanya berkontribusi dalam penulisan artikel ini.