Mengapa Santri Harus Hormati Kiai?

admin.aiotrade 17 Okt 2025 5 menit 13x dilihat
Mengapa Santri Harus Hormati Kiai?
Mengapa Santri Harus Hormati Kiai?

Mengapa Santri Wajib Memuliakan Kiai?

Di tengah perkembangan dunia digital dan media sosial, banyak isu negatif yang muncul terkait kiai dan pesantren. Ada pihak yang menghina, membully, atau bahkan melecehkan kiai. Pesantren juga diklaim sebagai lembaga pendidikan agama yang menyimpang dari ajaran sunnah. Hal ini menimbulkan berbagai kritik terhadap tradisi dan adab santri, seperti ngesot atau berjalan jongkok di depan kiai, serta mencium tangan kiai saat bersalaman.

Namun, sebenarnya hal-hal tersebut memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam. Kiai tidak hanya sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai pewaris nabi. Oleh karena itu, mentaati dan memuliakan kiai adalah bagian dari mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam QS. Ali Imran/3:31 disebutkan bahwa jika engkau mencintai Allah maka ikutilah aku. Ikutilah Nabi SAW. Dan dalam QS. al-Nisa/4: 49 disebutkan, siapa yang mentaati Allah dan rasul-Nya maka mereka itu bersama-sama para nabi, para pecinta kebenaran dan orang-orang saleh.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kiai, ulama adalah pecinta kebenaran. Mereka adalah orang-orang saleh. Kesalehan seorang kiai tidak bisa diragukan. Mencintai kiai, menyayangi mereka dan memuliakannya dalam dunia tasauf sebagai maqam mahabbah.

Nabi SAW bersabda, "Siapa yang mencintaiku maka aku bersamanya di surga" (HR. Bukhari) dan "siapa yang memusuhi kekasihku, wali-waliku maka aku perang terhadapnya" (Hadis Qudsi). Cukup dengan dalil itu dapat diprediksi bahwa mereka yang tidak mencintai ulama, mereka yang tidak memuliakan kiai maka jangan harap bersama Nabi SAW di surga kelak. Siapa yang memusuhi kiai sebagai kekasih Allah, siapa yang memusuhi kiai sebagai wali Allah SWT merupakan dosa besar. Allah SWT mengancam perang bagi mereka yang memusuhi kiai. Sebaliknya mereka yang memuliakan kiai praktis menjadi kekasih-Nya.

Adab Santri

Adab santri mencium tangan kiainya saat bersalaman merupakan warisan dari sahabat Nabi SAW, tabiin dan menjadi ijmak ulama. Hadis sahih dalam Sunan Abu Dawud; 4548 bahwa ketika Nabi SAW tiba di suku Abdul Qais dan turun dari untanya kami para sahabat mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. Berkenaan dengan hadis tersebut maka dalam Fatawa al-Nawawi halaman 79 disebutkan bahwa mencium tangan ulama, bahkan mengecupnya adalah sunnah. Ulama, yakni kiai sebagai pewaris nabi sangat dianjurkan untuk dicium tangannya saat bersalaman mengikuti amalan sahabat. Demikian fatwa imam al-Nawawi.

Jadi siapa bilang bahwa mencium tangan kiai bukan sunnah. Dalilnya sudah jelas bahkan mengecup kaki Nabi SAW sesuai hadis tadi adalah sahih. Justru kalau mau ekstrim seharusnya santri itu mencium kaki kiainya sebagaimana sahabat mengecup kaki Nabi SAW. Jadi ngesot yakni menyeret pantat menjadikan kaki sebagai tumpuan atau cukup berjalan jongkok depan kiai itu wajar sebagai salah satu cara santri menghormati kiainya.

Demikianlah tradisi pesantren mengajarkan kesopanan, sikap santun, pemuliaan dan penghormatan bagi santri terhadap kiainya. Jangankan terhadap kiai atau sebatas sesama muslim, justru Nabi SAW mencontohkan bagaimana menghormati jenazah non-muslim. Suatu ketika Nabi SAW berdiri saat jenazah Yahudi lewat. Sahabat kemudian berkata, "Ya Rasulullah itu adalah jenazah Ahluz zdimmi." Nabi SAW menjawab "bukankan ia manusia juga ?" (HR. Bukahri dan Muslim). Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa berdirinya Nabi SAW sebagai tanda penghormatannya terhadap jenazah Yahudi tersebut (Ibn Hajar, Fathul Bari, juz VI halaman 121).

Tradisi Pesantren

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua memilki peran penting dalam menanamkan syiar keagamaan. Sejak abad ke-13 sampai 17 M pesantren telah mengajarkan tradisi bagaimana etika dalam menghargai sesama dan menghomati secara wajar bagi siapa saja khususnya terhadap kiai.

Jika seseorang yang seharusnya dihormati lewat, maka para santri berdiri di tempat itu dan cukup menggerakkan badannya, misalnya mundur ke belakang sedikit atau memindahkan kakinya yang kiri atau yang kanan. Dengan gerakan itu cukuplah sebagai tanda penghormatan, walaupun tidak diucapkan dengan perkataan. Ataupun kalau santri sedang duduk bersilah dalam sebuah tempat kemudian datang tamu yang harus dihormati, maka santri tidak perlu berdiri, cukuplah dengan mengadakan suatu gerakan, misalnya dengan menegakkan badan sedikit ke belakang. Gerakan seperti itu menandakan suatu penghormatan.

Tradisi lain bagi santri dari segi pakaian misalnya akrab dengan penggunaan songkok-kopyah, baju gamis-koko, dan sarung-lipa menjadi simbol keislaman yang bertahan di pesantren. Songkok bagi santri menunjukkan keluhuran budi pekerti yang harus dijunjung tinggi karena songkok tersebut letaknya di kepala. Secara filosofis songkok bentuknya bundar seperti mangkok kosong yang harus diisi dengan ilmu dan berkah kiai. Jika kiainya akan lewat dengan refleks biasanya santri menyentuh bagian atas songkoknya dan mengusapnya sekaligus menguatkan posisi songkok di kepala sebab semakin kiai mendekat, santri segera merundukkan kepalanya.

Baju yang digunakan para santri pun disyaratkan putih, sebagai simbol kebersihan lahir batin, kejernihan hati, kesucian iman. Sarung-lipa kerap terlihat bagi santri gulungan sarungnya (bidak) turun ke bawah, sehingga sewaktu-waktu harus digulung kembali. Bagi orang lain yang tidak tahu-menahu apa maksudnya, tentu dalam pikirannya heran karena menurutnya cara seperti itu tidak praktis. Namun, sebenarnya itu mempunyai maksud-maksud tertentu.

Apabila santri sedang berdiri dan memakai sarung kemudian didatangi oleh orang terhormat, gulungan sarung itu (bidak) dinaikkan sedikit sebagai tanda penghormatan walaupun tidak diucapkan dengan perkataan. Jadi bila pada umumnya santri memakai sarung seolah-olah serampangan saja, itu tidaklah mengherankan karena salah satu patokan berpakaiannya adalah kesederhanaan. Nabi SAW pernah bersabda, "khaerul umur awsatuha" (sebaik-baik kehidupan adalah kesederhanaan). Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.


Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan