
Jakarta – Bank Indonesia (BI) kini memiliki instrumen moneter baru yang bertujuan untuk memperkuat dan memperdalam pasar keuangan di dalam negeri. Instrumen tersebut diberi nama Floating Rate Note (BI-FRN), yang merupakan surat berharga dalam mata uang rupiah yang diterbitkan oleh BI sebagai pengakuan utang berjangka pendek dengan suku bunga mengambang.
Apa Itu BI-FRN?
BI-FRN adalah instrumen keuangan yang memiliki karakteristik khusus, yaitu bunganya tidak tetap dan bisa berubah-ubah mengikuti acuan suku bunga tertentu. Dengan adanya mekanisme bunga mengambang ini, BI-FRN menjadi dasar atau referensi bagi transaksi Overnight Index Swap (OIS). OIS sendiri merupakan instrumen lindung nilai suku bunga yang melibatkan pertukaran dua jenis pendapatan dari suku bunga yang berbeda, yaitu satu suku bunga tetap dan satu suku bunga mengambang berbasis Indonesia Overnight Index Average (INDONIA).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Bunga Bisa Berubah
Menurut Kepala Grup Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) BI, Fitra Jusdiman, tujuan utama dari penerbitan BI-FRN adalah untuk mendukung pengembangan pasar OIS. Sebagai contoh, jika BI-FRN diterbitkan dengan tenor 12 bulan, maka kupon atau imbal hasilnya akan dihitung di akhir periode tersebut. Misalnya, saat awal penerbitan, suku bunga INDONIA berada di level 4%, dan dalam lelang awal ditetapkan margin sebesar 50 basis poin (bps), maka kuponnya dapat diasumsikan sebesar 4,5%.
Namun, karena INDONIA bisa berubah setiap hari, tingkat imbal hasil akhir yang diterima investor tidak pasti. Jika suku bunga INDONIA menurun selama periode berjalan, maka imbal hasil yang diterima di akhir tenor bisa lebih rendah dari 4,5%. Sebaliknya, jika INDONIA meningkat, imbal hasilnya berpotensi lebih tinggi dari 4,5%.
Fitra menjelaskan bahwa karena adanya risiko fluktuasi suku bunga tersebut, pemegang BI-FRN cenderung melakukan hedging melalui instrumen OIS. Hal ini menjadi bagian dari inisiatif BI untuk memastikan agar pasar OIS berkembang, dengan menyediakan instrumen underlying yang dapat digunakan sebagai acuan.
Hedging: Mekanisme Lindung Nilai
Fitra menegaskan bahwa fluktuasi suku bunga ini menimbulkan risiko bunga (interest rate risk) bagi pemegang BI-FRN. Oleh karena itu, BI mendorong pelaku pasar untuk melakukan lindung nilai (hedging) menggunakan instrumen OIS. Melalui mekanisme ini, pasar diharapkan memiliki instrumen underlying yang dapat dijadikan acuan untuk transaksi OIS, sehingga pasar derivatif suku bunga tersebut dapat berkembang lebih pesat.
Fitra menambahkan bahwa BI-FRN merupakan instrumen berbasis rupiah dengan bunga mengambang yang hasil akhirnya baru diketahui saat jatuh tempo. Hal ini berbeda dengan instrumen konvensional lainnya yang tingkat kupon atau diskontonya sudah diketahui sejak awal. Karena karakteristiknya yang demikian, keberadaan instrumen lindung nilai seperti OIS menjadi penting untuk mengelola risiko fluktuasi suku bunga.
Penerbitan pada 17 November
BI berharap dengan adanya BI-FRN sebagai underlying asset, pasar OIS di Indonesia dapat tumbuh dan mendukung pengembangan pasar keuangan domestik secara lebih luas. Fitra menambahkan bahwa BI-FRN memiliki karakter yang sama dengan instrumen operasi moneter kontraksi lainnya, tetapi penerbitannya akan dilakukan secara terbatas, hanya untuk kebutuhan pengembangan pasar OIS agar dapat berfungsi secara optimal.
Penerbitan BI-FRN akan dilaksanakan pada 17 November 2025. “Mudah-mudahan tidak ada kendala, karena ini kita sudah siapkan semua. 17 November ya, insya Allah nanti kita akan terbitkan. Mudah-mudahan sesuai dengan rencana,” kata Fitra.